Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 65


__ADS_3

Pertemuan bisnis kini sedang berlangsung, Sabian begitu tidak menyangka jika ia harus berhadapan dengan seseorang yang sudah merampas semua hasil jerih payahnya selama ini.


" Vin, sebaiknya kita batalkan saja kerjasama ini. Aku sungguh muak melihat wajahnya, tidak tau malu." Tangan yang bersedekap didepan tubuhnya, memperlihatkan bahwa dirinya sangat membenci orang yang sedang berhadapan dengannya.


" Apa maksudmu membatalkan kerjasama ini? kontraknya saja sudah disetujui beberapa bulan yang lalu dan sekarang, kau seenaknya saja membatalkannya. Oh, aku baru ingat sekarang. Kalau kau saat ini bukanlah siapa-siapa, bahkan sudah menjadi gembel. " David mengucilkan Sabian, yang ia tau jika Sabian sudah bangkrut dan tidak mempunyai apa-apa.


" Terserah apa yang mau kau katakan, vin." Sabian memberikan kode melalui gerakan matanya untuk segera pergi.


" Tunggu tuan, apakah ada alasan tertentu. Sehingga anda ingin membatalkan kontrak kerjasama ini? Anda tau bukan, bahwa ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan." Clara menjalankan tugasnya sebagai sekretaris, dalam mendampingi bosnya.


" Kamu bisa tanyakan sendiri pada dia." Dengan menunjuk kliennya, Sabian tidak ingin berbicara terlalu banyak.


" Tapi tuan, bisakah anda memberikan kesempatan kepada perusahaan kami untuk memperbaikinya?"


Namun, Sabian sudah tidak mau berurusan lagi dengan orang yang sudah merusak hidupnya. Disaat mereka beranjak dari tempat pertemuan tersebut, dengan tenangnya seorang pria datang tanpa ekpresi diwajahnya.


" Aku akan bekerjasama dengan kalian!" Suara berat yang sangat Sabian kenali, dia adalah Osmond.


Mendapati klien barunya itu menyetujui kerjasama dengan perusahaan miliknya, David segera menyambutnya dengan hangat.

__ADS_1


" Ah tuan Osmond, keputusan anda sangat tepat sekali. Mari silahkan duduk, dan kau! Enyahlah dari sini." tersenyum sangat sinis, David mengusir Sabian secara halus.


Masa bodoh dengan apa yang dikatakan oleh David, Sabian dan Kevin tetap berjalan meninggalkan tempat itu, namun sebelum kepergiannya. Sabian tidak lupa untuk menyapa sang kakak iparnya, walaupun ia tidak mendapatkan respon apa-apa.


" Maaf, tidak bisa ikut bergabung tuan Osmond, permisi." Langkah kaki itu semakin menjauh dari hadapan mereka.


Kini, David dengan bangganya. Mulai memberikan ucapan-ucapan manis, yang bertujuan agar klien mereka mau bekerjasama. Berkas proposal itu diserahkan oleh Clara kepada Kenzie sebelum diserahkan kepada Osmond, dengan seksama dan teliti ia melihatnya.


" Proposal apa ini? Kalian ingin menipuku!"


Brak!!


" Kalian lihat sendiri, ayo kita pergi dari sini." Osmond memberikan tanda kepada Kenzie, supaya pergi dari sana.


Segala bentuk usaha yang David lakukan, agar klien besarnya ini tidak meninggalkan mereka begitu saja. Itu sama saja, kehancuran sudah didepan mata. Namun usaha itu tidak membuat seorang Osmond bergeming, perusahaan yang sebelumnya adalah milik Sabian itu sudah tidak mempunyai nilai lagi bagi mereka. Apalagi perpindahan saham di akibatkan oleh perilaku culas, sang mantan pacar sekaligus mantan istri yang begitu tamak atau Sabian yang sangat bodoh.


" Argh!!" David berteriak untuk melampiaskan kemarahannya.


Jika bukan karena uang, Clara sudah ingin keluar dari pekerjaan ini. Sungguh membuatnya harus bekerja ekstra, apalagi dihadapankan dengan bos yang terkenal sebagai cassanova.

__ADS_1


" Tuan, tuan tunggu!" Clara mengejar Osmond yang sudah berjalan menjauhi mereka, meninggalkan David sendirian yang masih sibuk dengan amarahnya.


Mendengar suara teriakan wanita, Kenzie menghentikan langkahnya. Melihat wanita tersebut berlarian menuju mereka, dengan nafas yang terputus-putus.


" Hosh, hosh. Tu tuan, tunggu." Clara mencoba menstabilkan pernafasannya.


Membalikkan tubuhnya dengan kedua telapak tangan berada di dalam saku celananya, Osmond menaikan satu alisnya saat melihat Clara.


" Ada apa nona?" Tegur Kenzie.


" Tu tuan, bisakah anda mempertimbangkan kembali proposal yang telah saya buat tadi? Karena itu adalah nyawa dan kehidupan saya."


" Kau siapa, beraninya memaksaku?" Kali ini Osmond sendiri yang menjawab.


" Aku? Clara, karyawan yang baru satu hari bekerja. Masa langsung di pecat, jadi tolong anda pertimbangkan lagi tuan proposalnya." Dengan memasang wajah memelasnya, Clara berusaha mempertahankan kehidupannya.


" Apa hubungannya denganku? Dasar tidak tau malu!"


" Malu diwajahku ini sudah terlalu tebal tuan, maka dari itu tolonglah aku dari kehilangan pekerjaan ini."

__ADS_1


" Bekerja untukku, jika kau dipecat!"


__ADS_2