Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 39


__ADS_3

Keadaan rumah terlihat tegang, Maryam dengan rasa kekhawatirannya berdiri didepan pintu kamar tuannya. Dirinya tak henti-hentinya berdoa, agar tuannya tersebut baik-baik saja. Dengan kedatangan Arvin, membuat para maid menjadi tenang.


" Bagaimana keadaan Sabian, bik?" Dengan nafas yang memburu, Arvin menanyakan situasi yang ada.


" Ada didalam tuan, tadi para penjaga yang membawanya."


" Hem, baiklah. " Arvin beranjak berjalan memasuki kamar tersebut.


Saat berada didalam kamar, terlihat jelas wajah pria yang selama ini selalu bersikap arogan dan egois. Kini, terbaring tak berdaya.


Tok!


Tok!


Tok!


" Permisi tuan, dokter Ammar telah tiba." Seorang maid memberitahukan kedatangan tersebut kepada Arvin.


Arvin hanya menganggukkan kepalanya, lalu muncullah Seorang pria dari balik pintu. Dia adalah Ammar, teman, sahabat dan dokter pribadi Sabian.


" Kenapa tu anak?" Ammar menanyakan kepada Arvin.


" Apa gunanya kau sebagai dokter, jika masih bertanya. Dasar dokter abal-abal kau ini, cepat periksa." Arvin begitu geram dengan tingkah laku sahabatnya itu, jika tidak pikir panjang, pasti sudah kena tendang.


Memutar bola matanya dengan malas, Ammar mulai memeriksa tubuh Sabian dengan rincinya.


" Huh! Kalian ini, kenapa tidak bilang jika dia pernah mengalami kecelakan." Melepas peralatan yang ia gunakan, Ammar mengomeli Arvin.

__ADS_1


" Dasar kau saja yang tidak pernah mau tau dengan keadaan kami, sok sibuk. Bagaimana keadaannya? Mengomel terus dari tadi."


" Dasar se**tan, bos sama bawahan sama gilanya. Sabian mengalami trauma pada otaknya akibat dari benturan yang cukup kuat. Sepertinya, dia memaksakan diri untuk menggunakan otaknya. Ada sebuah tekanan yang dia alami, kita harus mencari penyebabnya. Apa dia mengalami amnesia?"


" Wah, kau ternyata hebat juga ya. Bisa tau apa yang dialami oleh Sabian, jangan-jangan kau mempunyai bakat menjadi paranormal selain dokter."


Plak!


Arvin meringgis setelah mendapatkan pukulan yang cukup keras dari Ammar dibahunya, mereka selalu saja seperti itu jika bertemu.


" Apa tante dan om Reza tau hal ini?"


" Tidak, mereka tidak mengetahui jika Sabian seperti ini. Tunggu!"


Mendapatkan pergerakan dari tangan Sabian, Arvin segera menghampirinya. Dengan perlahan, Ammar mengamati kondisi dari sahabatnya itu.


" Ekh! Kepalaku terasa pusing sekali, ada apa denganku? Kenapa kalian berdua ada disini, seperti kurang kerjaan saja." Sabian menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur milikinya.


" Ish, tidak tau terima kasih." Dokter menggerutu atas sikap pasiennya yang membuatnya menjadi kesal.


" Dimana istriku? Jangan bilang kalau kalian menyembunyikannya dariku, kalian cari yang lain!"


" Istri??" Kedua pria tersebut melonggo, mulutnya melebar lalu Arvin dan Ammar membeo bersama.


" Iya istriku, Zea? Memangnya kenapa, ada yang salah? Minggir kalian."


Ketika Sabian akan hendak menurunkan kakinya dari tempat tidur, kedua pria tersebut langsung menghalanginya. Hal itu membuat Sabian menjadi bingung dengan sikap mereka.

__ADS_1


" Tunggu, kamu sudah ingat semuanya? Bukannya..." Kalimat Arvin terhentikan.


" Ingat semuanya?"


Mereka pun saling bertatapan satu sama lain, sirat wajah Sabian mengatakan untuk kejelasan dari apa yang terjadi.


" Lama kali kalian ini, lu itu habis kecelakan dan amnesia. Istri? Gue nggak tau, tanya tu sama anak se**tan lu sendiri." Ammar dengan tidak ada beban, menjawab apa yang Sabian inginkan.


" Vin?!" Tatapan tajam Sabian berikan kepada Arvin, dengan begitu malasnya ia menghembuskam nafasnya.


" Iya iya, gue jawab. Bos Sabian yang terhormat, elu sudah menikah. Kecelakaan yang lu alami membuat ingatan yang ada menjadi hilang, dan hanya mengingat kejadian sebelum terjadinya pernikahan. Tentunya, cinta lu begitu besar untuk si bunglon. Eh salah ngomong gue, sorry sorry."


" Arvin!"


Suara Sabian meninggi, Ammar hanya bisa menepuk jidatnya yang begitu lebar dengan ulah Arvin.


" Iya! Nggak sabaran sekali, kehidupan yang kamu alami itu kembali seperti saat masih memadu kasih dengan Vania. Bahkan Vania, kini sudah merajarela dengan kehidupan lu. Bahkan orangtuamu saja sudah angkat tangan dengan sikap yang lu, dan Zea. Dia sudah pergi, dan keberadaannya tidak ada yang mengetahuinya. "


" Pergi?"


" Iya, dia pergi saat mengetahui diri lu lebih memilih si wanita bunglon daripada dirinya. Dia melepas diri lu, biar lebih leluasa. Habisnya, si bunglon lu bawa sampai-sampai menginap dirumah lu yang notabennya ada istri lu. Parah."


" Ti tidak, tidak mungkin." Sabian menjadi semakin tertekan setelah mendengar penjelasan dari Arvin.


" Tapi lu harusnya bersyukur, Sabian. Ingatan lu dengan cepat bisa kembali pulih, sebelum tidak sadar. Apa lu ingat, ada sesuatu yang membuat lu tiba-tiba tidak sadar?"


Terligat jika Sabian berfikir dengan kerasa, mengingat-ingat hal apa yang ia alami. Hingga membutuhkan beberapa waktu, lalu dengan cepat ia berjalan menuju meja kerjanya dan mengobrak-abrik berkas-berkas yang ada.

__ADS_1


" Sial! "


__ADS_2