Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 24


__ADS_3

Waktu pun berjalan, Arvin menghubungi Sabian. Jika klien mereka telah tiba, menyambut kedatangannya dengan sangat baik.


" Silahkan Tuan, ini berkas yang telah kami perbaharui. Bisa anda baca terlebih dahulu." Kenzie, orang kepercayaan dari Osmond Owen menyerahkan berkas mereka kepada Sabian.


Menerima berkas tersebut, membacanya dengan teliti. Tiba-tiba saja kening Sabian berkerut, membolak balik setiap lembaran dari berkas tersebut.


" Kenapa anda merubah kesepakatan kita sebelumnya?" Sabian begitu kaget melihat isi berkas yang ia terima.


Isi dari berkas tersebut telah banyak berubah, perubahan itu terjadi setelah pihak dari klien menelaah setiap kalimat yang tertulis didalam berkas tersebut. Terdapat beberapa kesepakatan yang tidak sesuai dengan keinginan kliennya.


" Menurut kami, kesepatakan yang anda berikan tidak sesuai dengan keinginan kami. Merombak sedikit, tidak masalah bukan." Kenzie dengan tenangnya menjawab pertanyaan dari Sabian.


" Tapi ini, sudah sangat jauh dari apa yang kami tawarkan." Nada suara Sabian yang tiba-tiba saja meninggi.


Osmond dan Kenzie hanya tersenyum sinis, mereka memang sengaja merubah beberapa bagian dalam berkas persyaratan kerjasama. Karena terkenal dengan sangat kejam dan tidak pernah saling memandang, dalam setiap kerjasama yang ada.


Sabian mengusap wajahnya dengan begitu kasar, seperti seseorang yang sedang frustasi dengan sesuatu keinginannya. Arvin melihat jika wajah bosnya saat itu, benar-benar sedang menahan emosinya.


" Permisi."


Suara Zea yang saat itu terdengar, membuat fokus mereka menjadi teralihkan. Ia memasuki ruangan Sabian, dikarenakan untuk menghantarkan minuman untuk para klien. Karyawan yang saat itu bertugas membawakannya, sedang mendapat tugas lainnya pada devisi yang lain. Karena Zea ruangannya sama dengan bos mereka, maka tugas itu ia yang membantunya.


" Silahkan, tuan-tuan." Gelas minuman dan sedikit makanan ringan telah ia letakkan diatas meja dan mempersilahkan mereka untuk menikmatinya.

__ADS_1


Disaat melihat Zea, manik mata Osmond menangkap sesuatu yang dikenakan oleh Zea. Kalung! Dengan sebuah cincin yang digunakan sebagai penghiasnya, hal itu membuat Osmond begitu sangat terkejut.


" Tunggu!"


Dengan membalikan tubuhnya, Osmond berjalan mendekati Zea yang saat itu akan keluar. Mendapati kliennya sedang mendekati istrinya, membuat Sabian segera menyusulnya.


" Mmm, ada apa tuan? Apa, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Zea yang saat itu diminta untuk berhenti.


" ... " Osmond hanya terdiam dihadapan Zea, ia hanya menatap kalung tersebut dengan sangat tajam.


" Ada apa?" Sabian bertanya kepada Zea,ia berhenti tepat dihadapan Zea untuk menghalangi pandangan Osmond yang lalu kemudian dijawab dengan menggerakkan bahu dari Zea.


" Tuan! Ada apa?" Kenzie yang juga ikut mendampingi bosnya, kaget dengan perubahan sikap bosnya itu secara tiba-tiba.


" Maaf tuan, untuk masalah pembahasan selanjutnya. Akan kita bicarakan lagi, permisi."


" Hem."


Setelah kepergian dari kliennya tersebut, Sabian mengarahkan agar Arvin keluar dari ruangannya.


" Dasar bos tidak berperikemanusian, minum saja belum. Sudah main usir-usir saja, mentang-mentang sudah baikan. Coba saja belum baikan, hancur-hancur hatiku." Mulut Arvin tak henti-hentinya mengedumel dan mengumpat bosnya.


Dilain sisi, Sabian membawa Zea kembali ke rooftoop kantornya. Mengajak sang istri untuk membicarakan sesuatu hal yang cukup penting baginya, dengan pandangan yang melihat lukisan awan dan kedua telapak tangan didalam saku celananya.

__ADS_1


" Kenapa klienku menatapmu seperti itu? Apa sebelumnya kalian sudah saling mengenal?"


" Em, aku juga tidak tau kenapa tuan tersebut melihatku seperti itu. Wajahnya teramat asing didalam ingatanku." Jelas Zea kepada Sabian.


" Coba di ingat-ingat lagi, siapa tau kalian pernah berjumpa. Hayolah!" Nada bicara Sabian meninggi, tampak sekali jika ia sedang diliputi rasa cemburu.


" Di ingat-ingat gimana! Aku benar-benar tidak pernah melihat dia sebelumnya, kenapa anda jadinya memaksa." Melipat keduat tangannya ke arah depan, wajah Zea berlipat dengan perasaan kesalnya pada Sabian.


Terdengar suara gesekan dari gigi Sabian, rasa kesal, cemburu dan marah didalam dirinya sudah berbaur menjadi satu. Bagiamana bisa ia menjadi cemburu dengan Zea, yang sebelumnya saja tidak pernah ia inginkan kehadirannya.


Melihat Zea yang menampakkan wajah kesalnya, membuat Sabian menjadi salah tingkah. Lalu ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan begitu kasarnya, menghembuskan nafas yang kuat. Ia segera menghampiri Zea, memeluknya dengan begitu erat.


" Maaf, maafkan aku. Aku sangat cemburu dengan pria itu, yang berani-beraninya melihatmu seperti itu. Maaf." Tangannya mengusap kepala Zea dari arah belakang.


" Sudahlah, tidak perlu dibahas. Lebih baik bekerja, daripada membuang waktu disini." Dengan menggerakkan tubuhnya, berharap tangan Sabian bisa terlepas dari tubuhnya.


" Diam! Biarkan dulu seperti ini." Merasakan kenyamanan dan ketenangan disaat memeluk tubuh istrinya, membuat Sabian terlena denganya.


Mau tidak mau, akhirnya Zea hanya bisa memasrahkan diri dalam pelukan suaminya, memberontak pun akan percuma saja.


" SABIAN!!!"


Terdengar suara teriakan yang begitu kerasnya, membuat kedua insan tersebut menjadi kaget dan pandangan mereka menjadi teralihkan pada sumber suara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2