
Satu bulan berlalu, cukup bagi Shinta memberi waktu bagi Reyhan untuk bisa menjelaskan semuanya, namun tidak ada sedikitpun tanda-tanda dari Reyhan untuk memberitahu kebenaran yang sebenarnya antara dia dan Cindy.
Sejak menemukan Reyhan dan Cindy di halaman depan kediaman utama Harley Shinta sudah menaruh curiga, dia melihat mata Cindy yang merah dan kecangunggan keduanya saat dia datang. Ketika Alex menyapa Cindy yang seperti sudah kenal lama "Senang bisa bertemu dengan mu lagi" serta penjelasan Sandy dari pertanyaan Mery yang menanyakan keakraban mereka "Kami teman satu sekolah" itu menandakan kalau Reyhanpun sudah mengenal Cindy lama.
Tiga hari kepulangan mereka tidak ada satu katapun dari Reyhan tentang Cindy, akhirnya Shinta meminta bantuan Zein dan Mery yang masih menetap di Belanda untuk memeriksa CCTV halaman depan. Begitu terkejutnya Zein dan Mery saat melihat Reyhan memeluk Cindy, mereka menghubungi Nayla apa yang harus mereka lakukan. Nayla meminta mereka untuk memberikan kebenaran apa yang terjadi pada Shinta setelah dia bertukar pendapat dengan Sandy.
Shinta mengetahui kebenarannya tapi tidak juga ada penjelasan dari Reyhan yang ditunggunya. Reyhan memang tidak berubah dalam sikapnya, dia tetap menjadi suami yang memberikan perhatian padanya tapi tetap saja Shinta ingin mendengar penjelasan langsung dari Reyhan dan menginginkan kejujurannya.
Shinta memilih jalan untuk sementara waktu menjauh dari Reyhan, dia ingin suaminya menemukan kebenaran di hatinya siapa yang dicintainya saat ini.
Reyhan pulang lebih cepat hari ini tapi dia tidak melihat Shinta yang akan keluar bila mendengar suara kendaraannya datang.
"Dimana istriku" tanya Reyhan pada pembantunya saat tidak menemui Shinta yang biasanya menyambutnya.
"Ibu tidak dirumah pak" jawab pembantu itu membuat Reyhan sedikit berpikir.
Reyhan mengeluarkan telepon selularnya dan mengecek pesan yang masuk, mungkin saja Shinta mengirimnya kabar. Namum tidak ada pesan yang dia cari, dia langsung menghubungi Shinta dan nomornya tidak dapat dihubungi.
"Kemana?" tanyanya lagi karena tidak dapat menghubungi istrinya.
"Saya tidak tahu pak. Tapi ibu membawa tas besar sepertinya membawa pakaian" jelas pembantunya mengatakan seperti apa yang dipesan oleh Shinta.
Reyhan semakin berpikir "Ada apa?" gumamnya sambil mencoba menghubungi seseorang.
Orang yang dihubunginya adalah Koko yang selalu ada di kediaman Mama Syila saat ini, karena perkiraannya Shinta mungkin menginap disana hanya saja lupa memberitahunya. "Apa Shinta ada disana?" tanya Reyhan saat panggilannya tersambung. "Tidak ada" jawab Koko jujur.
Reyhan berjalan kekamarnya untuk melihat keadaan didalam setelah menutup percakapannya dengan Koko, tidak ada yang berbeda semua tersusun rapi sama seperti saat dia meninggalkannya tadi pagi. Reyhan menghubungi Nayla "Apa Tetehmu ada di kediamanmu Nay?" tanya Reyhan saat Nayla mengangkat telepon darinya.
"Ada apa? Tidak ada di tempatku" jawab Nayla sambil menahan senyumnya karena Shinta sudah memberitahunya tadi siang kalau dia ingin menghilang sesaat dari hadapan Reyhan.
"Siapa sayang?" Tanya Sandy saat melihat Nayla tersenyum setelah menerima panggilan Reyhan.
"Bang Rey, sepertinya Teh Shinta sudah menjalankan rencananya" jawab Nayla sambil menjelaskan.
"Apa kamu akan melakukan hal yang sama kalau aku seperti itu?" tanya Sandy sambil memeluk istrinya.
__ADS_1
Nayla menatap Sandy "Tidak" jawabnya tegas.
"Benarkah? Kenapa?"
"Karena kamu tidak akan melakukan seperti yang Bang Rey lakukan" jawab Nayla menatap Sandy.
"Kalau aku melakukannya?" tanya Sandy lagi.
Nayla tersenyum mendengar pertanyaan Sandy "Tidak perlu meninggalkanmu Hans, aku cukup mengunci mulutku untuk tidak bicara denganmu" jawabnya.
"Dan aku akan membukanya seperti ini" Sandy mencium bibir Nayla.
Reyhan baru saja selesai membersihkan dirinya, dia berjalan ke lemari untuk mengambil pakaiannya sendiri. Biasanya dia tinggal memakai pakainnya langsung karena Shinta selalu menyiapkan semua.
Lemari pakaian terbuka, Reyhan menemukan telepon selular milik Shinta.
"Dia tidak membawa telepon selularnya?" gumam Reyhan dalam hati. Dia terus berpikir kenapa Shinta pergi dan meninggalkan satu-satunya alat komunikasi yang bisa dia pakai untuk mengetahui keadaan istrinya.
Dimeja makan Reyhan merasa kesepian, setiap makan dia tinggal menyendokkan makanan kemulutnya, semua sudah disiapkan Shinta dengan senyum. Menginggat itu rasa laparnya hilang, dia kembali kekamar sambil berpikir mengapa Shinta pergi? saat dia pergi keperusahaan semua baik-baik saja.
"Aku sudah mengirimnya. Jangan sampai Teteh tahu" ucap Putra pada Liana. Mereka diminta Nayla untuk menemani dan menjaga Shinta dan diminta mengirim foto atau video Shinta pada Reyhan disaat Shinta sedang sendiri dan merenung. Nayla mengatur semuanya, dia tidak ingin Shinta terlalu lama meninggalkan Reyhan dan ingin Reyhan segera menyadari kesalahannya.
"Ini siapa?"
"Istriku ada dimana?"
"Bisakah aku bicara dengannya?"
Reyhan membalas pesan yang dikirimkan Putra. Dia ingin bicara dengan Shinta. Menanyakan ada masalah apa? dan ingin menjemputnya pulang.
"Saya tidak sengaja bertemu dia dan melihatnya tampak sedih. Saya ingat kalau dia adalah istri anda Tuan Reyhan, karenanya saya mengirimkannya pada anda"
"Apa ada masalah, coba anda renungkan! mungkin ini kesalahan anda sehingga dia menanggis"
Putra membalas tanpa memberi tahu tempat dia dimana. Mereka bertiga sedang makan malam di sebuah restoran kecil tidak jauh dari rumah Liana dimana Shinta untuk sementara tinggal.
__ADS_1
Reyhan melakukan panggilan pada nomor yang dipakai Putra, melihat itu Putra menyerahkan Telepon selularnya pada Liana "Sesuai rencana" ucapnya.
Liana mengerti dan menjawab panggilan tersebut. "Halo, kalian dimana? apa kamu kenal saya?" Reyhan langsung mengajukan pertanyaan setelah panggilannya tersambung.
"Kami sedang di restoran, saya tidak menggenal anda tapi saya mengenal Shinta, dia satu kampus dengan saya dan saya tahu dia menikah dengan anda" jawab Liana.
"Bisakah saya bicara denganya?" Reyhan memohon.
"Maaf saya tidak begitu akrab dengan Shinta, saya yang mengenal dia tapi dia tidak mengenal saya"
"Sepertinya dia sedang sedih dan melihat dia datang sendiri, saya yakin ini karena sedang ada masalah dengan anda"
"Sayang ayo kita pulang" Putra sengaja memanggil Liana.
"Maaf Tuan Reyhan, suami saya memanggil, saya tutup pangilan telepon anda" Liana langsung menutup teleponya.
Mereka sengaja untuk tidak semudah itu memberi tahu keberadaan Shinta, biarkan Reyhan menemukan kesalahannya sendiri.
Reyhan mengemudikan kendaraannya sambil melakukan panggilan telepon, dia menemukan lokasi dari telepon selular yang menghubunginya. Dia sampai di restoran yang dikunjungi Shinta, tapi dia tidak dapat menemukan istrinya.
"Apa Shinta tahu tentang Cindy?" batinnya sambil menikmati makanan yang sama yang dipesan Shinta dan duduk di bangku yang sama yang diduduki istrinya.
Reyhan menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar, dia tahu ini, suatu saat Shinta akan mengetahuinya tapi tidak berpikir kalau istrinya akan pergi meninggalkannya.
"Apa kamu memberi tahu tetehmu tentang Cindy?" tanya Reyhan saat panggilanya tehubung dengan Nayla.
Sandy yang menjawab panggilan itu "Nayla suda tidur, Nayla tidak memberitahu apapun pada Shinta" jelas Sandy.
"Apa kamu butuh teman bicara? datanglah ke...... " belum selesai Sandy bicara dia mendengar seorang wanita menyapa Reyhan.
"Reyhan" suara yang sangat dikenal Reyhan memanggil namanya.
...**********************...
Terima kasih sudah mampir di karya author tinggalkan jejak kalian dengan like dan komen. 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih untuk pembaca yang sudah memberikan vote, hadiah, koment dan like. Apapun itu sudah jadi semangat buat author tetap menulis.