
Tiga minggu berlalu, kini Nayla, Mery dan Citra menghadiri pernikahan sahabat mereka Bella. Ketiganya duduk mengeliling satu meja VIP yang sudah disiapkan untuk mereka dan di temani para suami.
Masih terasa getar hati
Saaat engkau ungkapkan segala yang terpendam
Dan kau bisikan nada cinta
Semakin indah dunia, membuka mata hati
Getar-getar cinta semakin dalam 'ku rasa
Bagai sebuah simponi dalam cinta
"Aku suka lagu ini" ucap Mery saat mendengar lagu nada nada cinta milik Rosa yang dinyanyikan seseorang di panggung.
Dulu ku ragu mengakui rasa cinta
Terpendam, semua jadi nyata
Saat kau bisikan nada cinta
Semakin indah dunia, membuka mata hati
Getar-getar cinta semakin dalam 'ku rasa
Bagai sebuah simponi dalam cinta
Aku bersyukur
Karena dirimu kekasih yang baik hati
Selalu menjaga kejujuranmu
"Itu kamu Hans" bisik Nayla yang terbawa suasana ikut menyanyikan lagu nada-nada cinta.
"Benarkah" Sandy ikut berbisik dan mendapat tatapan cinta dari Nayla yang mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
Semoga abadi tali cinta kita, ho oh
Nada-nada cinta
Semakin indak dunia, membuka mata hati
Getar-getar cinta semakin dalam 'ku rasa
Bagai sebuah simponi dalam cinta
Bagai sebuah simponi dalam jiwa
Oh, yang 'ku damba
"Hans, aku pusing" Nayla menyandarkan kepalanya di bahu Sandy.
"Kita pulang saja" ajak Sandy, takut terjadi sesuatu pada istrinya.
__ADS_1
"Mukamu pucat Nay, kamu sakit?" tanya Mery saat menyadari Nayla tidak seperti biasanya.
"Dia merasa pusing" Sandy yang menjawab.
Mery berdiri mendekati Nayla, mengambil tangan Nayla dan memeriksa denyut nadinya.
"Kamu pulang saja dan istirahat, nanti sore aku akan periksa kamu lagi " ucap Mery.
"Ayo sayang" ajak Sandy yang langsung berdiri dan merangkul Nayla meninggalkan pesta yang masih dipenuhi tamu undangan.
Ting... ting... ting...
"Siapa?" tanya Sandy saat mendengar suara notifikasi di ponsel Nayla.
Nayla mengkerutkat keningnya saat melihat yang mengirim pesan padanya adalah Silvia dan minta bertemu sore ini.
"Mbak Silvia, dia tahu aku di Jakarta dan ingin bertemu sore ini" jawab Nayla yang tidak ingin menyembunyikan apapun dari Sandy.
Sandy hanya diam sambil fokus menatap jalan yang dilaluinya, dia tidak tahu harus mengijinkan Nayla menemui Silvia atau tidak. "Ada perlu apa istri laki-laki itu ingin menemui Nayla" batinnya sambil sesekali melihat Nayla yang bersandar di bahunya.
"Mbak Silvia" sapa Nayla saat melihat wanita dengan perut besarnya duduk di cafe tempat mereka janji bertemu.
Sandy akhirnya mengijinkan Nayla bertemu Silvia setelah mendengar alasan dari Nayla yang memaksa ingin bertemu Silvia.
"Hans, mbak Silvia selalu mencariku kalau sedang ada masalah, hanya aku yang bisa diajaknya bicara tentang..... suaminya" ucap Nayla yang hampir menyebut nama Nuno, dia tahu Sandy tidak suka mendengar dia menyebut nama Nuno.
"Terima kasih Nay, kamu masih mau menemuiku" jawab Silvia setelah Nayla menyapanya.
"Ada apa mbak?" tanya Nayla sambil menarik kursi yang ada dihadapan Silvia dan duduk disana.
Silvia menagis meremas tangan Nayla, dia tidak tahu harus mulai cerita dari mana. Hubungannya dengan Nuno terlihat baik-baik saja dan normal sebagai pasangan suami istri, tapi dia merasakan sakit di hatinya.
"Nay seharusnya dari awal aku menolak pernikahan ini, maaf aku yang membuat kalian terpisah" ucap Silvia sambil terisak.
"Tidak mbak, Mbak Silvia tidak salah. Aku yang meminta Kak Nuno untuk meninggalkanku dan menikah dengan Mbak Silvia"
"Sekarang seorang anak akan lahir ditengah-tengah kalian, itu sebuah kebahagiaan yang tak ternilai mbak" Nayla mencoba memberi pengertian pada Silvia yang selalu merasa bersalah memisahkannya dengan Nuno.
"Aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang, Mbak Silvia juga harus bahagia" lanjut Nayla untuk memberi kekuatan pada Silvia.
"Bagaimana aku bisa bahagia kalau dia selalu memanggil namamu bila sedang berhubungan dengan ku" jawab Silvia.
"Maksud mbak Silvia?" tanya Nayla yang terkejut dengan ucapan Silvia.
Silvia mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman suara Nuno yang memanggil Nayla sedangkan dia sedang melakukan penyatuan dengan Silvia.
Deg
Nayla tidak tahu kalau itu yang membuat Silvia sakit hati.
"Maafkan aku mbak, aku tidak tahu kalau seperti ini yang Mbak Silvia rasakan" jawab Nayla sambil merasa marah, benci dan kecewa pada Nuno.
"Aku akan bercerai setelah melahirkan Nay, jangan halangi aku lagi" Silvia meminta Nayla untuk mengerti perasaannya, dia sudah tidak sanggup lagi berada disisi Nuno.
"Sandy" seseorang memanggil Sandy yang terus memperhatikan apa yang dilakukan Nayla dan Silvia di dalam.
__ADS_1
Sandy hanya tersenyum saat tahu siapa yang menyapanya, dia mencoba menutupi perasaan tidak sukanya pada Nuno. Dari semua yang pernah dekat dengan Nayla hanya pada Nuno Sandy merasakan tidak nyaman, karena pandangan mata Nuno masih menunjukkan cinta untuk Nayla.
"Apa ada acara di Jakarta?" tanya Nuno.
"Iya, hari ini pernikahan Bella sahabat istriku" jawab Sandy menekankan kata istri untuk Nayla.
"Hemm... semua sudah menikah sekarang, aku mengenal mereka saat masih mengunakan seragam putih abu-abu" ucap Nuno
"Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat dan meninggalkan kenagan indah" lanjut Nuno membuat Sandy merasa Nuno sedang mengenang Nayla dan dia tidak suka itu.
"Kamu hanya sendiri?" tanya Nuno melihat hanya ada satu cangkir kopi di meja.
"Aku bersama istriku" Sandy kembali menekankan kata istri pada Nayla sebagai miliknya.
"Dimana dia?"
"Dia..."
"Hans.." Sandy langsung melihat Nayla saat istrinya memanggil.
"Itu dia..." jawab Sandy sambil berdiri menyambut Nayla dan mencium kening istrinya.
"Kita pulang Hans" ajak Nayla pura-pura tidak melihat Nuno.
"Nayla" Nuno menyapa Nayla yang sengaja tidak ingin bicara dengannya.
"Kak antara kita sudah selesai, lupakan aku dan hiduplah dengan kenyataan" ucap Nayla.
"Kenapa Nay? ada apa denganmu? bukankah kau berjanji untuk tetap berteman" Nuno tidak terima dengan ucapan Nayla.
"Karena aku membencimu dan menyesal pernah mencintai laki-laki pengecut seperti kakak, yang tidak mau menerima kenyataan" jawab Nayla sambil berlalu pergi meninggalkan Nuno.
Sandy menyusul Nayla, ada rasa khawatir dengan sikap istrinya yang tidak biasanya bicara kasar.
Nuno ikut menyusul Nayla dan Sandy yang pergi ke parkiran.
"Nayla aku masih mencitaimu dan tidak akan berhenti mencintaimu" Teriak Nuno saat sudah dekat dengan Nayla dan Sandy.
Bruk
Pukulan keras Sandy melayang kewajah dan tubuh Nuno, dia tidak bisa menahan amarahnya saat mendengar Nuno mengatakan masih mencintai Nayla didepan matanya. Seketika Nuno tersungkur karena dia tidak siap dengan pukulan yang diberikan Sandy.
"Kenapa kau yang marah? aku yang harusnya marah padamu, karena kamu yang merebut cinta Nayla" ucap Nuno yang kembali berdiri.
"Hans" panggil Nayla saat Sandy kembali ingin melayangkan pukulannya pada Nuno.
"Lihatlah... bahkan dia tidak mengijinkanmu memukulku" ejek Nuno pada Sandy.
"Kita pulang, jangan dengarkan kata-katanya" pinta Nayla.
"Jangan pergi pengecut" teriak Nuno saat Sandy akan meninggalkannya.
"Hadapi aku, kita bertarung sebagai laki-laki biar Nayla tahu siapa yang pantas untuk berada disampingnya"
Sandy menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Nuno, dia berbalik menghadap Nuno yang sudah bersiap akan memukulnya. Nuno menyerang Sandy yang dengan cepat menghindari dan menyerang balik Nuno.
__ADS_1
"Mas..." teriak Silvia dan terjatuh saat melihat Nuno mendapat pukulan dari Sandy. Dia merasakan perutnya terasa sakit dan ada cairan yang mengalir di kakinya.
...******************...