
Kejadian yang baru saja mereka alami, benar-benar membuat Sabian dalam kebingungan dengan apa yang baru saja ia saksikan. Mencari keterangan dari beberapa orang yang bekerja dirumah tersebut, membuat perasaan khawatir akan keselamatan Zea semakin besar.
" Zea, maafkan aku." Kepalan tangan besar itu berbenturan pada dinding, Sabian meluapkan semua emosi yang ada pada dirinya.
" Jangan bodoh, lebih baik kita ikuti mereka!" Arvin menyeret tubuh Sabian bersama Ammar.
Dengan cepat, Arvin mengemudikan mobil yang digunakannya untuk mengikuti beberapa kendaraan milik bawahan Osmond.
......................
Menampuh jarak cukup jauh, kini orang yang membawa Zea telah tiba pada suatu bangunan lama. Terlihat sangat tidak terawat dan dipenuhi dengan semak belukar, bagi orang-orang awam bangunan tersebut tidak berpenghuni. Namun tidak bagi orang dari dunia bawah, mereka akan dengan mudah mengetahui jika bangunan tersebut menjadi tempat persembunyian dari kelompok tertentu.
Efek dari obat bius yang diberikan kepada Zea, mulai menghilang. Mata itu membuka secara perlahan dan menyesuaikan pencahayaan yang ada, dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat. Mulut ditutupi menggunakan lakban hitam, membuat Zea tidak bisa bergerak bebas.
Dimana ini, kenapa aku bisa sampai disini? Zea.
Mata Zea mengitari setiap sudut ruangan yang ada, karena minim cahaya. Jarak pandangan pun terbatas, berharap pertolongan segera datang.
Tak tak tak...
Derap suara kaki melangkah, semakin kuat dan mendekat. Perasaan Zea semakin takut akan kehadiran orang-orang yang ingin berbuat jahat pada dirinya, hatinya tak henti-hentinya berdoa dan Zea memilih untuk berpura-pura tidur.
" Jadi ini, wanita yang sangat berarti bagi seorang Osmond Owen. Leader dari dunia bawah, sangat ditakuti dan disegani oleh seluruh kelompok yang ada. Sangat cantik, tapi sayangnya sudah berbadan dua." Pria yang menjadi pemimpin kelompok Dusa, dia adalah Mateo Noland.
__ADS_1
Pria licik dan sangat licin dalam setiap gerakannya, membuat para lawan menjadi sedikit kewalahan akan perbuatannya.
" Aku ingin melihat, seberapa berartinya wanita ini bagi dirinya. Bermain-main kecil dengannya, tentu tidak apa-apa bukan. Hahaha, cepat kalian lakukan!" Mateo memberikan perintah kepada anggotanya, untuk memasukkan sesuatu kedalam tubuh Zea.
Sebuah botol kecil berwarna bening, dibawa oleh seseorang yang berjalan mendekati Zea. Mateo mengambil ponsel yang kini berada dalam genggaman tangannya, menekan kontak seseorang yang menjadi rivalnya. Melakukan panggilan video dan memperlihatkan aksinya untuk melihat reaksi dari rivalnya tersebut, senyuman penuh kemenangan terlihat jelas pada wajahnya.
" Hallo tuan Osmond yang terhormat, apakah anda mengenalinya? Cantik bukan. Hahaha."
Disaat dalam perjalanan pengejarannya, Osmond mendapat panggilan video dari nomor yang tidak ia ketahui. Ia langsung menerimanya, karena feelingnya mengatakan jika orang tersebut adalah kelompok lawan mereka.
" Baj***gan! Lepaskan adikku!!" Dengan suara yang begitu keras, Osmond memaki Mateo.
" Adik? Amazing! Aku mendapat kartu keberuntungan rupanya, adik dari seorang leader kini berada ditangan seorang Mateo Noland." Dengan tertawa menghina, usahanya kali ini sangat membuahkan hasil.
" Hahaha, silahkan saja tuan Osmond terhormat. Dengan senang hati, aku akan menunggu waktu itu. Tapi sayang, sepertinya aku sudah tak sabar untuk bermain dengan orang yang menjadi kesayangan leader dunia bawah. Lakukan!"
Perintah Mateo membuat Zea membuka matanya, betapa kaget dirinya mendapatkan kebenaran tentang jati diri dari sang kakak. Rasa penasarannya selama ini, terjawab sudah. Air mata mulai menetes dari sudut mata Zea, ingin rasanya dirinya memberontak dan melepaskan diri. Namun apa daya, ikatan tali pada kaki dan tangan begitu kuat. Berteriak pun ia tidak bisa, Zea benar-benar ketakutam dalam situasi ini.
Sreett...
"Akh!" Teriak Zea, saat lakban hitam yang menutupi mulutnya dibuka secara paksa.
" Mau apa kalian, lepaskan!" Teriak Zea dihadapan Mateo.
__ADS_1
" Zea!" Osmond memanggil melalui sambungan video yang masih berlangsung.
" Kakak, tolong kak."
" Sudah puas kangen-kangenannya, dan sekarang saatnya permainan akan berlangsung. Selamat menyaksikan tuan Osmond!"
" Aargh!!"
Mulut Zea kini dibuka secara paksa oleh seorang pria yang tak lain adalah anggota dusa, botol kecil yang berisikan cairan tersebut dibuka dan diarahkan pada mulut Zea.
" Jangan! Mateo, jangan!" Osmond begitu marah melihat mereka memperlakukan Zea seperti itu.
Zea menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menolak cairan tersebut untuk masuk dalam mulutnya. Namun tenaga pria itu melebihi kekuatan yang Zea miliki, hingga pada akhirnya. Cairan tersebut sudah berpindah tempat, masuk kedalam mulut Zea. Tangan besar itu menutup membekap dan memaksa Zea untuk menelannya, menutup kembali lakban hitam pada tempat semula. Tubuh Zea lemas tak bertenaga, terhempas jatuh ke lantai.
" Zea!! Zea!!" Panggilan video terputus.
Kecepatan laju mobil semakin cepat, titik lokasi mereka sudah ditemukan oleh Hanafi. Hacker terbaik yang dimilik oleh kelompoknya, memberitahukan lokasi dimana Zea disekap.
" Bagaimana nona manis, reaksi cairan itu akan segera terlihat. Bersabarlah." Senyuman sinis diberikan kepada Zea.
Menangis, hanya bisa menangis yang Zea lakukan. Tenggorokannya terasa seperti terbakar, perutnya seakan-akan tersayat dengan begitu tajamnya. Tubuh Zea pun meronta menahan rasa sakit yang ditimbulkan, semakin tak tertahankan.
Sakit! Ini sakit sekali, perutku. Tidak, aku mohon. Anakku, anakku. Zea.
__ADS_1