
Ketakutan begitu besar dirasakan oleh Vita, bagaimana tidak. Anaknya menderita amnesia disaat hubungan rumah tangga mereka sedang dalam masa saling memperbaiki dan menerima satu sama lain, namun hal itu kini terancam pupus. Hanya Vania-lah yang ada didalam pikiran Sabian, tidak ada Zea.
" Pa, bagaimana ini?" Vita menanyakan kecemasan dirinya akan hubungan anak dan menantunya.
" Kita fokus terlebih dahulu pada Sabian, ma." Kepala Reza begitu terasa sangat pusing, memikirkan atas kejadian yang menimpa keluarganya.
Kedua orang tersebut memandangi anaknya yang sedang terbaring diatas tempat tidur rumah sakit, di luar dugaan. Ketika Sabian bangun dari tidurnya, kembali ia menanyakan keberadaan Vania. Sebagai orangtua, Reza dan Vita begitu bingung. Sampai akhirnya, orang yang selalu Sabian cari itu muncul dengam sendirinya dihadapan mereka.
" Vania! " Tidak memikirkan keadaan dirinya, Sabian segera menghampiri Vania, yang masih berdiri kaku didepan pintu.
" Kamu kemana saja? Aku mengkhawatirkanmu." Wanita itu langsung menerima pelukan dari Sabian dengan begitu erat.
Dengan beruraian airmata, Vania hanya menatap Sabian dalam diam. Hal itu membuat pria tersebut menjadi bingung, merekapum saling bertatapan.
" Kenapa?"
__ADS_1
" Aku ingin kita berpisah, a aku su dah tidak sanggup menjalaninya semua."
" Apa? Apa yang kamu katakan, Vania? Sampai kapanpun aku tidak mau berpisah dari kamu. Tunggu! Jangan bilang, kalau kamu mendapatkan ancaman untuk menjauhiku." Menunggu jawaban tersebut, Sabian berharap apa yang ia katakan itu tidak terjadi.
Lalu, dengan mudahnya Vania menganggukkan kepalanya. Dan hal tersebut, membuat darah Sabian seakan-akan mendidih. Tangannya dengan begitu keras mengepal, menunjukkan jika dirinya saat itu sedang emosi. Bertepatan dengan kejadian tersebut, Arvin yang baru saja tiba mendengar dan melihat semua adegan demi adegan yang menurutnya sangat memalukan.
" Jika kalian terus berusaha memisahkanku dari Vania, maka detik itu juga aku bukan siapa-siapa kalian lagi!! Tinggalkan ruangan ini! Pergi!!" Nada suara Sabian begitu tinggi, membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa sesak.
Mendengar ucapan yang begitu menyakiti, sebagai orangtuanya. Vita dan Reza sudah begitu muak dengan kelakuan anaknya, apalagi setelah melihat wanita yang selama ini sudah meracuni pikirannya. Berjalan dengan begitu cepatnya, dan...
Plak!!
Plak!!
" Apa kamu bilang tadi, hah?! Dasar manusia tidak tau tata krama dan sopan santun, sebagai orangtua. Kami tidak pernah mengajarimu seperti ini, Sabian Parves!! Mama sangat kecewa mempunyai anak seperti kamu. Dan kau, dasar wanita jadi-jadian. Jangan kalian pikir, kami tidak tau apa yang kalian lakukan. Sungguh memalukan. Jika kamu berpikir kalau kami ingin memisahkan kalian berdua, itu salah besar. Karena otakmu itu sudah dicuci sama wanita aneh ini. Dan satu lagi Sabian, suatu saat kamu akan menyesali semua!"
__ADS_1
Tamparan itu Vita berikan untuk kedua manusia yang sedang dilanda asmara, dirinya begitu geram dengan kelakuan anaknya dan wanita tersebut.
" Ayo pa, mama semakin risih jika melihat mereka. Jika dia masih menganggap kita sebagai orangtua, dia akan menggunakan otaknya untuk lebih banyak berpikir daripada matanya yang hanya melihat." Vita bergegas meninggalkan ruang perawatan tersebut dengan mata yang berkaca-kaca.
Mengikuti jejak langkah istrinya, Reza hanya memperlihatkan ekpresi wajah datarnya kepada sang anak. Berulang kali perilaku anaknya, telah membuatnya merasa menjadi orangtua yang gagal. Gerakan menarik nafas, lalu menghembuskannya. Berhenti sebentar dihadapan keduanya, menatap wajah Sabian dengam begitu lekatnya. Hanya beberapa detik, menundukkan kepalanya dan berlalu.
Cinta itu memang indah, jauh dimata dekat dihati. Karena cinta juga, manusia bisa merasakan warna dalan kehidupannya. Tapi, yang namanya cinta itu suatu saat bisa juga menjadi senjata yang bisa menghancurkan kehidupan, jika mereka tidak bisa memaknai arti cinta yang sesungguhnya. Makan tu cinta si bunglon, nanti juga lu akan nyungsep, bos. Arvin.
Flashback off
💐💐💐
Mohon maaf untuk ketidaknyamanannya dalam membaca, terima kasih atas tanggapan yang ada atas cerita ini. Jika alurnya ataupun jalan cerita tidak sesuai dengan apa yang kalian inginkan, outhor mohon maaf. Ini hanyalah karya imajinasi dari outhor sendiri, mohon bijaklah dalam meninggalkan pesan dan kesan. Silahkan di-skip atau langsung out saja dari ceritanya, jika kurang berkenan untuk membacanya.
Terima kasih 🙏
__ADS_1