
Menempati sebuah rumah kecil serta memiliki suasana yang begitu nyaman dan menyejukkan, membuat Zea merasakan ketenangan didalam batinnya. Walaupun jauh dari dalam hatinya, ia tidak meninginkan semuanya ini terjadi. Wanita mana yang tidak sedih disaat ia hamil, tidak ada sosok suami maupun keluarga disisinya. Memandangi kebun kecil yang berada didepan rumahnya, menjadi penghibur diri disaat sedang jenuh dengan aktivitas keseharian.
" Kita pasti bisa melaluinya, sayang. Bunda yakin, suatu saat nanti kita akan bisa meraih kebahagian seutuhnya." Melihat langit yang begitu cerah, terus mengelus perutnya yang mulai memberikan reaksi.
Rumah sederhana yang ia pilih, merupakan saran dan juga bantuan dari Arvin kepadanya. Sebagai bentuk perhatian seorang kakak terhadap adiknya, walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah. Ketulusan Arvin, membuat Zea menjadi seperti memiliki keluarga yang ia inginkan.
Saat Zea akan bertolak untuk memasuki rumahnya, terdengar suara kendaraan yang berhenti tepat didepan rumahnya.
" Permisi nona, Selamat pagi." Seorang pria dengan berpenampilan rapi, menyapa Zea.
" Pagi."
" Benar dengan nona Zea Owen?"
" Be nar, ada apa ya?" Zea merasa begitu bingung, padahal ia baru saja menempati rumah tersebut. Akan tetapi, sudah ada yang mengetahui namanya.
" Tuan saya, ingin menemui dan berbicara pada anda."
Hal tersebit, semakin membuat Zea kebingungan. Ada perasaan Was-was dalam dirinya, berjaga-jaga terhadap sesuatu yang tidak di inginkan. Seorang pria yang begitu tegap, keluar dari sisi penumpang pada mobil yang terparkir disana. Kening Zea nampak sangat berkerut.
" Zea Owen?" Tanya pria tersebut kepada Zea.
" E e. Be nar, anda siapa?"
" Bisa kita berbicara didalam?"
" Em, maaf. Saya tidak bisa menerima tamu laki-laki didalam, maaf. Jika berkenan, anda bisa bertamu diluar saja." Zea tidak ingin menimbulkan fitnah dari orang-orang terhadap dirinya.
" Baiklah, tidak masalah." Pria tersebut berjalan dan duduk pada tempat yang telah Zea beritahukan sebelumnya.
__ADS_1
Dengan perlahan, Zea ikut duduk bersama pria tersebut dan juga ada pria lainnya yang selalu berada disampingnya.
" Langsung saja, perkenalkan. Saya, Osmond Owen."
Seketika raut wajah Zea menjadi tegang dan juga terdiam, mendengar orang tersebut menyebutkan namanya. Seluruh pikirannya menjadi kosong dan terasa sesak untuk bernafas, namun ia berusaha bersikap setenang mungkin.
" Hem, iya tuan. Ada apa?" Mencoba menenangkan dirinya, dimana detak jantungnya begitu kencang.
Osmond memandangi Zea dengan begitu lekatnya, siapapun yang melihat hal tersebut akan salah menilainya. Seperti sepasang kekasih yang sedang berduan, anggap saja Kenzie adalah patung.
" Apa kamu tidak merasakan adanya kesamaan dengan nama kita? Osmond Owen, Zea Owen."
" Nama bisa saja menjadi sesuatu yang kebetulan, tuan. Atas dasar apa anda berkata demikian? "
" Kalung, kalung yang kau kenakan itulah yang menjadi penguatnya. Jika diantara kita mempunyai keterikatan, bahkan itu sangat erat." Sudut mata Osmond mengembun setelah mengatakan apa yang ia rasakan.
" Kalung yang kamu kenakan, ada sepasang cincin pria dan wanita yang menjadi hiasannya. Itu adalah milik dari kedua orangtua kita, dan ini. Satu bukti yang paling kuat untuk menjelaskan jika kita adalah saudara kandung." Menyerahkan sebuah amplop berwarna kepada Zea, dimana Osmond berharap jika adiknya dapat menerimanya kembali.
Menerima amplop tersebut, tangan Zea sedikit bergetar dan ragu untuk membukanya. Namun, perasaan ingin mengetahui kebenaran dari apa yang pria tersebut katakan. Mengumpulkan keberanian pada dirinya untuk membuka amplop tersebut, perlahan-lahan ia mulai membaca satu persatu kalimat yang berada dalam sebuah kertas dari sebuah rumah sakit.
Sebelum menemui Zea, Osmond meminta Kenzie untuk mencaritau semuanya yang bersangkutan tentang adiknya itu. Berbagai cara Kenzie lakukakan, untuk mendapatkan informasi dan bahan untuk melakukan tes DNA dari Zea.
" Ti tidak mungkin." Zea menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangannya, menatap kertas tersebut dan pada akhirnya airmata itu menetes.
" Zea." Osmond menjadi cemas, mendapatkan ekpresi dari Zea disaat ia melihat dan membacanya.
" Tidak mungkin, ini pasti salah. Ini pasti salah." Tanggisan itu semakin menjadi, bagaikan terkena petir pada siang hari. Hati Zea begitu hancur dan rapuh.
" Zea, maafkan kakak. Kakak sudah tidak perduli dan tidak menjagamu dengan baik." Meraih tangan Zea, yang lalu Osmond genggam dengan begitu erat.
__ADS_1
Rasa rindu, dan bersalah sangatlah besar dalam diri Osmond, saat tubuh mungil yang masih merah itu ia telantarkan dan ia acuhkan. Membawa tubuh itu kedalam pelukannya, begitu terasa ikatan batin diantara mereka.
" Maafkan kakak, maafkan kakak!"
Zea masih terus menanggis, mendapati kenyataan jika ia masih mempunyai keluarga kandung. Kenzie pun ikut larut dalam kebahagian tuannya, orang yang selama ini mereka cari telah ditemukan.
Akhirnya, kalian bisa kumpul bersama lagi tuan. Kenzie.
Dor!
Dor!
" Argh!" Suara jeritan dari Zea, mendengar suara tembakan.
" Tuan! Berlindunglah!" Kenzie dan beberapa orang pengawal bersiap dan mencari sumber tembakan tersebut.
Dengan sigapnya, Osmond membawa Zea untuk berlindung dan masuk kedalam rumah.
" A a ad apa i ni?" Zea begitu panik dan ketakutan.
" Tenang sayang, kakak akan menjaga dan melindungimu. Jangan panik."
Melihat tubuh Zea bergetar karena takut, seketika darah Osmond menjadi mendidih. Disaat ia akan membawa Zea untuk duduk, terlihat bayangan beberapa orang yang sedang mencoba memasuki rumah tersebut. Dengan cepat, Osmond menarik senjata yang berada di pinggangnya dan mengarahkannya kepada mereka.
Dor!
Dor!
Dor!
__ADS_1