Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 67


__ADS_3

Pintu tersebut ia buka dan memperlihatkan seorang pria yang sudah lengkap dengan pakaiannya formalnya, Zea tersenyum melihatnya.


" Pagi sayang, maaf sudah membuatmu penasaran." Pria tersebut adalah Sabian.


Sebelumnya, Sabian bersikeras untuk membawa Zea pulang kerumahnya sendiri setelah keluar dari rumah sakit. Dengan perlahan, Zea memberikan penjelasan kepadanya dan akhirnya ia pun luluh.


" Tidak apa-apa, masuklah." Zea menyambut tangan Sabian dan membawanya untuk masuk kedalam rumah.


" Sudah sarapan? "


" Ehm, nanti saja dikantor. Biar Kevin yang menyiapkannya disana, kamu sendiri sudah?"


Ehm ehm ehm...


Suara yang cukup jelas terdengar ditelinga mereka, Osmond yang sedari tadi memperhatikan mereka dan merasa diabaikan oleh adiknya sendiri.


" Selamat pagi kakak ipar." Sapa Sabian dengan senyuman kecutnya.


" Mau apa kau datang kemari, dasar tidak tau etika." Ucapan itu Osmond lontarkan, karena merasa iri dengan kehangatan mereka berdua.

__ADS_1


" Kakak! Lebih baik kita sarapan bersama, ayo. Tidak baik untuk menolak rezeki yang datang." Zea menarik tangan Sabian dan membawanya menuju meja makan.


Ketika Sabian telah duduk, Zea melihat Osmond yang berjalan menjauhi mereka. Yang kemudian ia susul dan membawanya kembali untuk duduk bersama, menikmati sarapan yang sempat tertunda.


" Ayo sarapan, biar kerja semangat." Ungkap Zea mencairkan suasana yang terasa cukup menengangkan.


" Kakak sudah selesai, Zea." Dengan tekanan pada perkataannya, Osmond menolak untuk menikmati kembali makanannya.


" Selesai? Ini masih utuh kak, tidak baik menganggurkan makanan yang sudah tersedia." Zea memutari tempat duduknya, dan menghampiri sang kakak yang bawel.


" Aaaa' .." Dengan sedikit memaksa, Zea memberikan potongan roti itu kepada Osmond.


" Kalau bisa sendiri, dari tadi pasti audah habis kak sarapannya. Ayo, buka mulutnya." Zea sengaja membuat perangai, agar kakaknya yang keras seperti batu itu sedikit luluh.


" Benar kakak ipar, tidak baik menganggurkan makanan. Apalagi diberikan oleh wanita cantik seperti istriku ini, benarkan sayang." Sabian pun tak ingin kalah, ia mengikuti permaianan dari sang istri.


" Benar sekali, ayo buka mulutnya." Senyuman manis Zea berikan kepada Osmond, sebagai tanda ketulusan dari seorang adik.


Dengan sangat terpaksa, Osmond membuka mulutnya dan menerima suapan dari Zea. Harga gengsi yang begitu tinggi, membuat dirinya tidak mau menerima perhatian dari orang lain. Sampai habis makanan tersebut, Osmond masih tidak bergeming.

__ADS_1


" Kak, tidak ke kantor?" Tanya Zea, yang melihat kakaknya masih bersantai.


" Sayang, hari ini temani aku dikantor ya. Akan lebih bersemangat jika kamu bersamaku, itu akan membuatku menjadi lebih baik." Sabian menggenggam tangan Zea dan memberikan kecupan pada punggung tangannya.


" Tidak boleh!" Teriakan Osmond memecahkan gendang telinga.


" Zea tidak boleh ikut denganmu, lebih baik dia bersama denganku. Dan itu lebih menjamin keselamatannya, tidak seperti kau yang selalu membuatnya celaka."


" Zea itu masih istri sahku, aku berhak atas dirinya. Aku akui jika selalu menyebabkan dirinya celaka, bahkan kali ini aku akan menukar nyawaku untuk menjamin semuanya itu." Sabian meluapkan emosinya, ketika Osmond masih menghalangi hubungannya bersama Zea.


" Sudah-sudah, tidak baik sesama saudara bertengkar."


" Tidak, kami bukan saudara!" Teriak Sabian dan Osmond bersamaan.


" Wah, sudah kompak ni jawbanya." Zea tersenyum dengan ulah kedua pria yang sudah ia sayangi.


" Tidak!" Kembali lagi bersamaan, kedua pria itu akhirnya saling membuang muka.


" Hahaha, iya deh iya. Kalian berdua tidak kompak, hanya saja sehati." Semakin bersemangat jiwa Zea untuk menggoda mereka.

__ADS_1


__ADS_2