Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 46


__ADS_3

Menghindari dirinya dari rasa amarah yang luar biasa, Sabian pergi menuju suatu tempat yang membuat dirinya merasa tenang.


" Zea, kamu tega sama aku. Apa kamu ingin balas dendam padaku, sampai dirimu hamil dengan pria lain! Akh!!" Sabian memukul kemudi mobilnya dengan begitu keras.


Menanggis? Ya, Sabian menanggisi dirinya sendiri. Ingin menyesali semua perbuatannya selama ini, namun itu tidak akan berguna disaat yang seperti ini. Cukup lama ia berdiam diri didalam mobil, pada akhirnya membawa dirinya larut kedalam mimpi.


☁️☁️☁️


Berjalan dengan perlahan di akhir pekan, menikmati keindahan dan segarnya udara dipagi hari. Sabian merasa dirinya begitu bahagia, taman kota itu akan selalu ramai dengan berbagai macam orang-orang dari berbagai usia.


" Ayah, ayo kita bermain."


Seorang anak kecil menarik-narik baju Sabian, hal itu membuat dirinya kaget. Bagaimana bisa anak tersebut memanggil dirinya dengan sebutan 'Ayah'.


" Maaf nak, aku bukanlah Ayahmu. Kamu pasti salah orang." Sabian berbicara dengan mencoba melepaskan tangan anak tersebut dari bajunya.


" Hem, tidak Ayah. Kamu itu adalah Ayahku, Bunda sendiri yang bilang." Anak kecil itu terus merenggek pada Sabian.


" Kamu pasti salah, baiklah. Paman akan menemani mencari orangtuamu, pasti mereka sangat khawatir."


" Ayah, kau begitu keras kepala. Benar sekali yang dikatakan oleh Bunda, Ayah itu orang yang tidak mau mengalah dan egois. Huh!" Anak laki-laki itu melipat kedua tangannya kedepan.


Penjelasan dari anak tersebut, semakin membuat dirinya bingung. Disaat ia menatap wajah sang anak, detak jantung dirinya berpacu dengan sangat cepat.


" Ka kau." Tangannya meraih wajah anak laki-laki tersebut, seakan-akan Sabian melihat dirinya sendiri pada wajah itu.


Bagaimana bisa anak ini memiliki wajah yang begitu mirip denganku? Tidak mungkin jika dia anakku. Sabian.


" Bunda!" Anak tersebut memanggil seseorang dengan sebutan Bunda.


" Ayah, itu Bunda."

__ADS_1


Jemari kecil itu mengarahkan pada seseorang yang sedang tersenyum kepada mereka berdua, Sabian pun mengalihkan pandangannya.


" Zea!"


Keterkejutan itu semakin membuat Sabian tercengang, pikirannya pun menjadi kalut. Mendapati jika dirinya mempunyai anak bersama Zea, namun yang ia ketahui jika Zea sedang hamil. Tapi bukan dengan dirinya, melainkan dengan rivalnya sendiri.


Dan disaat Zea mendekati dirinya...


☁️☁️☁️


Ddrrttt..


Ddrrttt..


Ponsel milik Sabian berbunyi dan bergetar, hal itu membuat dirinya tersadar dari mimpinya.


" Hallo..." Suara berat yang menjadi ciri khas orang bangun tidur.


" Apa? Mama! Kenapa bisa pingsan?"


" Nggak usah banyak nanya, cepetan kerumah sakit *****. "


Tut tut tut...


" Mama." Mulut Sabian membeo, dengan cepat ia menghidupakan kembali mobilnya dan melaju menggunakan kecepatan yang sangat cepat.


Melewati berbagai kendaraan yang mengumpatnya, karena mobil yang Sabian gunakan menyalip kendaraan mereka dan sangat membahayakan pengguna jalan yang lainnya. Pikiran Sabian saat itu sudah dipenuhi dengan perasaan bersalah kepada mamanya, apalagi sebelumnya mereka terlibat dalam suatu pertengkaran yang cukup serius.


Keadaan dirumah sakit begitu sangat menegangkan, dokter yang menangani Vita belum menampakkan wajahnya. Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, namun terasa sangat lama bagi mereka yang sedang menunggu pasien.


" Pa, Vin! Bagaimana keadaan mama?" Dengan nafas yang tidak stabil, Sabian tiba dirumah sakit dan berlarian setelah turun dari mobil menuju ruang penanganan mamanya.

__ADS_1


Menjawab pertanyaan Sabian, Arvin hanya memberikan lirikan matanya yang menunjukkan jika pintu ruangan tersebut belum terbuka. Yang artinya, mereka juga sedang menunggu.


" Pa, mama kenapa sampai bisa pingsan?" Mendekati Reza yang duduk termenung, Sabian ikut menemaninya.


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Reza, tatapan matanya hanya tertuju menatap ruangan dihadapannya.


" Pa."


Klek


Pintu ruangan tindakan terbuka, terlihat seorang dokter yang keluar dari sana. Mereka yang sedang menunggu diluar, segera berlarian menghampiri dokter tersebut.


" Bagaimana keadaan mama saya dok?" Pertanyaan tersebut terlebih dahulu Sabian lontarkan.


" Keluarga pasien atas nama Garvita?"


" Benar dok, bagaimana keadaannya?"


" Lebih baik, kita bicarakan diruangan saya saja."


Reza dan Sabian berjalan mengikuti langlah laki dokter tersebut, sedangkan Arvin masih berada didepan ruang tindakan, menunggu proses pemindahan pasien menuju ruang perawatan.


Setelah berada diruang dokter, wajah kedua Ayah dan anak tersebut tampak begitu tegang.


" Pasien mengalami serangan jantung dan peningkatan tekanan pembuluh darah ke otak. Jika tidak segera kita tangani, resiko terburuknya adalah kematian."


" Maksud dokter, mama saya."


" Pasien saat ini mengalami koma, kita belum bisa memastikan keadaannya untuk lebih lanjut. Butuh waktu untuk melihatnya, berdoalah untuk itu semua. Hanya keajaibanlah yang bisa memberikan jalan terbaik."


" Terima kasih atas penjelasannya dok." Reza segera beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan dokter tersebut. Mengikuti sang papanya, Sabian pun keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Tanpa berbicara sedikitpun dan tidak membalikan tubuhnya, Reza meninggalkan Sabian jauh dibelakang menuju ruang perawatan sang istri.


__ADS_2