
Melihat kondisi istrinya, yang kini terbaring tak berdaya diatas tempat tidur. Berbagai macam peralatan medis yang tersambung pada tubuhnya, membuat hidupnya seakan-akan hancur.
Reza mendaratkan tubuhnya pada sebuah kursi, yang berada disamping tempat tidur pasien. Menggenggam tangan wanita yang begitu ia cintai, bulir-bulir air mata menetes dari sudut matanya.
Bangun ma, jangan tinggalkan papa sendiri seperti ini. Reza.
Mendapati orangtuanya menjadi seperti ini, membuat Sabian semakin merasa sangat bersalah. Bahkan ia tidak memperdulikan mereka, disaat amarah sudah menguasai dirinya seutuhnya. Berbagai nasihat yang selama ini diberikan kepadanya, selalu saja ia anggap seperti angin. Yang hanya melintas sejenak dan pergi, angin itu kini kembali menyapa dan menghempaskan dirinya.
Menyesal? Sudah terlambat, Mama yang selalu saja mengingatkan dirinya. Kini terbaring lemah tak berdaya, perlahan Sabian mendekati kedua orangtuanya.
" Pa, maaf." Ucap Sabian dengan nada penuh penyesalan.
Tidak ada jawaban ataupun tanggapan dari Reza atas ucapan yang Sabian berikan, perasaannya begitu hancur setelah mendapati kebenaran dari semua permasalahan didalam keluarganya.
" Pa."
Dirinya yang dahulu begitu angkuh dan sombong, kini bertekut lutut dihadapan kedua orangtuanya.
" Maafkan Bian pa, ma." Suara tanggisan yang terisak-isak terdengar sangat pilu.
Hati orangtua mana yang tidak akan hancur, mendapati kebenaran akan kehidupan putra semata wayangnya yang sangat jauh berbeda dari apa yang mereka harapakan. Jika ingin egois, Reza bisa saja melampiaskan seluruh amarahnya kepada sang anak. Namun, hati kecilnya tidak akan bisa melakukan hal tersebut.
" Bangunlah." Sebuah ucapan yang Reza berikan.
__ADS_1
" Kau sudah sangat dewasa nak, bisa menilai diantara kebaikan dan keburukan suatu hal. Kami sebagai orangtua, hanya bisa mengarahkan. Tapi tidak bisa memutuskan dan menjalaninya."
" Papa dan mama sudah berusaha yang terbaik untukmu, dan sekarang. Kau sendiri yang harus memutuskannya, tidak ada kata menyerah untuk sebuah kebaikan. Berubahlah, hanya itu yang papa harapkan darimu. Buktikan jika kamu adalah yang terbaik dari semuanya, buatlah mamamu tersenyum bahagia."
Airmata mengalir dengan cukup deras, tangan Reza kemudian menepuk pundak anaknya secara perlahan. Memberikan motivasi untuk bangkit dari keterpurukan, membuka jalan untuk memperbaiki yang sudah terlanjur hancur. Sabian tidak bisa mengungkapkan, betapa besarnya hati kedua orangtuanya terhadap apa yang telah ia lakukan.
" Terima kasih pa, Sabian janji akan mewujudkan semuanya itu." Memeluk dan menanggis dalam pelukan sang papa, Sabian merasakan jika ia sangat beruntung dengan keberadaan kedua orangtuanya.
" Dan satu hal yang harus papa sampaikan padamu, ini juga adalah keinginan dari mama yang sempat ia sesali. Bawalah pulang istri dan calon cucu kami, dalam keadaan sehat dan tidak kurang satu hal pun."
" Tapi pa, Zea hamil bukan anak Bian. Dia sudah selingkuh dan pergi dengan pria lain, disaat Bian sudah mencintainya."
" Nak, percayalah. Istrimu adalah wanita baik-baik, dia selalu menjaga dirinya dari pria manapun demi dirimu...."
Disaat yang bersamaan, Arvin yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut. Langsung saja mendapatkan serangan dari Sabian, membut dirinya yang tidak siap dengan hal tersebut menjadi ambruk.
" Kau! Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal, jika Zea sedang mengandung anakku! Dasar bang***at kau!" Ketika Sabian ingin menyerang Arvin kembali, dengan cepat ia pun menghindar.
" Bian, stop! Ini rumah sakit!" Teriak Reza.
Arvin mengetahui situasinya menarik kerah baju Sabian dan membawanya keluar dari kamar tersebut, dikarenakan ruangan perawatan milik Vita merupakan ruangan khusus. Lingkungan sekitarnya menjadi sedikit sepi dengan keberadaan orang yang berlalu lalang, Arvin menghempaskan tubuh Sabian.
" Kenapa jika aku merahasiakan kehamilan Zea, apa kau akan bertanggung jawab? Hah!"
__ADS_1
" Aku berhak tahu akan hal itu, kenapa kalian menyembunyikanya dariku?!"
Bugh!
" Ini untuk sikapmu yang tidak tahu diri."
Bugh!
" Dan ini, pembalasan atas rasa sakit yang sudah kau berikan pada Zea."
Bugh!
" Dan ini dariku, yang muak dengan tingkah laku kalian."
Merasakan rasa sakit pada tubuhnya, Sabian tidak menyangka jika sekretaris dan juga sahabatnya itu terlihat sangat emosi sert melampiaskan kemarahannya.
" Maksudmu?"
" Heh, berlagak bodoh kau. Menikahi Zea kerena terpaksa dan memperlakukannya seperti bukan seorang wanita, dan kau membawa bunglon itu berada dalam satu atap bersamanya. Bahkan kau menikahi wanita bunglon itu, apa kau tidak memikirkan perasaan Zea sedikitpun, Sabian! Kau benar-benar gila!"
" Memikirkan perasaannya sedikitpun tidak, kau sungguh bukan manusia. Sekarang, setelah dia pergi dan bunglon itu menipumu habis-habisan. Sangat mudah sekali kau menginginkan Zea untuk kembali, bahkan mengetahui dia sedang mengandung anakmu. Gila kau!"
Tak tak tak...
__ADS_1
Langkah kaki terdengar mendekati mereka berdua, orang itu ikut menyaksikan kedua pria tersebut berkelahi dan bertengkar.