AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
67. LALA HILANG


__ADS_3

Sudah dua hari Nayla dan Sandy menginap di kediaman Ayah Dimas, besok pagi mereka akan kembali ke Bandung.


Nayla membereskan pakaian Sandy untuk dimasukkan kedalam koper, dia tersenyum saat menyusun dalaman milik Sandy. Suatu pengalam baru yang akan terus dilakukannya, menyentuh dan merapikan semua milik suaminya.


Nayla beralih untuk mebereskan pakaian miliknya, dia membuka lemari mencari pakaian yang akan dibawa. Hanya membawa beberapa yang dibutuhkan saja, karena pakaian yang biasa dia pakai sehari-hari semua ada di kediamannya di Bandung.


Mata Nayla tertuju pada kotak yang di kirim untuknya sebelum acara lamaran, di raihnya kotak itu dan diletakkanya di meja rias.


Semua sudah tersusun rapi, tapi belum ada tanda-tanda Sandy akan masuk ke kamar. Nayla memutuskan untuk berdiri di balkon kamarnya, tempat pavoritnya untuk mencari ide dan solusi.


Menatap kelangit, bintang-bintang bertaburan dan bulan sabit yang melengkung sempurna. Ingatannya kembali saat dia membuat dekorasi untuk kamar Putri, sama seperti yang dilihatnya saat ini di langit. Nayla merindukan anak manja itu, yang selalu mencari perhatian setiap orang.


Pandangan Nayla kini tertuju pada kendaraan yang berhenti di seberang gerbang kediaman Ayah Dimas.


"Siapa" gumamnya.


Satu menit, dua menit, tiga menit, tidak ada yang turun dari kendaraan itu. Nayla membalikkan badanya untuk masuk kedalam kamar.


"Hans.." teriaknya kaget melihat suaminya berdiri di hadapanya.


"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini di luar?" tanya Sandy memeluk pinggang Nayla sambil merapikan rambut yang tertiup angin.


"Tidak ada, hanya memandang langit sambil menunggumu" jawab Nayla jujur sambil membalikkan badanya, dia ingin kembali melihat kendaraan yang berhenti di seberang gerbang.


"Di luar anginya kencang sayang" ucap Sandy memeluk Nayla dari belakang dan menciumi pipi istrinya.


Pandangan Nayla kembali tertuju pada kendaraan di bawah sana yang masih setia terparkir.


"Ayo masuk" ajak Sandy yang langsung menggendong Nayla sambil menciumi istrinya.


"Hans, turunkan" pinta Nayla saat dia melihat kotak yang ada di meja rias.


Sandy tidak memperdulikan permintaan Nayla, dia membaringkan istrinya itu di tempat tidur dan menindihnya. Menciumi seluruh wajah, bibir dan leher Nayla.


"Hans... ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan pada mu" ucap Nayla saat Sandy sudah berhenti menciumnya.


"Apa itu?" tanya Sandy sambil mengkerutkan keningnya.


Nayla turun dari tempat tidur mengambil kotak yang ada di meja rias dan duduk di sofa.

__ADS_1


"Kemarilah" Nayla meminta Sandy mendekat.


Sandy mengikuti keinginan Nayla dan duduk disamping istrinya. Nayla memberikan kotak yang ada ditangannya.


"Apa ini?" tanya Sandy saat menerima kotak yang diberikan Nayla.


"Buka saja, sesorang mengirimnya sebelum lamaran" jawab Nayla sambil tersenyum agar Sandy mau membukanya.


"Seseorang siapa?" Sandy menatap Nayla meminta jawaban.


"Entahlah, aku juga tidak tahu" Nayla menjawab sambil menaikan bahunya.


Sandy membuka kotak itu dan membuka amplop putih seperti yang dikatakan Nayla.


"Siapa yang berani membenci istriku" ucap Sandy saat membaca tulisan yang ada di belakang foto. Nayla hanya tersenyum mendengar ucapan Sandy yang marah.


Wajah Sandy berubah saat membaca isi surat yang di tujukan untuk Nayla, dia menatap istrinya sebelum melanjutkan membaca isi surat.


Sandy menyimpan kembali surat yang dibacanya dan menarik nafas panjang, dia meraih kotak yang ada dalam kotak itu, membukanya dan membaca isi suratnya.


"Tuan ini cincin yang anda pesan" pelayan toko perhiasan menyerahkan cincin yang di pesan sandy, lalu dia pergi menemui Mitha.


"Aku juga baru sampai" jawab Mitha dan langsung menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan.


Tidak butuh waktu lama untuk Sandy dan Mitha nenyelesaikan pekerjaan mereka, semua sudah di sepakati hanya membutuhkan beberapa tanda tangan Sandy sebagai pimpinan di perusahaanya.


"Aku tadi melihatmu keluar dari toko perhiasan di depan" ucap Mitha tanpa ragu karena ingin tahu apa yang dilakukan Sandy


"Iya, aku memesan ini" Sandy mengeluarkan cincin yang tadi di ambilnya di toko.


"Sudah lama, kebetulan kita bertemu disini jadi aku sekalian mengambilnya" jelas Sandy.


"Siapa Lala?" tanya Mitha saat membaca nama yang tertulis di cincin.


"Anak kecil yang dulu sering main bersamaku" jawab Sandy sambil terkekeh mengingat kenangannya bersama Nayla.


"Kamu akan memberikan cincin ini?" tanya Mitha.


"Entahlah, sudah lama kami tidak bertemu, kalaupun bertemu pasti sudah tidak saling kenal" jawab Sandy jujur.

__ADS_1


"Lalu cincin ini?" Mitha menunjuk kotak yang ada di depannya.


"Simpan saja untukmu, kalau kau menyukainya" jawab Sandy.


"Kamu mengingat sesuatu" ucap Nayla menyadarkan lamunan Sandy.


"Sini" Sandy mengangkat tangan Nayla dan memasangkan cincinnya.


"Ini aku mendesainnya sendiri" Sandy mengecup tangan Nayla.


Nayla berdiri menuju balkon saat Sandy sudah sibuk menatap Layar handphonenya, dilihatnya kendaraan yang tadi parkir sudah pergi lalu menutup dan mengunci pintu balkon. Sandy masih duduk di sofa dan menatap layar handphonenya, membaca dan membalas chat seseorang.


Mencoba memberi kepercayaan pada suaminya, walau terkadang ada keinginan untuk mengetahui dengan siapa suaminya berkirim pesan. Membiarkan Sandy sibuk dengan Handphonenya, Nayla membaringkan diri di tempat tidur. Satu hal yang dia dapat hari ini, kalau suaminya memang mencintainya, namun masih ada rahasia yang tidak ingin di katakan Sandy tentang Mitha padanya.


Nayla menarik nafas panjang dan menghembuskannya berlahan, menenangkan hati dan pikiranya. Beberapa hari ini tidur dalam pelukan Sandy membuat Nayla tidak bisa memejamkan matanya. Kembali mencoba melirik suaminya, namun tetap sama masih sibuk berselancar di dunia maya.


"Ternyata begini rasanya kalau sudah biasa berdua, tapi di angguri" batin Nayla lalu bangun dan keluar dari kamar.


Sandy melihat tempat tidur, dia baru menyadari kalau Nayla tidak ada disana. Membuka pintu kamar mandi berharap istrinya ada didalam. Zonk, Nayla tidak ada disana.


Sandy keluar kamar mencari Nayla, dia menyadari kesalahanya yang sibuk sendiri setelah mencari tahu siapa yang mengirim cicin pada Nayla.


Sandy berkeliling di lantai atas, tidak menemukan Nayla disana dan tidak ada yang bisa di temui untuk bertanya. Sandy turun ke bawah, dilihatnya Bunda Aisyah masih ada di dapur.


"Apa ada yang kamu butuhkan Ndy?" tanya Bunda Aisyah saat melihat Sandy berjalan mendekatinya.


Sandy menggelengkan kepalanya. "Aku mencari Lala bun"


"Bukannya habis makan malam dia sudah naik dan masuk kekamar" ucap Bunda Aisyah yang binggung mengapa menantunya mencari Nayla.


"Iya tadi dia di kamar saat aku masuk, sempat berbincang sebentar lalu dia pergi" jawab Sandy tanpa menyebutkan kesalahannya.


"Tapi dari tadi bunda tidak melihat Nayla di bawah" jawab bunda.


"Lala.. kamu boleh marah padaku tapi jangan menghilang seperti ini sayang, aku takut kehilangan kamu" batin Sandy sambil mengacak-acak rambutnya.


"Ada apa?"


***************************

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir di karya author dan sudah memberikan vote, hadiah, koment dan like. Apapun itu sudah jadi semangat buat author tetap menulis. 🙏🙏🙏 😊😊😊


__ADS_2