Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 13


__ADS_3

Waktu pun berjalan, sudah satu bulan lebih dari hari dimana kejadian Vania yang meminta Sabian untuk mengusir Zea dari sana.


" Mau kemana lagi?" Tanya Sabian, ketika melihat Vania yang sedang merias dirinya.


" Bosan dirumah terus, apalagi masih ada wanita sialan itu disini. Membuatku semakin tidak betah!"


" Orangtuaku tidak akan mengizinkan dia pergi dari rumah ini, hal itu akan membuat mereka curiga."


" Heh, ternyata kau hanyalah pria penakut. Mudah sekali lemah dihadapan kedua orangtuamu, tapi begitu kejam dan dingin dihadapan orang lain. Sudahlah! Lebih baik aku memuaskan diriku, aku ingin berbelanja. Jangan lupa transfer uangnya!"


Vania berlalu begitu saja dari hadapan Sabian, tanpa memperhatikan suaminya sedikitpun. Vania memang lebih suka menghabiskan waktunya untuk berada diluar rumah, berbeda dengan Zea.


Berjalan dengan malas, Sabian menuju meja makan untuk mengisi tenaganya. Berhadapan dengan Vania, membuat energi Sabian terkuras begitu banyak. Seperti biasa, disana sudah ada Zea yang menunggu kedatangannya untuk sarapan. Ketika Sabian sudah mendaratkan tubuhnya untuk duduk, Zea pun akan meninggalkannya agar tidak membuat pertengkaran. Namun, baru saja Zea membalikkan tubuhnya. Tangan tersebut tertahan oleh sebuah tarikan.


" Temani aku sarapan."


Zea begitu sangat terkejut mendengar perkataan yang baru saja keluar dari bibir Sabian.


"E e le lepaskan tangan saya tu tuan. Saya sudah terbiasa untuk sarapan dibelakang, silahkan anda menikmatinya."


Memberontak pun sepertinya tidak bisa melepaskan genggaman tangan tersebut, genggaman tangan Sabian begitu kuat. Dan itu semakin kuat, disaat Zea menolak untuk menemaninya sarapan.


" Argh hmm." Ringgisan kecil keluar dari bibir Zea.


" Jika tidak ingin tanganmu patah, temani aku." Hanya ancaman dan ancaman yang Sabian berikan.

__ADS_1


Tidak tau kenapa, ia tiba-tiba saja melakukan hal bodoh dengan menarik tangan wanita itu. Zea pun tidak dapat menolaknya, karena ancaman itu begitu nyata bagi Zea.


" Ambilkan!"


" Hah?!"


Zea bagitu kaget, kenapa pagi itu Sabian terlihat sangat aneh. Tangannya bergerak menuruti apa yang di inginkan oleh suami yang tak pernah menganggapnya ada, dengan penuh keberanian ia menjalankannya.


Meletakkan piring yang sudah terisi dengan menu sarapan di hadapan Sabian, lalu Zea kembali untuk duduk. Begitu anehnya melihat orang yang begitu membenci dirinya, kini meminta dirinya untuk melayani dan menemaninya.


" Em, mm. Tu tuan, apakah aku boleh bekerja kembali?"


Ketika sedang enaknya menikmati sarapan, Sabian seketika menghentikannya. Menatap tajam kepada Zea yang saat itu mengucapkan keinginannya, mendapati tatapan tersebut. Membuat nyali Zea semakin menciut.


" Eee e te tanang saja tuan, sa saya tidak akan membocorkan perihal status pernikahan ini. Saya akan menjadi pegawai biasa seperti semula, apa boleh tuan?" keberanian itu akhirnya Zea miliki.


" Alasan apa yang kau punya? Kenapa aku harus mengizinkannya?"


" E e sa saya terbiasa untuk bekerja tuan, berdiam diri dirumah membuat saya tidak nyaman. Saya harus meminta persetujuan terlebih dahulu kepada tuan, karena tuan sekarang adalah s s suami saya."


Detak jantung Zea berdetak sangat cepat, ia begitu canggung untuk mengatakan hal tersebut. Namun, hanya dengan bekerja yang akan dapat menghilangkan beban pikirannya. Sabian hanya menaikan sudut bibirnya, sebuah senyuman terukir dari sudut bibirnya.


" Aku tidak melarang, silahkan saja. Asalkan status pernikahan dan juga beberapa hal tidak pernah diketahui oleh orang lain. Jika itu terjadi, kau akan tau sendiri apa yang akan terjadi." Setelah mengatakan hal tersebut, Sabian beranjak pergi. Mendapatkan izin dari suaminya, Zea begitu bahagia.


" Tuan, kapan saya boleh mulai bekerja?"

__ADS_1


" Kapan saja kamu mau, temui Arvin untuk mengurusnya."


Begitu senangnya, mendapatkan izin untuk bisa bekerja kembali. Membuat Zea melupakan sesuatu, dengan cepat ia berlari mengejar Sabian yang sudah hampir sampai di pintu utama. Memeluknya dari arah belakang, dengan begitu eratnya.


" Terima kasih tuan, terima kasih."


Pelukan itu membuat Sabian menjadi terdiam, tiba-tiba saja perasaan yang sangat nyaman dan tenang dapat ia rasakan dari pelukan tersebut. Hal ini tidak pernah ia dapati dari Vania sebelumnya, walaupun mereka pernah berpelukan. Detakan jantungnya pun begitu cepat, seperti orang yang terkena serangan jantung saja. Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sadar akan kejadian itu. Zea segera melepaskan tangannya dari tubuh Sabian, sungguh memalukan. Tatapan tajam itu pun kembali Sabian layangkan kepada Zea, begitu terasa sangat menyeramkan.


"Ah! Ma maafkan saya tuan, maafkan saya. Saya tidak sengaja, tuan. Maafkan saya."


Zea begitu sangat ketakutan akan kemarahan Sabian terhadap dirinya, sungguh bodohnya hal itu bisa terjadi. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Sabian meninggalkan Zea begitu saja.


Ya Tuhan, Zea. Kau begitu bodoh, sangat bodoh. Untung saja mulutnya tidak memberikanmu pidato, jika tidak. Tamatlah riwayatmu sebelum bekerja kembali. Zea.


Sabian yang kini sedang dalam perjalanan menuju perusahaannya, meletakkan telapan tangannya pada dadanya. Begitu terasa sangat mendebarkan, detak jantungnya berdetak sangat cepat disaat mendapatkan pelukan dari Zea. Arvin yang saat itu sedang mengemudikan mobil, melihat dari kaca spion ke arah belakang.


" Pagi-pagi sudah nggak waras si s**tan."


" Apa kau bilang?! Dasar sekretaris sialan."


" Heh, kalaupun waras. Kenapa juga kau bertingkah seperti orang sedang sakit jantung saja, jangan-jangan..."


" Jangan-jangan apa?"


" Jangan-jangan lu mau end."

__ADS_1


" Sialan kau!!" Sabian menendang kursi pengemudi dari belakang.


Arvin hanya menahan tawanya, memang sangat aneh melihat diri Sabian saat itu. Melanjutkan perjalanan dengan kecepatan sedang, lalu sebuah pertanyaan kembali keluar dari mulut Sabian.


__ADS_2