
Tatapan yang penuh harapan, melihat orang yang sudah sangat lama ia cari. Disaat ia menemukannya, baru sebentar merasakan kebahagian. Kini, kebahagian itu menghilang.
Zea, maafkan kakak. Kau harus bertahan, kakak akan melakukan segalanya agar kau bisa sembuh. Jangan tinggalkan kakak lagi, Zea. Osmond.
" Tuan." Hanafi hadir membawakan beberapa keperluan yang dibutuhkan olrh tuannya.
" Taruh saja disana." Masih menatap pembaringan sang adik, Osmond seakan-akan engan untuk beranjak sejenak dari posisinya saat itu.
" Lebih baik, anda membersihkan diri dulu tuan. Biar saya yang akan menjaga nona Zea."
Pakaian yang digunakan oleh tuannya saat itu, belum tergantikan sejak mereka melakukan aksi penyelamatan. Terlihat sangat lusih dan kotor, bahkan bercak darah kering pun masih melekat. Dengan mengusap wajahnya kasar, Osmond akhirnya mau untuk melakukan apa yang dikatan oleh Hanafi.
" Kau jaga Zea baik-baik, jika terjadi sesuatu. Nyawamu sebagai taruhannya!"
" Baik tuan, saya akan menjaga nona dengan nyawa saya."
Langkah kaki yang begitu malas, Osmond bergerak menuju kamar mandi yang ada diruangan tersebut. Setelah menutup pintu, akhirnya Hanafi bisa benafas lega.
Hampir saja, nyawaku hanya satu tuan. Tega sekali menjadikannya sebagai taruhan, nona Zea. Cepatlah sadar dan pulih, tuan akan berubah menjadi monster jika dirimu seperti ini. Hanafi.
__ADS_1
Penyesalan yang Osmond rasakan, sangat membuat hidupnya hancur berkeping-keping. Berharap bisa menjaga dan melindungi sang adik seumur hidupnya, namun saat ini harapan itu semua telah punah. Hingga beberapa saat, Osmond keluar dari kamar mandi dan tampak lebih segar. Lalu ia mendaratkan tubuhnya untuk bersantai sejenak, namun pandangannya tetap mengawasi sang adik.
" Tuan, anda bisa melihatnya." Menyerahkan tablet mini kepada tuannya, Hanafi menyiapkan beberapa file dan juga gambar yang digunakan untuk oleh para penjilat dari dunia bisnis pada perusahaan mereka.
Osmond menerimanya, mata dan jarinya mulai melaksakan tugasnya. Tampak jelas kerutan pada keningnya, tidak ada satu kata pun yang keluar dari seorang pemimpin tersukses tersebut. Dengan tenang, ia menghubungi Kenzie.
" Hallo tuan."
" Kau siapkan semuanya, aku akan memberika sedikit pertunjukkan untuk mereka."
" Akan saya laksanakan, tuan."
Menyimpan kembali ponsel yang sudah ia gunakan dibalik saku jasnya, mata itu terus menatap wanita yang begitu ia sayangi.
Terdengar suara kerusuhan dari luar, membuat Osmond mengalihkan pendengaran dan pandangannya.
" Ada apa?"
__ADS_1
" Saya akan melihatnya, tuan." Hanafi segera beranjak menuju pintu dan keluar.
Berjalan mendekati sang adik dalam tidur lamanya, Osmond mengenggam tangan Zea secara perlahan. Menatap wajah yang selalu ceria dan menghadapi sulitnya kehidupan dengan senyuman, kini wajah itu sedang terlelap. Seakan mengatakan jika dirinya sedang lelah untuk selalu tegar.
" Kakak yakin, Zea adalah wanita terhebat yang kakak punya. Jangan terlalu lama tidurnya, kakak ingin menebus semua kesalahan ini padamu."
Berusaha untuk menahan air mata yang sedari tadi ingin menetes, Osmond beranjak dari sisi Zea untuk melihat kegaduhan yang terjadi diluar ruangan.
" Lepaskan! Aku mau masuk, aku ingin menemui istriku! Lepas!"
Kegaduhan terjadi, ternyata adalah ulah dari Sabian. Ia mendapatkan larangan untuk memasuki kamar perawatan Zea, tentunya semua itu adalah perintah dari sang kakak. Namun Sabian terus berusaha menerobos para penjaga yang berdiri diluar, hingga Hanafi keluar dari sana dan menghadapi dirinya.
" Anda tidak bisa menemui nona Zea, jika anda masih ingin masuk kedalam. Silahkan anda berurusan dengan tuan Osmond."
" Apa-apaan ini, aku adalah suaminya. Kenapa kalian melarangku untuk menemui istriku sendiri, dasar kalian ba****gan! Lepas!" Sabian mengamuk, meneriaki mereka yang sudah melarang dan menahan dirinya.
" Jika anda tidak bisa berkerjasama dengan baik, dengan terpaksa..."
" Terpaksa apa, hah?! Kalian sungguh be***bah!" Sabian semakin tersulut emosi dengan kejadian tersebut.
__ADS_1
Terus memaki dan berteriak, Sabian sudah kehilangan akak sehatnya.