
Bob mendengarkan penjelasan Nayla tentang Nuno. Dia akan menerima Nayla walaupun Nayla belum bisa mencintainya.
"Aku akan menunggu sampai kamu mencintaiku, dan jangan melarangku untuk mencintai kamu Nay. Apakah kau tetap ingin menjadi kekasihku?"
"Aku akan mencobanya B"
"B" Bob menatap Nayla.
"Apa boleh aku memanggil mu B? tanya Nayla. Bob menganggukan kepalanya.
"Itu tidak terlalu buruk, itu pangilan sayang untukku bukan" dia tersenyum menaikan sebelah alisnya.
"Kita pulang B" Bob hanya memandang sekilas lalu dia mengengam tangan Nayla.
"Kita rayakan dulu hari ini"
"Besok-besok saja B, aku lelah" ucap Nayla.
"Baiklah, kuantar kamu pulang"
Jalanan tidak begitu padat, tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di kediaman mama Syila.
"Aku masuk dulu B, apa kau akan mampir?" tanya Nayla.
"Tidak, istirahatlah, aku juga akan pulang" Nayla keluar dari mobil tapi belum juga dia menginjakkan kakinya di tanah Bob meraih tangannya.
"Terimakasih Nay, aku akan membuat kamu mencintaiku" Nayla tidak membalas apa yang dikatakan Bob, dia turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumah.
Bob meninggalkan kediaman mama Syila setelah Nayla tidak terlihat lagi olehnya.
"Aku akan membuat hari-harimu lebih bahagia Nay" gumamnya.
Di kamar, Nayla baru saja selesai mandi, dia duduk di depan cermin menyisir rambutnya.
"Semoga aku tidak melakukan kesalahan" ucapnya dalam hati.
Kak Nuno, maafkan aku, biarkan aku mencoba untuk menerima cinta yang lain walaupun tidak ada cinta untuknya. Aku hanya ingin mencoba untuk bahagia. Aku harap kakak mengerti.
"Hayooooo, ngelamunin apa? sampai-sampai Teteh pulang kamu tidak tahu" Shinta mengagetkan Nayla.
"Teh Shinta, bukan apa-apa teh, hanya hari ini Nay dan Bob resmi berpacaran" Nayla tidak ingin meutupi hubunganya dengan Bob.
"Sungguh, akhh selamat sayang" ucap Shinta sambil memeluk Nayla.
"Wahhh bakalan ada patah hati satu kampus nih besok. Hahaha, good news ini" ucapnya sambil berjalan kekamar mandi.
Sementara itu di tempat lain Nuno sedang meeting bersama klien. Cukup lama hingga malam untuk mencapai kesepakatan. Begitu meeting selesai, Nuno segera pulang dia ingin mengistirahatkan tubuhnya yang beberapa hari terakhir ini sangat penuh dengan jadwal meeting dan kunjungan proyek.
Nuno baru saja sampai di apartemenya. Dia dikejutkan dengan kehadiran Silvia.
"Kamu, kenapa kamu datang kemari" sambil membuka pintu apartemenya.
"Mami yang menyuruh saya menyusul Mas Nuno, karena sudah tiga bulan Mas Nuno tidak pulang" sambil berjalan mengikuti Nuno yang masuk ke dalam apartemenya.
"Itu kamarmu" sambil menunjuk sebuah pintu.
"Dan jangan coba-coba untuk masuk kekamar saya, walau hanya sebentar" sambil meninggalkan Silvia.
"Saya lelah dan ingin istirahat, jadi jangan diganggu" ucapnya lagi.
"Iya Mas" jawab Silvia.
__ADS_1
Nuno baru selasai mandi, dia segera meraih telepon genggamnya, sudah lama dia tidak menghubungi Nayla. Dia ingin memberi kabar kalau dia akan ke Bandung. Sambungan terhubung,
Nuno : "Sayang...."
Nayla: ………………………
Nuno : "Kakak akan ke Bandung dua hari lagi"
Nayla: ………………………
Nuno : "Hey, apa kamu tidak merindukan kakak, gadis kecil"
Nayla: ………………………
Nuno : "Baiklah, kita bertemu di tempat biasa"
Sementara di depan pintu Silvia mendengarkan percakapan itu, hatinya sakit. Dia berlari kekamarnya dan menangis.
Dua hari kemudian
Nayla baru saja keluar dari kelasnya, hari ini hanya ada satu matakuliah. Dia menghubungi Bob kalau hari ini dia akan pergi bersama temanya. Bob mengijinkannya, karena dia masih ada jam kuliah sampai sore.
Nayla duduk di taman dimana dia biasa bertemu dengan Nuno.
"Hai" sapa sesorang.
"Nayla?" tanya wanita itu.
"Iya" jawab Nayla.
"Maaf Mbak siapa? apa kita pernah bertemu?" tanya Nayla.
"Boleh saya duduk" pinta wanita itu.
"Saya Silvia" Silvia menjulurkan tanganya mengenalkan diri pada Nayla.
"Ohhh iya, saya Nayla, apa kabar Mbak Sivia, senang bisa berkenalan dengan Mbak" ucap Nayla untuk menutupi kegugupannya.
"Apa kita bisa berteman?" ucap Silvia.
"Tentu bisa, Mbak adalah istri kak Nuno, tentu kita bisa berteman, karena kak Nuno sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri" jawab Nayla sambil mencoba tersenyum.
Silvia tidak percaya dengan uncapan Nayla. Kalau Nayla menganggap Nuno seperti itu kenapa Nuno tidak bisa menerimanya sebagai istri.
"Kamu yakin dengan ucapan mu?" tanya Silvia. Nayla menganggukan kepalanya.
"Saya yakin, saya sudah tidak sendiri Mbak, saya sudah punya kekasih" jawab Nayla tegas.
"Ada apa Mbak?" tanya Nayla
"Tidak apa-apa" jawab silvia.
"Apa mbak bisa minta nomor teleponmu?"
"Iya mbak, 08xx xxxx xxxx xxxx"
"Baiklah, terimakasih Nay, sampai jumpa"
"Ohh yaa, tolong jangan katakan pada mas Nuno kalau kita bertemu" pinta Silvia. Nayla hanya menganggukan kepalanya tanda menyetujui permintaan Silvia.
Silvia meninggalkan Nayla yang masih tidak percaya kalau istri Nuno menemuinya kali ini. Dia tidak tahu apa arti ini semua.
__ADS_1
"Aku menunggu kak Uno, kenapa istrinya yang datang? apa mereka berdua ke Bandung" gumamnya.
"Siapa yang berdua" Nayla melihat kearah suara itu.
"Kak Uno" Nuno duduk disamping Nayla. Dipeluknya gadis kecil itu, tak lupa dia mengecup pucuk kepala Nayla, menghirup dalam wangi bunga yang selalu dirindukannya dan tidak lupa mengacak-acak rambut Nayla.
"Kak Uno rambut Nay jadi jelek" sungut gadis itu.
"Tapi orangnya tetap cantik" goda Nuno.
"Sayang, apa sudah lama kamu duduk disini menunggu kakak?" tanya Nuno.
"Hemm, sudah sampai kering Nay duduk disini" sindirnya.
"Kalau begitu ayo kita beli makan, kakak lapar tadi sebelum berangkat tidak sempat sarapan" sambil berdiri menarik Nayla.
Dari jauh Silvia memperhatikan mereka berdua.
"Kenapa kamu tidak bisa seperti itu padaku mas" ucapnya. Dia iri dengan perlakuan Nuno pada Nayla.
Di cafe, Nayla dan Nuno sudah selesai memesan makanan pada pelayan.
"Kak, ada yang ingin Nayla sampaikan" dia menatap Nuno "Ada apa? katakan saja, apa kamu ingin kakak menikahimu juga ha" godanya.
"Isshhh kak Uno ini, Nay serius" Nuno menatap lekat pada Nayla.
"Ada apa?" pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
"Kakak makan saja dulu , kakak belum sarapan kan" sambung Nayla.
"Baiklah, ayo sini, kakak sudah lama tidak menyuapimu" Nuno sudah menghabiskan makananya.
"Katakanlah" sambil memegang gelas minumannya.
"Nay menerima Bob sebagai kekasih Nay" Nuno yang sedang minum terbatuk mendengar penjelasan Nayla.
"Kak" Nayla mendekati Nuno.
"Kak Uno tidak apa-apa?" tanyanya.
"Tidak apa-apa" Nuno menutupi keterkejutannya. Lama tidak bertemu, kini Nayla memberikan kejutan yang luar biasa untuknya.
"Apa kamu mencintainya sayang?" tanya Nuno.
"Tidak, Nay belum mencintainya, karena masih ada kakak yang menempatinya. Tapi Nay mohon, ijinkan Nay untuk mencobanya"
"Kakak sudah punya mbak Silvia, Nay mohon, Nay juga ingin mencoba untuk dengan yang lain. Nay ingin bahagia kak" Nuno meraih tangan Nayla.
"Apa kamu tidak bahagia bersama kakak?" Nuno meremas tangan Nayla dengan erat.
"Tentu sangat bahagia Kak, tapi bukan kebahagiaan seperti ini yang Nay inginkan" jawabnya.
"Nayla sayang, Kakak mohon, tunggulah Kakak sebentar lagi. Kakak akan mengakhiri hubungan Kakak dengannya, jadi bersabarlah"
Nayla terkejut dengan apa yang diucapkan Nuno.
"Tidak, tidak Kak, jangan Kakak lakukan ini. Kakak akan menyakiti hatinya, Nay tidak mau"
"Sayang mengertilah, Nayla satu-satunya yang Kakak inginkan" Nuno memegang erat kedua tangan Nayla, mengharap Nayla setuju dengan keinginanya.
"Kak, cobalah memulai untuk mencintai mbak Sivia, jangan sakiti dia"
__ADS_1
"Kita sama-sama mencoba untuk memulai"
************************