
Menatap wajah Zea dengan satu alis mata yang naik ke atas, terlihat jika Sabian merasa heran dengan apa yang terjadi.
" Kau pun akan tau tanpa aku memberitahukan apa yang harus dikerjakan, itu menandakan jika kau juga tidak pintar nona."
" Jika anda hanya berbicara terus menerus tanpa memberitahukan tugas saya, sama saja mengisi gelas dengan udara. Anda bisa menempatkan saya pada pekerjaan yang terdahulu, tanpa harus bersusah payah dan menyebabkan diri anda sendiri menjadi emosi."
Zea bersiap-siap untuk beranjak dari ruangan tersebut, menurutnya hanya akan sia-sia saja meladeni bosnya yang juga merupakan suaminya. Sikap sabarnya selama ini sudah melampaui batasnya, memaafkan orang yang selalu membuatnya terhina, tertekan dan tersiksa. Sepertinya, sikap itu harus ia ubah untuk kebaikan dirinya.
" Tunggu!"
Setelah merenung sejenak, Sabian melihat langkah kaki Zea yang sudah hampir keluar dari ruangannya segera menghentikannya. Dan Zea pun dengan sangat terpaksa harus berhenti.
" Duduklah, pelajari saja terlebih dahulu semua berkas-berkas yang ada dan juga jadwalku. Aku tidak akan mengizinkan pekerjaan lama itu kau kerjakan lagi, jadi sekarang ikuti arahanku."
Menepuk tempat duduk yang berada disampingnya, bermaksud agar dapat menjelaskan apa yang harus Zea kerjakan. Perlahan Zea mengikuti arahan yang Sabian berikan, entah apa yang terjadi didalam pikiran mereka sehingga bisa merubah keadaan.
Dengan penuh kesabaran dan juga perjuangan, Zea akhirnya bisa melaksanakan pekerjaannya dihari pertama. Bahkan untuk beristirahat sejenak saja tidak Sabian berikan, membuat sang sekretaris itu akhirnya hanya bisa mengumpat bosnya dari jauh.
__ADS_1
" Dasar bos s**tan, tadi saja ogah-ogahan sama tu wanita. Taunya, malah dikurung seharian. Sabian, Sabian! Lama-lama kau terbiasa dengan kehadirannya dan akan merasa kehilangan jika dia tidak ada. "
Memilih untuk tidak menganggu, Arvin melanjutkan pekerjaannya. Zea pun yang merasakan kejanggalan dengan sikap suaminya tersebut, jika orang bekerja tanpa beristirahat. Yang ada nantinya bisa terjadi gangguan pada kesehatan, sepertinya hal itu tidak berlaku pada Sabian.
" Ee, tuan. Apa tidak ada jam istirahat dan juga jam pulang untuk karyawan?"
" Maksudmu?" Terlalu fokus memperhatikan wanita itu dalam diamnya, membuat Sabian melupakan hak-hak karyawannya.
" Sa saya lapar dan haus, tuan. Bisakah saya permisi sebentar untuk mendapatkannya?" Perut Zea sudah sangat keroncongan, sudah pukul dua siang. Namun, belum ada satupun makanan yang masuk kedalam perutnya.
" Tidak usah tuan, saya sudah membawa bekal. Tadi bu Maryam yang menyiapkannya, kalau begitu saya permisi keluar tuan."
Mendapatkan izin untuk beristirahat dan mengisi tenaga, Zea pikir lebih baik menikmati makanan tersebut di kantin ataupun taman kantor. Ia pun tak habis pikir, kenapa nafsu makannya akhir-akhir ini menjadi lebih banyak. Belum saja Zea beranjak dari sana, kini Sabian sudah berada dihadapannya.
" Makan saja disini, tidak perlu keluar. " Menarik kursi yang ada didepannya, Sabian kemudian ikut duduk. Lalu ia menghubungi seseorang dari ponselnya.
" Bawakan aku dua menu makanan yang berbeda dan juga minumannya, aku tunggu diruangan." Ponsel itu kembali masuk dalam saku jasnya.
__ADS_1
" Loh, kok." Zea menjadi semakin bingung dengan apa yang terjadi.
" Makan saja, aku juga sudah memesan makanan tambahan. Dan, sepertinya makanan yang kau bawa itu enak."
Tanpa meminta persetujuan dari yang punya, Sabian langsung saja mengambil tas makanan yanh Zea bawa. Membukanya dan langsung menikmanti makanan tersebut, terlihat ia begitu menikmatinya. Walaupun makanan itu hanya berupa nasi goreng dan juga beberapa potong buah-buahan, Maryam sengaja membawakan Zea bekal, agar ia tidak pusing dan kerepotan untuk mencarinya.
" Ah, enak juga. Kamu nggak makan?" Dengan mulut yang masih penuh dengan makanan, Sabian menawarkannya pada Zea.
Bagaimana aku bisa makan, sendoknya saja hanya satu dan dia yang menggunakannya. Itu juga, nasinya sudah habis dan hanya menyisakan beberapa potongan buah. Dasar pria tidak punya hati! Zea.
" Enak ya tuan! Kalau boleh tau, siapa pemilik dari makanan ini?" Suara Zea penuh dengan penekanan dan juga matanya menatap tajam pada tempat makanan tersebut.
" Ya punya kamulah, punya siapa lagi." Sabian perlahan mulai menyadari, jika dirinya sedang dalam keadaan mendapatkan protes dari orang dihadapannya.
Hanya sudut bibir Zea yang naik keatas, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya lagi.
" Hahaha! Oke, oke. Saya akan mengantikannya dengan makanan yang baru, sebentar lagi akan datang. Tidak perlu menatap tajam seperti itu, wajahmu itu tidak cocok. Hahaha." Tawa itu kembali menyapa Sabian.
__ADS_1