Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 75


__ADS_3

Memastikan keadaan Vita telah baik-baik saja, Sabian dan Zea berpamitan untuk pulang. Awalnya keinginan mereka itu di tolak oleh Vita, ia merasa masih ingin berbincang dan bersama dengan anak serta menantunya. Dengan memberikan penjelasan, Reza akhirnya bisa menenangkan sekaligus memahami jika istrinya itu masih ingin berlama-lama bersama keduanya.


Sesampainya mereka dirumah, Zea bergegas menyiapkan semua yang sudah ia rencanakan. Sabian pun tak lepas dari bagian rencana yang telah dibuat istrinya, setelah semuanya telah selesai. Kini mereka sedang menunggu tamu kehormatan yang telah dinantikan.


" Sayang, kamu yakin ini akan berhasil?" Tanya Sabian dengan melahap makanan penutup yang telah dibuat oleh istrinya.


" Kamu tenang saja Bee, kak Osmond itu hanya kejam diluarnya. Tapi hati penuh akan kasih sayang, percayalah."


" Tentu aku akan selalu percaya , sayang. Kamu tidak akan pernah mengecewakan, terima kasih sudah mempertahankanku." Kecupan manis diberikan Sabian kepada kening Zea.


Ketika mereka sedang asik dengan suasana seperti itu, salah satu tamu yang mereka undang telah tiba. Hanya saja, tamu itu tidak membuka suara untuk menyapa. Yang pada akhirnya, sorot mata Zea menangkapnya.


" Clara! Kenapa tidak menegur? Ayo masuk." Zea menjadi malu dengan keromantisan mereka yang terlihat oleh orang, ia melepaskan pelukan Sabian dan segera menghampiri tamunya.


" Selamat malam, Zea. Tidak apa-apa kok, aku juga baru saja tiba." Merasa kikuk dengan situasi yang ada, Clara menjadi salah tingkah setelah memergoki pasangan itu sedang bermesraan.


Zea membawa Clara menuju ruang utama dan menjamunya disana, mereka pun bercerita tentang kehidupannya masing-masing. Tak terasa, waktu semakin larut. Salah satu tamu utamanya belum menampakkan batang hidungnya disana, merasa tidak enak hati. Zea mempersilahkan Clara untuk menikmati hidangan ringan terlebih dahulu.


" Clara, aku tinggal sebentar ya."


" Hem, nggak apa-apa Zea. Silahkan." Clara pun merasa semakin tidak enak, dimana perutnya sudah memberikan alarm untuk segera di isi.

__ADS_1


Krrukk...


Krrukk...


Aduh, maluin banget ini. Tahan ya, kita makan yang kecil-kecil dulh saja. Padahal tadi sengaja nggak makan dulu, biar bisa makan enak. Huft, sepertinya harus banyak bersabar. Clara.


Pada ruangan lainnya, Zea sudah seperti orang yang kehilangan benda berharga. Ia pun menjadi uring-uringan.


" Bee, kak Osmond mana? Masih belum tiba?" Tanya Zea kepada suaminya.


" Sepertinya, kakakmu sedang menghindar sayang."


" Ya Tuhan, kak Osmond bener-bener deh. Mau dikasih jodoh, eh dianya menghindar kayak gini. Kan nggak enak sama Clara Bee, coba kamu tanya kak Kevin. Siapa tau dia bisa membujuknya." Pinta Zea, supaya Sabian bisa membantunya.


" Sayang, sepertinya kita harua memakai jalan pintas."


" Jalan pintas?"


Sabian memberitahukan rencana yang ia miliki kepada Zea, mereka berdua pun tersenyum akan hal itu. Rencana pun terlaksanakan dengan baik, kini hanya menunggu hasilnya. Zea dan Sabian kembali menemani Clara yang sendirian .


" Maaf Clara, sedikit lama."

__ADS_1


" Ti.."


Ciiittt...


Suara gesekan ban mobil yang begitu terdengar sangat jelas, suara langkah kaki semakin mendekat.


" Zea! Zea!"


Orang yang mempunyai nama tersebut, tertawa dengan penuh kemenangan, melihat si pemanggil namanya seperti orang kebingungan dan juga cemas.


" Jangan berteriak, suaramu sangat tidak enak di dengar kakak ipar." Dengan menahan tawanya, Sabian menyapa Osmond.


Tamu istimewa mereka adalah Osmond Owen, Zea mengikuti saran dari suaminya untuk membawa laki-laki yang begitu keras kepala.


" Apa kau bilang! Dimana Zea? Istrimu sedang diculik, kau masih sempat-sempatnya seperti ini!" Teriak Osmond memaki Sabian, yang terlihat begitu tenangnya.


" Apa, Zea diculik?"


💐💐💐


Benarkah Zea diculik?

__ADS_1


Pasti .... ☺


__ADS_2