
Kabar kehamilan Nayla sudah sampai di telinga Mama Rita dan Papa Wijaya, kebahagian menyelimuti perasaan keduanya. Walau bukan cucu pertama bagi mereka tapi tetap saja tidak mengurangi perasaan bersyukur dan bahagia mereka, Papa Wijaya langsung membagikan bonus pada semua karyawan di perusahaannya sebagai ucapan syukur.
Semua karyawan perusahaan Wijaya yang mendengar berita mereka mendapatkan bonus karena kehamilan Nayla menyambut gembira, tidak terkecuali tim desain yang dipimpin Ine.
"Sering-sering aja nih Nayla bawa kebahagian buat bos kita, biar kita dapat bonus terus" ucap Fian yang ikut merasakan kebahagiaannya.
"Maunya kamu itu mah" jawab Sofi sambil mencibir Fian.
"Kalau kamu hamil anakku, aku juga akan bagi-bagi bonus" ucap Fian menggoda Sofi.
"Ayo sof, kita nikah terus punya anak" lanjutnya.
"Fiiiaaaannnn" bentak Sofi dengan nada yang tinggi.
"Gila nih orang, ngelamar cewek langsung mau punya anak aja" David geleng-geleng kepala, Fian sama sekali tidak bisa bersikap romantis, dia selalu saja kaku dan bicara apa yang ada di pikirannya tanpa memilah yang pantas dan tidak pantas.
"Kalau mau ngelamar cewek itu cari tempat yang romantis, kasih rayuan, kasih bunga, buat tu cewek klepek-klepek, baru ajak nikah. Ingat nikah ya... bukan kawin" David memberi masukan pada Fian.
"Bukanya main ceplas ceplos langsung ngajak nikah terus punya anak" David memukul pundak Fian yang benar-benar tidak bisa romantis.
"Alaahhh, ngajarin orang aja pinter, mana buktinya? kamu udah ngasih bunga sama Nayla juga tidak diangap sama dia" Fian membalas dengan ucapan yang menusuk buat David.
"Beda kasus kalau itu...." jawab David kesal, Fian mengingatkan kebodohannya.
"Emang beda ya nikah sama kawin?" tanya Sofi.
"Soofiiii" teriak David sambil menepuk keningnya.
"Udah.... bisa diam tidak? ini kantor bukan cafe tempat ngerumpi atau ngelamar cewek, pake ngebahas kawin segala" bentak Ine yang dari tadi merasa pembicaraan mereka tidak bermanfaat.
"Nahhh ini emak satu lagi, gimana cowok mau dekat, kerja aja yang dipikirin. Sekali-kali pikirin cari cowok gitu" David tersenyum puas bisa menemukan saat yang tepat untuk memberi masukan pada Ine tanpa tahu penyebabnya mengapa wanita itu tidak suka memikirkan kehidupan percintaannya.
Ine hanya diam, dia tidak bisa menjawab. Hanya dia dan mamanya yang tahu mengapa dia tidak suka punya hubungan dengan laki-laki dan ingin terus hidup sendiri lalu mengalihkan semua pikiran itu pada pekerjaan.
Dikediaman Ayah Dimas Nayla sedang duduk berdua Bunda Aisyah di taman belakang, dia tidak ikut Sandy pulang ke Bandung karena masih lemas dan sesekali merasakan pusing. Banyak nasehat yang dia dapat dari sang bunda untuk menjaga kehamilannya.
__ADS_1
"Selamat ya Nay... aku mau dapat keponakan lagi nih" Suara Bella mengagetkan Nayla dan Bunda Aisyah.
"Masuk itu salam dulu kenapa, biar tidak menggagetkan orang" protes Nayla sambil melihat pengantin baru itu yang hanya senyum-seyum sendiri.
"Mana Roy?" tanya Nayla yang tidak melihat Roy bersama Bella.
"Ada di depan, lagi nunggu Zein" jawab Bella membuat Nayla mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" tanya Bella saat melihat Nayla seperti itu.
"Tidak, aku pikir dia sudah pulang ke Bandung"
"Kita tidak boleh pulang ke Bandung sama Kak Sandy" suara Mery terdengar menjawab ucapan Nayla.
"Takut kamu dibawa lari sama Kak Nuno" lanjutnya sambil terkekeh membuat Nayla membulatkan matanya.
"Ihhh tidak percaya, tanya saja sama Citra" seru Mery yang melihat Nayla tidak percaya ucapannya.
Belum selesai Mery bicara sudah ada suara Dea yang menyapa Nayla, gadis kecil itu sambil berlari mendekatinya dan langsung memegang perut Nayla.
"Nanti bisa kayak mami Mer" Dea berpindah mengusap perut Mery yang sudah terlihat sedikit besar.
"Horeeee Dea punya adiknya banyak" teriaknya sambil bertepuk tangan.
Semua hanya tersenyum melihat apa yang dilakukam Dea, sejak memiliki orang tua yang utuh dia terlihat lebih bahagia.
Bunda meninggalkan keempat sahabat itu berkumpul dan bercengkrama di taman belakang. "Jangan terlalu lama berjemurnya, kalau sudah panas segera masuk" pesan Bunda yang tadi sengaja mengajak Nayla duduk ditaman berjemur matahari.
Ditemani makanan ringan keempat sahabat itu melanjutkan pembicaraan mereka, membahas hadiah dari Ayah Dimas kemana mereka akan pergi bulan madu bersama. Sedangkan Dea sibuk bermain dengan Zizi kucing kesayangan Eza yang terpaksa ditinggalnya.
Sementara itu Sandy yang sedang membaca berkas laporan yang diberikan Alex tidak bisa konsentrasi, dia tidak tenang meninggalkan Nayla di jakarta tanpa pengawasannya.
Alex yang masuk untuk mengambil laporannya geleng-geleng kepala melihat Sandy yang hanya membolak balik berkas tanpa melihat isinya.
"Kita makan saja dulu kalau kamu tidak bisa konsentarasi membaca laporannya" ajak Alex yang sudah merasa lapar.
__ADS_1
"Aku tidak tenang meninggalkan Nayla di Jakarta" jawab Sandy.
"Dia pasti baik-baik saja, jangan terlalu cemas" Ucap Alex kesal, karena dia juga harus berpisah dengan Citra yang diminta Sandy untuk tinggal di Jakarta menemani Nayla.
Alex menunjukkan Video yang dikirim Citra kalau istri dan putrinya sedang di kediaman Ayah Dimas, Citra mengirim video saat sedang berbincang dengan sahabat-sahabatnya dan Dea yang asik bermain dengsn kucing.
"Nayla banyak yang menenani, tidak akan kesepian" jelas Alex.
"Ayo makan aku lapar" Alex menarik Sandy untuk bangun dari duduknya.
Kembali di kediaman Ayah Dimas, empat sekawan masih asik berbincang, kini mereka sudah pindah diteras belakang. Bi Ati berlari kecil menghampiri Nayla "Mbak Nay, ada Mas Nuno di depan" ucapnya.
Berita yang dibawa Bi Ati membuat semuanya terdiam tanpa ada yang bersuara hanya saling berpandang mata.
"Bunda sudah ada didepan Mbak" Bi Ati menjelaskan karena Nayla tidak beranjak dari duduknya.
"Ayo... kita semua ikut menemui si nano asem, asin, manis dan pahit" ajak Citra membuat ketiga sahabatnya tersenyum, Citra tidak pernah berubah sejak dulu memanggil Nuno dengan nama sebuah produk permen.
Bunda Aisyah melihat Nayla dan ketiga sahabatnya datang, dia langsung mengenalkan ketiga sahabat Nayla sebagai putrinya pada mami Nuno. "Ini semua putri-putri saya"
Mami Nuno hanya tersenyum sambil mengangguk saat keempat wanita cantik itu menyapanya, dia mendekati Nayla dan langsung meraih tangan Nayla untuk meminta maaf telah memisahkan Nayla dan Nuno.
"Tidak ada yang perlu di maafkan mi, saya dan kak Nuno memang ditakdirkan tidak berjodoh" jawab Nayla yang ingin menyadarkan Nuno untuk menerima kenyataan mereka tidak bisa bersama.
"Hubungan Nuno tidak hanya baik dengan Nayla walau sudah berpisah, tapi juga dengan kami semua" tunjuk bunda pada semuanya.
"Nuno bukan orang lain bagi kami, dia sudah seperti keluarga, bahkan dia meminta restu pada saya seperti seorang anak saat akan menikah" lanjut bunda menjelaskan.
Mami Nuno hanya diam, dia tidak tahu kalau Nuno sampai seperti itu, baginya Nayla selama ini selalu mengganggu pernikahan putranya.
Zein masuk memanggil Nayla tanpa melihat ada Nuno dan maminya disana. "Nay, Kak Sandy" Zein menyerahkan ponselnya. wajah Nayla seketika pucat, saat tahu Sandy menghubunginya, jantungnya berdetak cepat, dia teringat kejadian dua hari yang lalu saat Sandy marah pada Nuno.
"Hans" Nayla memanggil Sandy yang menyapanya lalu semua terlihat gelap.
...******************...
__ADS_1