
Nayla melihat Sandy yang baru keluar dari kamar mandi. Wajah tampanya sudah tampak lebih segar, menggenakan pakaian santainya kaos oblong putih dan celana panjang yang sedikit longar, terlihat berbeda dengan pakaian resmi yang biasa dia kenakan. Tampak masih terlihat air yang menetes dari rambutnya.
"A rambutnya keringkan dengan handuk kecil yang ada disana" tunjuk Nayla pada paper bag yang dibawakan Zein.
Sandy mendekati Nayla berdiri di sisi tempat tidur, dikecupnya pucuk kepala kekasihnya itu setelah mengeringkan rambutnya seperti yang diperintahkan Nayla.
"La, panggil aku Hans saja" ucapnya sambil duduk di bangku yang ada disisi tempat tidur Nayla.
Nayla yang mendengar itu langsung menatap Sandy menelisik apa yang menyebabkan pria yang ada di sisinya ini meminta seperti itu. Sangat tidak sopan baginya hanya memanggil nama pada Sandy sedang usia mereka cukup jauh berbeda. Sandy sadar kalau Nayla menatapnya dan meminta penjelasan dari nya.
"Aku hanya nyaman kamu memanggilku dengan panggilan Hans seperti dulu" ucap Sandy menjelaskan pada Nayla.
"Tapi itu sangat tidak sopan kalau di dengar orang lain" jawab Nayla agar Sandy memikirkannya lagi.
"Tidak masalah bagiku selama itu membuatku nyaman" jawabnya.
"Kau cemburu Hans?" tanya Nayla.
"Cemburu?" Sandy balik bertanya.
"Iya cemburu, cemburu pada Bob, cemburu aku memanggilnya B"
"Karena itu kamu tidak mau aku memanggilmu A lagi" jawab Nayla menjelaskan dugaanya.
Sandy hanya diam menangapi apa yang dikatakan Nayla. Melihat Sandy yang diam Nayla sangat yakin apa yang dikatakannya benar.
"Aku benarkan Hans" Nayla mengatakannya sambil tersenyum menang.
Nayla mendekatkan wajahnya pada Sandy dan mencium pipi laki-laki itu. Sandy terkejut, tidak menyangka Nayla berani melakukannya, walau dia pernah melakukan hal ini saat mereka kecil dulu.
"Bob itu temanku, hanya teman" ucap Nayla meyakinkan Sandy.
"Hemmm, aku tahu" jawab Sandy.
"Lalu apa yang kalian bicarakan?"
"Apa itu tentang Devi?"
Nayla bertanya sambil turun dari tempat tidurnya berjalan ke sofa. Hanya duduk dan tiduran di tempat tidur membuatnya bosan. Untung saja infus yang di tanganya tadi sore sudah dilepaskan Mery saat Mery membantunya membersihkan diri dan berganti pakaian, sehingga dia sudah bebas bergerak.
Sandy menyusul Nayla dan duduk di sampingnya. Dirapikannya rambut Nayla yang terlihat berantakan dengan sisir jarinya.
"Mengapa kamu yakin kalau Bob membicarakan Devi" tanya Sandy sambil terus menyisir rambut Nayla.
"Karena aku tahu seperti apa Bob dan seperti apa Devi" jawab Nayla.
"La, kamu sangat mengenal Bob, mengapa...?"
"Aku mengenal dan memahaminya karena sering bersamanya. Aku juga akan mengenal dan memahami kebiasanmu kalau aku sering bersamamu Hans" potong Nayla kata-kata Sandy.
__ADS_1
"Hanya saja aku tidak bisa memberikan cinta untuknya" sambung Nayla kata-katanya.
"Kau mencintaiku La?" tanya Sandy, karena sejak Nayla menerimanya sampai saat ini tidak pernah mengatakan cintanya pada Sandy.
Sandy mendekatkan wajahnya pada Nayla, menatap mata coklat yang bening itu, mencoba mencari jawaban. Mereka diam saling menatap. Nayla yang merasa gugup merasakan jantungnya berdegup kencang. Sama seperti Nayla, Sandy pun merasakan detak jantungnya yang tidak berarturan, mencoba menahan hasratnya untuk menikmati bibir tipis yang ada dihadapannya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Nayla sambil mengalihkan pandangannya dari Sandy yang membuat laki-laki itu menjauh kan wajahnya dari Nayla.
Sandy berdiri mengambil air minum dan memberikannya satu pada Nayla. Sandy dan Nayla sama-sama menghabiskan minum sampai tandas tak tersisa, bukan karena haus tapi sama-sama ingin menetralkan detak jantung mereka.
Kini keduanya sudah terlihat lebih baik. Sandy menceritakan kembali apa yang di ceritakan Bob padanya kalau Devi tidak besalah dan hanya di jadikan pion. Sandy memperlihatkan bukti yang diberikan Bob pada Nayla.
Nayla melihat rekaman CCTV yang diberikan Bob dan membaca pesan yang diterima Devi.
"Apa yang akan kamu lakukan Hans?"
"Aku akan meminta pendapat papa dan mama, karena ini bukan hanya tentang kita tapi juga menyangkut perusahaan" jawab Sandy.
"Aku juga akan mencari tahu sepupu Devi yang menabrakmu" ucap Sandy.
Sandy juga menceritakan pada Nayla kalau dia sempat berpikir Issabel yang melakukannya, karena malam saat pesta pernikahan Reyhan dan Shinta, Issabel menunjukan kebinciannya pada Nayla.
Tapi tidak terpikirkan oleh Sandy kalau masalah ini adalah masalah perusahaannya yang akan direbut orang yang tidak dia kenal sama sekali.
"Aku pernah melihat Issabel dan Devi jalan bersama" ucap Nayla yang langsung mendapat tatapan Sandy.
Sandy segera mengambil telepon genggamnya dan menghubungi Alex ingin menanyakan hasil penyelidikan Alex tentang Issabel.
"Hans, besok pagi biar aku pulang kerumah bersama Zein dan Mery, kau tidak perlu mengantarkanku" ucap Nayla setelah melihat Sandy selesai berbicara dengan Alex dan menutup panggilan teleponnya.
"Kamu harus secepatnya menyelesaikan masalah ini Hans, kalau...." Nayla menghentikan ucapannya.
"Kalau apa?" tanya Sandy penasaran.
"Kalau ingin segera melamarku" goda Nayla sambil memainkan alisnya membuat Sandy gemas dan menciumi pucuk kepala Nayla berkali-kali.
Di tempat lain Devi sedang berada di kediaman Dewa. Sore tadi Dewa mengajak Devi pulang ke kediamannya setelah Devi mengatakan kalau dia tidak ingin pulang kekediaman orang tuanya.
Kini mereka sedang makan malam bersama, hanya ada mereka berdua yang menikmati santapan yang disajikan oleh pelayan yang bekerja di kediaman Dewa. Dewa sudah lama tinggal sendiri sejak orang tuanya pindah ke kota lain.
"Wa aku takut." ucap Devi yang kini sudah berada di ruang keluarga bersama Dewa.
"Siapa sepupumu yang menabrak Nayla?" tanya Dewa tanpa mengalihkan pandangannya dari acara televisi yang sedang di tontonnya.
"Issabel" jawab Devi cepat.
"Issabel?" tanya Dewa yang langsung mengalihkan pandangannya pada Devi, dia tidak percaya dengan yang di dengarnya.
"Kau yakin?" Dewa bertanya untuk meyakinkannya dan mendapat anggukan dari Devi.
__ADS_1
"Apa keuntungan yang dia dapatkan sampai mau melakukannya?" tanya Dewa yang kembali mengalihkan pandangannya pada televisi.
"Menikah dengan Sandy" jawab Devi pelan.
"Menikah?" Dewa menggulang pernyataan Devi.
"Iya, sudah sejak lama Issabel mencintai Sandy, saat mereka masih SMU, tapi Sandy tidak pernah menunjukkan kepeduliannya sedikitpun pada Issabel"
"Sikap Sandy pada Issabel membuat Issabel menjadi terobsesi dengan Sandy. Bahkan dia sudah mengatakan pada semua orang kalau dia kekasih Sandy" jelas Devi pada Dewa.
"Lalu sikap Sandy pada Issabel?" tanya Dewa yang ingin tahu kebenarannya.
"Sandy tidak pernah menyanggah apapun yang dilakukan Issabel seperti membiarkannya saja sehingga orang yang tidak menggenalnya meyakinkan apa yang dikatakan Issabel adalah benar sampai akhirnya...." Devi menghentikan kata-katanya.
"Akhirnya apa?" tanya Dewa yang penasaran, dia sudah tidak memperhatikan acara ditelevisi yang tadi di tontonnya.
"Setelah Sandy pulang dari pendidikannya diluar negeri, Sandy dekat dengan seseorang yang satu sekolah dengan Sandy dan Issabel. Kedekatan Sandy dengan wanita itu membuat Issabel marah dan dia..." Devi kembali terdiam. Ini rahasia keluarganya yang tersimpan sampai saat ini tanpa di ketahui pihak luar.
Dewa yang semakin penasaran terus menunggu kelanjutan cerita Devi.
"Teruskan" ucap Dewa.
"Ini rahasia keluargaku Wa" jawab Devi.
"Bukankah kau ingin semua ini berakhir?" tanya Dewa.
"Kalau begitu ceritakan saja biar aku bisa membantumu" lanjutnya.
Devi terdiam, dia masih mempertimbangkan kata-kata Dewa.
"Kalau kau tidak ingin memceritakanya tidak apa-apa, tapi jangan salahkan aku kalau aku tidak bisa membantumu keluar dari masalah ini" ucapan Dewa sedikit mengancam.
"Issabel membunuh wanita itu" ucap Devi yang membuat Dewa semakin terkejut dengan apa yang di dengarnya, tidak disangka seorang Issabel yang dia kenal sekejam itu.
"Issabell membuat wanita itu seolah-olah kecelakaan, tidak ada petunjuk yang mengarah padanya, karena tidak ditemukan kalau itu kesengajaan atau pembunuhan berencana"
Dewa dan Devi sama-sama terdiam, suasana seketika sepi hanya ada suara dari televisi yang masih menyala.
"Aku bersyukur Nayla bisa selamat dan baik-baik saja" Ucap Devi, tadi Dewa sudah menceritakan keadaan Nayla padanya.
"Ya, aku juga bersyukur" balas Dewa.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang Wa?" tanya Devi lagi.
"Kita selesaikan besok, sekarang kau istirahat dan tidurlah di kamarmu" jawab Dewa sambil berdiri berjalan menaiki tangga dan masuk kekamarnya.
******************************
Terima kasih sudah mampir di karya author tinggalkan jejak kalian dengan like dan komen. 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1