
Memanfaatkan amnesia yang diderita oleh Sabian, Vania semakin gencar melakukan aksinya. Kini, semua aset-aset berharga yang dimiliki oleh Sabian. Telah berubah nama atas kepemilikannya, dengan begitu bangganya Vania memamerkan hal tersebut kepada David.
" Coba kau lihat, sayang." Vania memberikan sebuah map yang cukup lumayan tebal kepada David, sang kekasih.
Pria tersebut menerimanya dengan santai begitu saja, membuka dan melihat isi dari map yang diberikan kepadanya. Dengan penuh senyuman kelicikan, David merasa sangat puas dengan apa yang ia rencanakan selama ini.
" Hebat, kau memang hebat sayang. Tidak sia-sia aku mempunyai kekasih sepertimu, bagaimana bisa kau melakukkannya dengan begitu cepat?
" Sayang, kau tau jika Sabian itu adalah manusia bodoh. Yang hidupnya sudah dibutakan oleh cinta, dia percaya begitu saja dengan apa yang aku ceritakan dan yang aku inginkan. " Dengan sangat penuh percaya dirinya, Vania menceritakan semuanya.kepada David.
" Hebat, kau memang wanita hebat sayang."
Dibalik senyumannya, David sudah merencanakan sesuatu yang sudah sangat lama ia tunggu.
......................
Ketika Sabian sedang merenung didalam ruang kerjanya, yang berada pada rumah mewah miliknya. Dengan bertopang dagu, swpintas bayangan seseorang wanita yang menghiasi hari-harinya dengan penuh warna. Namun, bayangan tersebut tidak begitu jelas dan bias. Semakin ia ingin memperjelas bayangan tersebut, maka rasa sakit itu semakin ia rasakan pada kepalanya.
" Akh!"
Kedua tangannya menggenggam erat kepalanya, bahkan tangan itu menjambak rambut yang ada. Membuka lemari kecil pada meja kerjanya dan mengambil botol kecil berisikan obat yang ia butuhkan. Dengan cepat ia meminumnya.
Ada apa dengan diriku? Sepertinya, aku mengalami sesuatu yang tidak aku ingat. Sabian.
Tanpa sengaja, mata elangnya menangkap salah satu figura yang tersimpan didalam lemari kecil tersebut. Wajah kaget, bingung, dan penasaran terhadap orang yang berada pada figura tersebut.
" Siapa wanita ini? Kenapa aku dan dia menggunakan pakaian pernikahan?"
__ADS_1
Pikiran Sabian kembali berkelana untuk mengingat-ingat kembali, disaat rasa sakit ia lawan dan bayangan wajah itu semakin menampakkan kejelasan.
Ddrrrtt...
Ddrrrtt...
Ponsel miliknya bergetar, bayangan itu pun memudar dan menghilang. Dengan nafas yang tersendat-sendat, ia berusaha menormalkan kembali keadaan dirinya.
" Hah, hah. A da apa?"
" Tuan! Apakah anda baik-baik saja?" Suara Arvin terdengar panik.
" Ka takan saja, aku tidak apa-apa."
" Saham kita mengalami penurunan drastis, tuan. Berbagai investos menarik diri dari perusahaan kita, dan diantara mereka ada yang menuntut untuk pengembalian modal. Bahkan, beberapa perusahaan telah terjual."
Bruk!!
Penglihatannya menjadi gelap dan pada akhirnya, Sabian hilang kesadarannya. Arvin yang mengetahui keadaan tuannya sedang tidak dalam keadaan baik, ia bergegas segera kesana dan tidak lupa ia menghubungi telfon rumah dan memberitahukan kepada para maidnya untuk melihat keadaan tuan mereka.
" Mar, segera kerumah sabian sekarang! Cepat!!"
" Wait! Ada apa?"
" Kepo sekali kau ini, bergegaslah! Sabian membutuhkanmu."
" Aish! Gue normal Vin, gila lu ngejodohin gue sama Sabian. Gesrek otaklu."
__ADS_1
" Woi lemes, maksud gue itu Sabian lagi butuh keahlian lu sebagai dokter, o'on. Cepatan!"
Klek!
" Dasar manusia baperan, amit-amit la kalau sampai ia jadian sama laki-laki. Ih..." Arvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, setelah menelfon para maid yang berada dirumah bosnya. Ia menelfon dokter pribadi sekaligus sahabat mereka, Ammar.
Sedangkan Ammar, yang tertawa geli setelah mempermainkan Arvin dengan kekocakkannya. Ia pun bergegas berangkat menuju rumah sahabatnya itu, walaupun ia belum mengetahui keadaan Sabian yang sebenarnya. Bahkan di saat ia mengalami kecelakan pun, Ammar tidak mengetahuinya.
" Ada apa dengan tu anak, tumben-tumbennan dia sakit."
Semua peralatan yang ia perlukan sudah berada didalam sebuah tas hitan, Ammar meraihnya dan beranjak meninggalkan ruang praktek kerjanya.
Dilain tempat, Zea saat itu sedang melihat-lihat taman bunga mawar yang sedang bermekaran. Tanpa sengaja, tangannya yang sedang memegang setangkai bunga mawar tertusuk duri.
" Akh!"
Zea menarik tangannya dengan cepat, dan Lisa langsung yang berdiri tak jauh dari sana. Langaung menghampiri Zea dengan wajah penuh kekagetan setelah mendengar suara teriakan Zea.
" Nona! Anda tidak apa-apa?"
" Hem, tidak apa-apa bu. Hanya tertusuk duri saja." Zea menghisap jarinya yang mengeluarkan darah, agar bisa segera berhenti.
" Lebih baik kita obati didalam saja, nona. Jangan sampai lukanya menjadi infeksi, nanti tuan Osmond akan sangat khawatir."
" Iya bu."
Mereka berdua berjalan menuju ruang keluarga, Lisa dengan cepat mengambil kotak kesehatan untuk mengobati luka sang nona.
__ADS_1
Kenapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini? Ya Tuhan, semoga saja tidak ada kejadian yang buruk menimpa orang-orang yang aku sayangi. Zea.