
Nayla POV
Besok adalah hari special buat Zein dan Mery. Akad nikah akan diadakan di masjid perumahan tempatku dan Mery tinggal, sedangkan resepsi akan diadakan di hotel Harley milik keluarga kami.
Sejak kemarin aku sudah sibuk membantu keduanya, dan hari ini mereka memintaku menemui WO yang mereka pakai untuk acara akad nikah sore ini di masjid.
Aku berjalan memasuki halaman masjid dimana Mery dan Zein akan mengikat janji suci pernikahan mereka. Atas keinginan Mery dan disetujui kedua keluarga, mereka akan melakukan akad nikah di masjid ini, masjid yang banyak memberikan kenangan indah untuku.
Seakan kembali ke masa lima tahun yang lalu, aku melangkah di jalan yang sama. Tidak ada yang berubah jalan aspal yang bersih, bunga-bunga yang tumbuh tertata rapi. Pengurus masjid merawatnya dengan sangat baik.
Kakiku mulai menaiki anak tangga satu persatu sampai akhinya aku sampai pada tempat penitipan sandal dan sepatu. Ku titipkan sepatuku pada penjaga dan dia memberikan nomor tempat penyimpananku. Ini sudah sangat baik, berbeda dengan lima tahun yang lalu. Mungkin banyak yang mengalami hal yang sama dengan ku dulu sehingga pengurus masjid membenahi keamanan masjid ini.
Tapi tidak bisa di bohongi karena sandalku yang hilang aku bisa bertemu kak Nuno. Aku hanya bisa menggelengkan kepala mengingat itu sebagai awal pertemuan kami.
"Kak Nuno apa kabar mu saat ini?"
Aku teringat Hans, dia akan sampai Jakarta sore ini bersama Alex. Belum ada kabar darinya sejak tadi. Ku ambil handphone ku yang ku simpan di tas untuk menghubungi Hans. Tapi sayang sepertinya aku kurang beruntung. handphone ku kehabisan daya.
"Baiklah Nayla, selesaikan tugas hari ini lalu pulang" aku menyemangati diriku sendiri. Semoga saja aku bisa sampai di rumah sebelum Hans datang.
Meneruskan langkahku masuk kedalam masjid. Sudah tampak sebagian hiasan bunga-bunga di dinding masjid dan ada beberapa pekerja yang memasang lampu-lampu hias.
Ku dekati pekerja yang mungkin saja tahu dimana pimpinan mereka. Ternyata pemilik WO ini belum datang dan hal yang sangat tidak aku sukai adalah menunggu.
Aku kembali keluar, duduk di tangga menatap pada danau yang ada di halaman masjid ini. Danau cinta, nama yang diberikan Citra untuk danau ini.
Cinta? Aku jadi ingat Hans. Dia mencuri ciuman pertamaku untuk membuktikan ada cintaku untuknya.
flash back
Malam itu Sandy memutuskan untuk menginap, menemani Nayla yang hanya sendiri di rumah.
Selesai makan malam Sandy dan Nayla duduk di ruang keluarga, menghabiskan waktu menonton televisi walau tidak ada acara yang menarik.
"Hans, tiga minggu lagi pernikahan Mery dan Zein" ucap Nayla lalu membalikan badanya yang tidur di pangkuan Sandy untuk menatap pria itu.
"Lalu?" tanya Sandy menggoda Nayla, walau sebenarnya dia tahu maksud dari Nayla membicarakan itu.
"Tidak ada" ucap Nayla kembali menatap televisi yang menayangkan drama korea.
Sandy sangat senang melihat Nayla yang kesal seperti ini. Di cubitnya hidung mancung itu.
"Menggemaskan" ledeknya sambil terus menarik hidung Nayla.
"Hans... sakit" rengek Nayla sambil bangun dari pangkuan Sandy dan menjauh.
"Apa kau sudah siap menikah denganku?" tanya Sandy pada Nayla.
Nayla hanya diam tidak bisa menjawab. Di satu sisi dia sangat nyaman dengan kehadiran Hans di lain sisi dia masih ragu untuk melangkah ke pernikahan.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Sandy lagi sambil mendekat pada Nayla.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaksamu kalau kamu belum yakin untuk menikah" ucap Sandy lagi.
"Aku siap bertunangan" jawab Nayla.
"Kau yakin? Aku ingin bertunangan hanya satu bulan dan menikah" ucap Sandy yang membuat Nayla terdiam.
Sandy mengangkat dagu kekasihnya itu, meminta Nayla untuk menatap matanya. Kini pandangan mereka bertemu, perlahan Sandy mendekatkan wajahnya. Disatukannya keningnya menempel pada kening Nayla, merasakan hangat hembusan nafas, ada debar jantung terdengar tak beraturan dari keduanya.
Disentuhnya bibir tipis itu perlahan dengan bibirnya tak ada perlawanan dari yang punya. Sandy mengecup dengan lembut dan menempelkannya cukup lama. Tanpa Nayla sadari dia membalas ciuman Sandy, saling mengulum dan berbagi saliva sampai akhirnya mereka kehabisan nafas.
"Sudah yakin?" tanya Sandy setelah melepas ciumannya, diusapnya bibir tipis yang selalu menggodanya.
"Hans, kau mencuri ciuman pertamaku" ucap Nayla.
"Aku hanya ingin kau yakin dengan perasaanmu La, bagaimana sekarang?"
"Kamu siap menikah denganku?" tanya Sandy.
"Hans kau memaksaku untuk menikah dengamu dengan mengambil ciuman pertamaku" ucap Nayla sambil mengerucutkan bibirnya. Sandy terkekeh.
"Lalu?" tanya pria itu.
"Iya" jawab Nayla.
"Iya apa?" tanya Sandy lagi.
"Iya aku siap menikah denganmu" ucap Nayla sambil berjalan ke kamarnya meninggalkan Sandy.
"Hans jangan ganggu aku lagi" teriak Nayla dan langsung menutup pintu kamarnya mengunci rapat-rapat.
"Nayla, kamu Nayla kan" seseorang memanggil namaku membuat aku tersadar.
"Hai, aku Dina. Kita satu sekolah saat SMP" ucapnya.
Ternyata dia Dina temanku saat SMP. Tentu saja aku sedikit lupa, sudah sangat lama kami tidak bertemu. Kami saling bertanya kabar dan sedikit becerita mengingat masa lalu.
"Kenapa kau duduk disini?" tanya Dina padaku.
Aku baru sadar kalau aku menunggu WO yang mengurus pernikahan Zein dan Mery.
"Aku menunggu pemilik WO yang mengurus acara akad nikah besok disini" jawabku.
Ternyata Dina adalah orang yang dari tadi kutunggu. Aku mengatakan pada Dina kalau aku diminta kedua mempelai sebagai sahabat dan saudara untuk menanyakan persiapan besok.
Dina mengatakan kalau tidak ada masalah. Semua berjalan lancar, pengurus masjid merasa terhomat keturunan dari Harley akan menikah disini. Masjid ini akan di hias full besok dengan bunga segar setelah sholat subuh, mengingat ini bukan masjid pribadi tentu saja masih banyak jamaah yang akan melakukan sholat berjamaah.
"Waktunya pulang dan istirahat" pikirku setelah selesai berdiskusi dengan Dina. Aku keluar masjid menatap kedepan, bayangan kak Nuno menunggu dibawah tangga masjid kembali terlintas.
Ku usap wajahku, lalu menuruni anak tangga masjid. Pandanganku beralih pada bangku yang ada di depan danau, tanpa terasa kakiku melangkah mendekat dan berakhir duduk disini.
Ku edarkan pandanganku kesemua penjuru, tidak banyak yang berubah. Tempat ini masih sama seperti lima tahun yang lalu.
__ADS_1
Bangku ini sebagai saksi bisu kak Nuno melamarku, setiap kata dan ucapannya kembali mengisi ingatan yang ingin ku lupa.
Mengapa aku harus kembali di tempat ini disaat aku merasa yakin melangkah bersama Sandy?
Ku tarik nafas panjang dan ku hembuskan berlahan. Berkali-kali ku lakukan untuk menenagkan kembali hatiku.
"Nay..." suara yang sangat ku kenal memanggilku.
"Sudah lama kita tidak bertemu" kupalingkan wajahku mencari siapa yang berbicara padaku.
"Kak Nuno" panggilku saat melihatnya.
Benar dia kak Nuno yang berdiri disana menatap padaku, yang memanggil namaku dan menyapaku.
Kak Nuno berjalan mendekatiku. Tersenyum seperti biasa seakan tidak ada yang terjadi diantara kami.
"Bagaimana kabarmu Nay?" dia bertanya padaku dan duduk disampingku.
"Baik kak, bagaimana dengan Kakak?" tanyaku.
Sudah tidak ada lagi perasaan takut bertemu lagi denganya. Walau sedikit canggung untuk bicara dengannya. Ada jarak yang harus dijaga tidak seperti biasa kami bertemu.
"Aku juga baik, sekarang sudah pindah ke Jakarta" ucapnya memberi tahuku tentangnya.
"Siapa yang menikah?" tanyanya lagi.
"Mery dan Zein" jawabku.
"Benarkah? lalu kapan kamu akan menikah?" Aku hanya diam tidak menjawab pertanyaannya, dan dia hanya tersenyum.
Kulihat wajahnya tampak lelah, sedikit lebih kurus dan terlihat garis-garis penuaan.
"Kak, kenapa kakak sekarang kurus?" tanyaku.
"Kakak pasti sibuk bekerja sehingga tidak memperhatikan makan dan istirahat" ucapan ku mengalir seperti biasa, sama seperti saat aku memintanya untuk menjaga kesehatan.
Dia menceritakan yang terjadi selama kami berpisah. Setelah aku memutuskan untuk melepaskannya dia berheti bekerja dan memulai usaha barunya.
Usaha yang kelak akan di wariskanya pada bayi yang sedang di kandung mbak Silvia. Mendengar ceritanya aku ikut bahagia. Kini kak Nuno sudah bisa melangkah memikirkan masa depan keluarganya.
Berbagi cerita dan bicara padanya tidak seburuk yang kubayagkan selama ini. Walau ada perasaan canggung di awal tapi mencair setelah kami merasa nyaman untuk berbagi.
Rasa itu telah pergi. Itu yang kurasakan. Tidak ada lagi debaran jantung yang tidak berirama. Seiring waktu sudah membuat kami berubah.
"Lala" aku mendengar Hans memanggilku.
Aku berlari meninggalkan kak Nuno dan menghampiri Hans. Memeluknya erat, sangat erat. Aku ingin mengatakan kalau aku benar-benar mencintainya dan tak ada lagi cinta yang tersisa untuk yang lain.
**************************
Terima kasih sudah mampir di karya author tinggalkan jejak kalian dengan like dan komen. 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1