
Mitha duduk dihadapan Reyhan "Mengapa hanya sendiri? Dimana istrimu?" tanyanya sambil memperhatikan wajah Reyhan yang terlihat kusut.
Reyhan tidak menjawab pertanyaan Mitha, dia tidak ingin orang lain tahu masalah rumah tangganya.
"Sepertinya ada masalah, bukan begitu?" tanya Mitha sambil menatap Reyhan.
"Karena Cindy?" tebaknya.
Reyhan mengangkat wajahnya dan melihat Mitha. "Apa tebakanku benar?" Reyhan hanya diam "Maaf tidak bermaksud ikut campur. Aku bertemu Alex dan istrinya, mereka bilang bertemu Cindy saat kalian di Belanda" jelas Mitha menjawab tatapan Reyhan.
"Aku tidak tahu apa karena itu, aku tidak pernah memberitahunya tentang Cindy. Dia tiba-tiba pergi dari rumah" jawab Reyhan putus asa.
"Lalu mengapa kamu disini? Kenapa tidak mencarinya?"
"Aku memcarinya disini. Seseorang mengirim videonya sedang duduk disini" jelas Reyhan.
Suasana sepi dalam kebisuan sesaat. "Aku rasa istrimu tahu tentang Cindy dan dia menunggu penjelasan darimu" Mitha mencoba menjelaskan apa yang dia pikirkan.
"Sebagai seorang istri dia ingin percaya denganmu, tapi tetap saja menginginkan kejujuran langsung dari mu"
Pelayan datang membawa bungkusan makanan dan memberikannya pada Mitha. "Rey pesanku sudah siap, aku duluan. Coba kamu pikirkan lagi sebelum mencarinya" Mitha pamit dan berlalu dari hadapan Reyhan.
Satu minggu berlalu, Reyhan belum bisa menemukan keberadaan Shinta. Siang ini dia mengajak Sandy dan Alex untuk makan bersama.
"Apa masih belum ditemukan?" tanya Alex saat melihat Reyhan duduk di hadapannya dan menjawab hanya dengan menggelengkan kepalanya.
"Menurutmu apa masalahnya?" kini Sandy yang bertanya walau sesungguhnya dia cukup tahu.
"Cindy" jawab Reyhan.
"Aku tidak menjelaskan siapa Cindy padanya, kurasa dia curiga saat menemukanku sedang berbicara dengan Cindy" jelas Reyhan.
"Ini sudah satu bulan berlalu, tapi kamu tidak menjelaskan apapun, tentu saja dia akan tersinggung" ucap Alex.
"Sikapku tidak pernah berubah padanya, Shinta juga seperti tidak ada masalah" Reyhan mencoba menjelaskan.
"Pasti berat untuknya selama satu bulan ini menunggu tanpa penjelasan, karena itu dia pergi untuk memberikanmu waktu untuk berpikir" Sandy mencoba menyangah penjelasan Reyhan.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Sandy.
Reyhan diam, lalu menyesap minuman hangat yang dipesannyan. "Aku kehilangan separuh nyawaku" jawab Reyhan.
__ADS_1
"Saat kembali bertemu Cindy aku sempat punya keinginan untuk kembali padanya"
"Keinginan konyol yang tidak bisa di maafkan setelah aku kehilangan Shinta"
"Aku tidak ingin membicarakan Cindy karena aku tidak ingin Shinta terluka. Aku tidak ingin mengoreskan luka perselingkuhan untuk keduakalinya"
"Ku pikir akan baik-baik saja tapi kenyataanya aku melukainya, sekarang aku harus menerima hukumanya kehilangan orang yang aku cintai"
"Kehilangan Shinta lebih menyakitkan saat aku kehilangan Cindy"
Tidak ada yang bicara lagi setelah Reyhan menyelesaikan ungkapan hatinya. Tanpa Reyhan ketahui apa yang diucapkannya di rekam oleh Sandy dan diteruskannya pada Nayla.
Suara ringtone dari telepon genggam Sandy berbunyi, My love nama kontak yang tertera. "Iya... nanti kusampaikan" hanya itu yang keluar dari ucapan Sandy menjawab panggilannya.
"Shinta sekarang ada dirumahku, dia baru saja tiba" Sandy menyampaikan apa yang dibicarakan Nayla.
Wajah Reyhan seketika berubah cerah, ada secerca harapan saat tahu keberadaan istinya. Dengan kecepatan lebih tinggi dari rata-rata dia menerobos jalan beraspal yang cukup padat karena ini jam istirahat dan makan siang.
"Dimana Shinta?" tanya Reyhan saat Bi Ratna membukakan pintu.
"Neng Shinta sedang istirahat dikamar tamu den" jawabnya. Sudah lama bekerja di kediaman Nayla membuat Bi Ratna sudah mengenal orang-orang terdekat Nayla dan Sandy.
"Aku merindukanmu" bisiknya sambil menciumi aroma tubuh yang selalu dirindukanya.
Shinta yang beberapa hari ini tidur dengan gelisah merasakan kehangatan yang membuatnya terlelap dengan nyenyak, dia tidak menyadari kehadiran Reyhan dan terus melanjutkan tidurnya dengan damai. Saat terbangun Shinta merasakan ada tangan kokoh yang memeluknya, tanpa melihat wajah dia tahu siapa pemilik tangan itu.
Reyhan yang merasakan adanya pergerakan ikut terbangaun, tidak ada keinginan untuk melepaskan pelukannya. "Maafkan aku" ucapnya berbisik dibelakang Shinta.
Shinta meneteskan air matanya "Jangan menangis" pinta Reyhan karena dia yakin istrinya menaggis.
"Aku mencintaimu, hanya kamu, jangan pernah pergi dan meningalkanku sendiri lagi" ucap Reyhan dengan pelan.
Shinta dapat merasakan ada yang basah dipunggungnya, dia ingin berbalik tapi Reyhan tidak mengijinkannya. "Maaf kan Shinta..." ucap Shinta dan Reyhan semakin mengencangkan pelukannya.
"Shinta hanya ingin memberikan waktu untuk Bang Rey memikirkanya" jelas Shinta.
Sandy baru saja pulang dan melihat mobil Reyhan masih terparkir sempurna di halaman. Nayla menyambutnya di teras dengan senyum khasnya yang membuat Sandy mendapatkan kembali energi setelah lelah bekerja. Mengecup kening dan bibir istrinya satu hal yang jadi kebiasaannya saat pulang kerumah setelah menikah. Satu tambahan kecupan diperut Nayla setelah tahu ada buah hati mereka disana.
"Ayo masuk" ajak Sandy sambil menggenggam erat tangan Nayla.
Sandy dan Nayla sedang bersantai di halaman belakang duduk di bangku pinggir kolam tempat favorite mereka menikmati senja. "Apa yang terjadi?" tanya Sandy sambil membelai rambut Nayla.
__ADS_1
"Tidak tahu. Sejak Bang Rey datang mereka belum keluar kamar kata Bi Ratna" jawab Nayla.
Putri dan Lola ikut bergabung bersantai di pinggir kolam, sudah jadi kebiasaan mereka untuk sering berkumpul bersama bila sedang tinggal di rumah. Berbagi cerita dengan tawa dan canda,
Putri mengingatkan Nayla untuk kesekolahnya besok. "Ada acara apa?" tanya Sandy.
"Menghadiri rapat study tour" jelas Nayla.
"Kamu akan mewakili mereka berdua?" tanya Sandy.
"Iya, Teh Nia terlalu repot dengan dua anak kecil di rumah, hanya rapat tidak terlalu melelahkan" jawab Nayla.
"Aku akan menemanimu"
"Hans..."
"Jangan membantah"
Nayla hanya diam, sejak hamil dia tidak bisa keluar bebas sendiri, Sandy selalu saja ingin menemaninya. Hanya ke Cafe Zein dan Kediaman Wijaya tempat yang bisa Nayla kunjungi tanpa dampingan Sandy.
Saat makan malam, Reyhan dan Shinta baru menampakkan wajah mereka. "Ada Om Rey sama Tante Shinta, kok Lola gak tahu" ucapan Lola hanya mendapatkan senyum dari keduanya.
"Udah ayo makan" ajak Nayla.
Semua makan dalam diam. Sandy dan Nayla tidak berani membicarakan masalah Reyhan dan Shinta karena ada Lola dan Putri. Namun saat selesai makanpun mereka hanya berbincang sebentar lalu pamit pulang.
Nayla menarik nafas lega "Sepertinya sudah selesai" ucapnya setelah Shinta dan Reyhan masuk kedalam kendaraan mereka. "Aku harap semuanya baik-baik saja"
"Ayo masuk, kita selesaikan masalah kita" ajak Sandy sambil merangkul Nayla.
"Masalah apa Hans" Nayla merasa mereka tidak ada masalah.
"Hans... ada masalah apa?"
Tanpa menjawab pertanyaan Nayla, Sandy langsung menggendong istrinya masuk kekamar.
...*********************...
Terima kasih sudah mampir di karya author tinggalkan jejak kalian dengan like dan komen. 🙏🙏🙏🙏🙏
Terima kasih untuk pembaca yang sudah memberikan vote, hadiah, koment dan like. Apapun itu sudah jadi semangat buat author tetap menulis.
__ADS_1