
Setelah mendengar semua penjelasan dari Arvin, membuat Zea kembali merasakan rasa sakit dalam perjalanan hidupnya. Hanya airmata yang bisa menjawab dari semuanya, tanpa sepatah katapun yang keluar dari dirinya.
" Tidak apa-apa kak, aku paham untuk hal itu. Terima kasih." Senyuman itu, masih terukir diwajahnya.
Nona, semoga Tuhan merangkulmu dan menjagamu dalam lindunganNya. Bibik yakin, nona Zea akan mendapatkan hasil terbaik dari setiap perjuangan hidup yang sudah nona terima. Maryam.
" Sementara ini, lebih baik kalian tidak saling bertemu ataupun berbicara. Dan untuk selanjutnya, nanti kita pikirkan lagi."
Zea menganggukkan kepalanya, seakan mengerti dan mengikuti arahan yang Arvin berikan kepadanya. Tangannya mengusap perut dengan perlahan, tidak ingin memperkeruh keadaan. Dari awal saja kehadirannya sudah tidak di inginkan, dan saat ini. Zea tengah mengandung buah hatinya, hasil dari pertemuan yang juga tidak mereka inginkan.
" Boleh aku meminta satu permohonan pada kalian?" Zea menatap Maryam dan Arvin secara bergantian.
Orang yang menjadi tujuan Zea untuk bertanya pun menjadi heran, bahkan kening Arvin menjadi berkerut mengalahkan umurnya.
" Tolong rahasiakan anak ini. Biarkan waktu yang akan memberikan jawaban, kapan Ayahnya akan mengetahui keberadaannya."
Perkataan Zea cukup menegangkan, apalagi ini mencakup satu nyawa yang harus ia jaga yang belum terlahirkan ke dunia. Arvin memahami keinginan dari Zea untuk anaknya, mungkin inilah jalan yang terbaik untuk Zea.
Hingga beberapa hari kemudian, setelah kepulangannya dari rumah sakit. Zea mulai membereskan barang-barang pribadinya sedikit demi sedikit untuk ia bawa, dibantu oleh Sinta dan Titik yang sedang dilanda kesedihan.
" Nona Zea, nanti disana. Siapa yang jagain,nanti non nggak ada yang nemenin. Disini saja ya." Dengan wajah yang begitu memelas, Sinta berharap Zea tidak akan pergi.
" Iya non, disini saja. Rumah ini sudah ramai dengan kehadiran non Zea, kalau non pergi, sepi lagi dah. " Titik menimpali perkataan Sinta, mereka berdua berusaha meracuni pikiram Zea agar tidak pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Dengan perlahan, dan teliti. Zea memasukan satu persatu, barang-barang pribadinya kedalam satu koper yang telah ia persiapkan sebelumnya. Zea menjadi senyum-senyum sendiri, melihat dan mendengar kedua temannya yang berusaha menahan dirinya. Setelah selesai, Zea pun menghampiri keduanya.
" Jangan bersedih, suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi kok. Titip bu Maryam ya." Pelukan hangat, Zea berikan kepada keduanya. Tanggisan pun akhirnya tumpah ruah, Maryam yang menahan airmatanya agar tidak keluar. Akhirnya menjadi lebih deras dari yang ia bayangkan, mereka pun saling memberikan kekuatan satu sama lain.
Untuk melepas rasa sedih yang ia rasakan, tapi jauh dari hatinya yang paling terdalam. Zea tidak ingin hal tersebut terjadi, namun semuanya hanyalah menjadi rahasia Sang Pemilik nyawanya.
" Sudah siap?"
Suara berat yang berasal dari Arvin, mengagetkan mereka semua. Dan mereka pun segera saling menghapus airmatanya sendiri-sendiri, Arvin mengambil alih untuk membawa barang-barang milik Zea kedalam mobil. Disaat mereka akan pergi, ada sebuah mobil yang memasuki perkarangan rumah tersebut. Yang ternyata adalah milik Sabian.
Memberikan kode menggunakan bahasa wajahnya kepada Zea, Arvin berharap tidak akan terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan.
" Mau kemana? Kenapa tidak menjemputku, hah!" Sabian mencerca Arvin dengan ucapannya, disaat ia telah keluar dari mobilnya.
" Tunggu!" Vania yang baru saja keluar dari mobil, mendekati dua pria yang sedang berbicara.
" Honey." Sabian merangkul pinggang Vania dan mencium puncak rambut kepalanya dengan begitu lembut.
Kenapa aku begitu mual, melihat kedua manusia ini seperti itu. Arvin.
" Siapa dia? Kenapa ada disini?" Vania memancing keadaan.
" Dia adik saya, tuan, nona. Saya permisi." Untuk menjaga perasaan Zea, yang pada saat itu pasti merasa ketidaknyamanan. Arvin bermaksud untuk undur diri dari hadapan keduanya.
__ADS_1
" Hei, berhenti!" Tiba-tiba saja, Sabian menatap wajah Zea dengan begitu tajam dan zea pun langsung menundukkan wajahnya agar tidak bertatapan dengan Sabian.
" Iya tuan." Kaki Arvin yang mengiringi langkah Zea terhentikan.
" Sepertinya, aku pernah melihat wajahnya." Salah satu alis mata Sabian menjadi naik keatas.
" Maaf tuan, adik saya sedang terburu-buru. Jam penerbangannya akan terlambat jika tidak segera berangkat." Tubuh Arvin menjadi tameng, agar Zea tidak berhadapan dengan Sabian.
" Love, kenapa kamu menahan mereka. Biarkan saja mereka pergi!" Dengan nada yang begitu sinis, Vania menjadi merasa tersaingi.
" Baiklah, silahkan." Menarik tubuhnya untuk bergeser, memberikan jalan untuk Arvin dan adiknya pergi.
Namun, disaat Arvin telah hilang dari pandangannya. Sabian merasakan ada sesuatu yang membuatnya merasa tertarik dengan seseorang yang ia ketahui sebagai adik dari sekretarisnya.
Kenapa hatiku seperti berdebar-debar, saat bertatapan dengan wanita itu? Apa aku mengenalinya? Tapi, jika aku dan dia saling mengenal. Mengapa aku tidak mengingatnya dan dia pun tidak menyapaku? Aneh. Sabian.
Lamunan itu kembali buyar, tatkala Vania menegurnya dan mergelayut manja pada lengan Sabian. Mereka berduapun akhirnya memasuki rumah tersebut, terjadilah grasak grusuk pada bagian maidnya. Dapur pun dipenuhi dengan suara-suara sumbang orang bergosip, siapa lagi kalau bukan Sinta dan Titik.
" Sin, parah banget tu cewek. Otaknya rasa konslet apa ya."
" Tau ah, gedek amat gue liat wajahnya dirumah ini lagi. Oh nona Zea, semoga dirimu baik-baik saja dan juga semoga tuan Sabian secepatnya diberikan kesembuhan. Aamiin." Titik bergaya seperti orang yang sedang berdoa, mengatupkan kedua telapak tangannya didepan dada.
" Kerja, kerja, kerja. Nanti tuan marah, kalau kalian ketahuan bergosip." Maryam memergoki keduanya sedang asik bergosip.
__ADS_1