AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
RESTU ADAM


__ADS_3

Kau begitu sempurna


Di mataku kau begitu indah


Kau membuat diriku akan selalu memujimu


Di setiap langkahku


Ku kan slalu memikirkan dirimu


Tak bisa ku bayangkan hidupku tanpa cintamu


Zain bernyanyi sambil memainkan gitarnya. Lagu sempurna yang di nyayikannya untuk Mery menggambarkan isi hatinya saat ini. Sementara yang lain duduk membentuk lingkaran ikut bernyanyi bersama.


Jangan kau tinggalkan diriku


Takkan mampu menghadapi semua


Hanya bersamamu ku akan bisa


Kau adalah darahku


Kau adalah jantungku


Kau adalah hidupku lengkapi diriku


Oh sayangku kau begitu


Sempurna.....


Mery mendekat pada Zein. Matanya berkaca-kaca, tidak pernah terbayangkan cinta pertamanya tidak lagi bertepuk sebelah tangan.


Sempurna.....


Kau genggam tanganku


Saat diriku lemah dan terjatuh


kau bisikan kata dan hapus semua sesalku


Kau adalah darahku


Kau adalah jantungku


Kau adalah hidupku lengkapi diriku


Oh sayangku kau begitu


Sempurna.... Sempurna....


Putri dan Lola dipandu Citra langsung bertepuk tangan untuk kedua pasangan itu diikuti yang lain yang ikut duduk disana.


Sandy mencari keberadaan Nayla yang belum ikut bergabung bersama di halaman belakang. Entah mengapa kali ini dia merasa Nayla selalu menghindar. Sejak dari keberangkatan Nayla tidak ingin didekatinya.


"Sandy" suara Azizah mengejutkannya dari lamunan.


"Tolong bawakan ikan ini berikan pada Zain" ucap Azizah.


Malam ini mereka akan makan bersama di halaman belakang rumah kakek yang cukup luas dengan pemandangan alam yang asri. Walaupun rumah tua tapi tetap terawat, karena ayah Dimas mempekerjakan orang untuk menjaga dan merawatnya.


Mereka akan memasak ikan bakar. Tadi sore ayah Dimas mengajak para lelaki lomba memancing ikan di kolam belakang. Dan diwarnai insiden Lola yang tercebur di kolam ikan karena terlalu senang melihat Sandy mendapatkan ikan dipancingnya menjadikan dia bermandi air kolam. Tentu saja membuat yang lain menertawakannya.

__ADS_1


Sekarang Zain yang kebagian bertugas membakar ikan yang sudah di bumbui oleh bunda Aisyah, karena dia kalah tidak mendapatkan ikan satupun. Zein menaruh gitarnya dan berdiri siap membakar ikan yang sudah diletakkan Sandy didekat pembakaran.


Sementara di dalam sebuah kamar, Nayla sedang bermain dengan baby Dafa diatas tempat tidur.


"Kenapa kamu tidak bergabung bersama mereka Mbak?" tanya Adam yang baru selesai mandi.


"Tidak apa-apa Kak, Nay ingin bermain sama Dafa"


"Tidak biasanya kamu jauh dari sahabat-sahabatmu" Nayla hanya diam mendengar perkataan Adam.


"Tidak perlu menghindari Sandy, Dia laki-laki baik." Adam mencoba menasihati.


"Nay tidak menghindarinya Kak, hanya Nay merasa....." Nayla tidak melanjutkan ucapannya.


"Sini" Adam menyuruh Nayla duduk didekatnya.


Bukan duduk tapi nayla malah tidur di pangkuan Adam. Sudah lama dia tidak bermanja seperti ini dengan kakaknya. Jarak yang jauh membuat mereka jarang bertemu, kalaupun bertemu tidak ada waktu untuk berdua. Tapi walaupun jarak mereka jauh Adam tidak pernah melewati sedikitpun pekembangan adik-adiknya.


"Pikirkan kebahagiaanmu, jangan selalu memikirkan kebahagiaan orang lain. Terlalu banyak mengalah untuk orang lain itu tidak salah, tapi tidak harus menyakiti dirimu sendiri" Adam mengelus rambut Nayla yang dibiarkannya terurai.


"Belajarlah menerima orang baru yang mencintaimu" sambung Adam.


"Apa Sandy yang menawarkan pekerjaan padamu" Tanya Adam.


"Iya, dia bilang kalau perusahaan tempatnya bekerja membutuhkan desain interior"


"Tempatnya bekerja?" Adam sedikit terkejut dengan jawaban Nayla.


"Iya, kenapa Kak?" Nayla heran melihat Adam yang terkejut.


"Tidak apa-apa" Adam membiarkan Nayla untuk tahu sendiri siapa Sandy.


"Kakak merestuimu bersama Sandy" Nayla mengangkat kepalanya menatap Adam.


"Apa kamu pikir Kakak akan membiarkan adik Kakak yang cantik ini berada di sisi orang yang salah?" Adam menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar.


"Kakak hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik dan bahagia Nay"


Adam berdiri lalu menggendong baby Dafa yang sedang bermain sendiri.


"Ayo kita keluar, dia pasti mencarimu" ledek adam.


"Sini Dafa biar sama Nay" direbutnya Dafa dari gendongan Adam.


Nayla dan Adam kini sudah bergabung bersama yang lain. Ikan yang di bakar Zein terlihat menggoda sudah siap dimakan.


Sandy yang melihat Nayla bersama baby Dafa mendekat dan mengambil alih mengendong bayi itu.


"Kamu menjaga Dafa?" tanyanya pada Nayla yang hanya mengangguk.


"Wahhh, kalian udah cocok punya bayi sendiri" goda Azizah yang menghampiri Nayla dan Sandy untuk menggambil baby Dafa yang sudah waktunya minum susu.


Suasana ceria dan bahagia yang dirasakan semua yang hadir. Di tambah Citra yang selalu mengeluarkan kata-kata yang membuat orang tertawa, sepertinya dia sudah lupa dengan masalahnya.


Setelah mendengar nasehat Adam kini Nayla sudah bersikap biasa terhadap Sandy, mencoba mengenal siapa Sandy mungkin bisa memantapkan hatinya yang masih ragu.


Ayah dan bunda memilih beristirahat di kamar begitu juga Adam yang menemani Istri dan anaknya di kamar. Sekarang tinggal mereka yang muda-muda.


Eza sedang bermain gitar sedangkan Putri dan Lola yang bernyanyi. Suara Putri mengejutkan semuanya.


"Hantu..." teriak Putri menunjuk kedepannya, seketika semua hening.

__ADS_1


"Apain sih Put" bisik Lola yang mendengar teriakan Putri jadi ikut ketakutan.


"Om Eza lihat ada bayangan putih disana" Putri mendekat pada Eza dan berdiri dibelakangnya.


"Om dari kecil suka ke sini nggak pernah lihat hantu" ucap Eza menenangkan.


Citra melihat kearah yang di tunjuk putri, dilihatnya ada bayangan putih yang lewat membuat dia ikut berteriak ketakutan "Itu.... itu...beneran.... beneran ada yang lewat di sana" tunjuknya pada bayangan putih.


"See seetaaan... teriaknya" saat melihat kain putih itu mendekat lalu berlari masuk kedalam rumah. Lola berbalik kebelakang memberanikan diri tapi belum sampai melihat semua dia pun langsung lari mengejar Citra. Begitupun Putri yang sudah terlebih dahulu berlari bersama Citra.


Didalam kamar ketiganya mencoba mengatur nafas. Wajah mereka masih terlihat pucat. Citra yang sudah sejak kecil takut melihat hal-hal seperti itu tidak berani keluar walaupun dia sangat haus.


"Ambilin Tante minum dong" bujuk Citra pada Putri dan Lola.


"Tante aja sendiri, Putri takut"


"Lola juga takut"


"Kita ambil sama-sama" ucap Citra dan mendapat persetujuan dari keduanya.


"Tante yag di depan" pinta Putri.


"Kamu yang di depan Put, Tante di tengah"


"Lola kamu aja yaa" Putri meminta Lola


"Ayo cepat buka pintunya" perintah Citra pada Lola yang memimpin didepan.


Pintu kamar dibuka oleh Lola dan langsung ditutup kembali. "Takut, di luar sepi"


Citra terus memerintahkan untuk membuka pintu. Dia sudah sangat haus. Lola kembali membuka pintu,


"Gelap, lampu di luar sudah dimatiin" lapor Lola pada Citra dan Putri.


"Pakai senter" ucap Citra


Kini mereka bertiga berjalan beriringan dengan cahaya senter menuju meja makan.


"Nyalakan lampunya" Putri menyalakan lampu yang ada diatas meja makan. suasana sudah terlihat terang. Citra mengambil gelas dan air memberikan pada Lola dan Putri. Belum sempat minum mereka mendengar suara benda jatuh di dapur membuat mereka kembali ketakutan. Begitupun di ruang keluarga terdengar suara orang berbicara tapi mereka tidak berani melihat.


"Cepat minum" ucap Citra yang langsung menghabiskan satu gelas air diikuti Lola dan Putri.


"Tante" tunjuk Putri pada bayangan putih di dapur membuat mereka tanpa komando berlari kembali ke kamar.


Dari dapur Eza dan Zain tertawa puas sudah berhasil menakuti Citra, Putri dan Lola. Sementara Nayla, Bella, Mery dan Sandy melihat aksi mereka dari ruang keluarga.


flash back


Di halaman belakang setelah kepergian Citra, Putri dan Lola, Bella mendekati bayangan putih tersebut. Dia tidak takut karena kemampuannya yang bisa melihat dunia lain membuat dia terbiasa melihat yang tidak terlihat. Dia penasaran karena sejak dia datang tidak merasakan aura-aura yang menandakan keberadaan mereka di tempat ini. Sementara yang lain menunggu dari kejauhan.


Nayla berjalan menyusul Bella. Diikuti Sandy dari belakang yang takut terjadi sesuatu pada Nayla.


"Mang ujang" panggil Nayla melihat mang ujang yang sedang berbicara dengan Bella.


"Punten Neng, mang ujang nyingsieunan sadayana" mang Ujang merasa bersalah sudah membuat keributan. Rupanya Bella sudah memberitahu mang Ujang


"Teu nanaon mang, tong dipikir" Nayla meyakinkan mang ujang kalau dia tidak bersalah.


"Naha mang Ujang didieu" tanya Nayla lagi. Akhirnya mang Ujang menceritakan kenapa dia berjalan di taman belakang memakai kain putih.


Melihat Nayla dan Sandy menyusul Bella. Zein dan Mery pun ikut mendekat begitu juga Eza. Ikut mendengarkan penjelasan mang Ujang dan akhirnya semua tertawa.

__ADS_1


*************************


Terimakasih sudah mampir di Novel ini. Author mohon dukungan like dan komentnya 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2