
Sandy POv
Udara diluar semakin dingin, aku mengajak Lala untuk masuk kedalam, kembali ke acara pernikahan Reyhan dan Shinta. Kami duduk di meja tempat khusus keluarga. Masih banyak tamu yang mengantri untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai, mungkin karena tamu undangan yang terlalu banyak.
Aku memberikan secangkir teh hangat untuk Lala agar bisa membantu menghangatkannya.
"Sandy" Alex menghampiriku
"Anak-anak meminta mu tampil di panggung. Dari tadi mereka mencarimu, sudah lama mereka tidak mendengar suaramu bernyanyi" ucapnya.
Memang sudah lama aku tidak pernah menunjukkan lagi bakat bernyanyiku di depan umum.
"Ayolahhh, nyanyikan lagu buat Nayla" bisik Alex membujukku.
Aku menatap Lala , meminta ijin padanya. Bagaimanapun Lala adalah orang yang harus ku jaga perasaannya, mungkin saja dia tidak suka aku bernyanyi diatas panggung. Ku lihat dia hanya menggangguk Lala mengijinkanku.
Sekarang aku berdiri disini. Ku lebarkan pandanganku sebelum memulai.
"Terima kasih sudah memberi saya kesempatan untuk berada disini. Lagu ini saya persembahkan untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia" tampak Reyhan melambaikan tangannya bersama Shinta.
"Dan untuk seseorang yang sangat special Lala" ucap ku, aku tersenyum melihat dia menatapku saat ku sebut namanya.
Tepuk tangan dari teman-temanku yang sudah berdiri di dekat panggung memberikan dukungan.
Suara intro musik sudah terdengar, ku tatap Lala dari kejauhan yang masih setia melihat kearahku dengan senyum indahnya.
Akhirnya ku menemukanmu
saat hati ini mulai meragu
akhirnya ku menemukanmu
saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkaulah
jawaban sgala risau hatiku
dan biarlan diriku
mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika Nanti ku sanding dirimu
miliki aku dengan segala kelemahanku
dan jika nanti kau di sampingku
jangan pernah letih tuk mencintaiku
Mery dan Zein mengajak Lala mendekat, menuntunnya keatas panggung, tentu saja dengan senang hati kusambut dan ku genggam erat tanganya. Ku tatap wajahnya yang merona merah.
Lagu milik Naff yang kunyanyikan menggambarkan isi hatiku yang kurasakan saat ini. Zein memberikan mic pada Lala.
Akhirnya ku menemukanmu
__ADS_1
saat hati ini mulai meragu
akhirnya ku menemukanmu
saat raga ini ingin berlabuh
Dia ikut bernyanyi bersamaku, mengeluarkan suara merdunya. Aku ingat kalau dia memang pandai bernyanyi, karena itulah Zein dan Mery memintanya naik ke panggung bersamaku.
Jika Nanti ku sanding dirimu
miliki aku dengan segala kelemahanku
dan jika nanti kau di sampingku
jangan pernah letih tuk mencintaiku
Kulihat banyak yang bertepuk tangan mengapresiasi penampilan kami.
"Terima kasih" ucap ku pada semua yang hadir dan tentu saja ku ucapkan terima kasih pada Lalaku. Ku lihat Reyhan dan Shinta melambaikan tangan mereka meminta kami mendekat.
"Sayang, kita mengucapkan selamat dulu pada mereka" sambil ku tujuk Reyhan dan Shinta.
Shinta langsung menarik tangan Lala saat kami sudah mendekat.
"Nay kamu kemana aja, dari tadi di panggil untuk foto bersama" terlihat Shinta sedikit kesal dan Lala hanya tersenyum menanggapi kekesalan Shinta.
"Kalian mojok ya" goda Shinta pada Nayla.
"Teteh maaf, tadi di dalam terlalu ramai, enngap tau. Jadi Nay keluar sebetar" ucapnya memberi alasan. Lala dari dulu tidak berubah. Dia akan selalu meminta maaf untuk segala hal.
Sesi foto bersama pun selesai. Kami turun dari panggung pelaminan. Tamu sudah terlihat berkurang, suasana sudah tidak seramai tadi, tapi tetap terlihat beberapa kelompok undangan berkumpul entah apa yang mereka bicarakan.
"Sandy" seseorang memanggilku, ternyata Issabel. Mau apa lagi dia, pikirku.
"Sudah lama kita tidak bertemu ya ndy, aku kangen sama kamu" Issabella tiba-tiba bergelayut ditanganku. Aku kembali memasang muka dinginku, sambil melepaskan tanggannya.
"Pantas saja kamu lupa sama aku, ternyata kamu sudah ada yang baru" ucapnya sambil menatap sinis Lalaku.
Alex mendekat, syukurlah dia selalu hadir disaat yang tepat. Langsung saja ku beri kode untuk menjauhkan Issabel dari kami.
"Issabel, apa kau tidak merindukanku" Alex mengalihkan perhatian Issabel.
"Alex, tentu aku merindukan mu, kau tampan sekali malam ini. Tapi tetap saja kau tidak setampan kekasihku Sandy, iya kan Sayang" wanita gila ini sudah semakin berani. Aku hanya takut Lala berpikir buruk padaku.
Tanpa bicara ku peluk erat Lala dan mengajaknya menjauh dari wanita murahan itu. Ku ajak dia duduk, harus segera ku jelaskan tentang Issabel.
"Jangan salah paham, aku tidak ada hubungan apapu dengannya. Dia teman ku dan Reyhan juga Alex saat SMU. Dari dulu dia memang begitu mengganggap aku adalah kekasihnya, padahal aku tidak pernah dekat dengannya. Tapi dia membuat semua siswi yang ada di sekolah menjauhiku. Tidak ada yang berani mendekatiku karena ancaman dia. Entah kenapa dia bisa semenakutkan itu bagi siswi di sekolah" ucap ku menjelaskan.
"Tidak apa-apa, itu hal yang wajar kalau ada orang yang menyukai kita. Atau kita menyukai seseorang. Bukan salah dia atau kita, hanya saja cara menyikapinya harus lebih baik A" ucapnya.
"Jangan hanya dibiarkan seperti tadi, seharusnya kamu sempatkan untuk bicara baik-baik dengannya A" dia mencoba menasehatiku.
Aku bersyukur Lala wanita yang berpikir dengan menggunakan logika bukan dengan emosi.
"Mbak, mau pulang sekarang atau nanti" Ayah Dimas menghampiri kami.
__ADS_1
"Sekarang Yah, Lala ingin segera istirahat" ucapnya sambil berdiri.
Aku mencoba memahaminya untuk pulang sekarang, Lala pasti sangat lelah hari ini.
"A Hans, Lala pulang" ucapnya meraih tanganku dan menyalimi dan kubalas dengan anggukan. Belum jadi istri tapi dia sudah menunjukkan sikap hormatnya padaku.
"Istirahatlah jangan lupa mimpikan Pangeran Hans" godaku. Dia hanya tersenyum. Aku mendekat pada ayah Dimas, meraih tanganya dan menyaliminya.
"Ayah tunggu niat baikmu" ucap ayah sambil menepuk bahuku dan berlalu tanpa menunggu jawabanku. Ayah Dimas sudah memberikan lampu hijau nya untuk hubungan kami.
"Secepatnya Yah" gumamku.
Nayla POv
Sekarang sudah pukul 22.00 WIB aku baru selesai sholat Isya. Walau terkena air membersihkan muka dan wudhu tapi tetap saja tidak bisa menahan kantuk ku.
Ting. Ku lihat ada pesan dari Hans yang masuk di hp ku.
Sandy [La]
Mata ku sudah berat, malas untuk mengetikan sesuatu.
Dreeet.. dreett
Dia melakukan VC, dengan malas ku sambungkan. Wajahnya sudah terlihat segar, rambutnya masih sedikit basah, sepertinya baru saja selesai membersihkan diri.
"A Hans" teriakku melihat dia belum memakai pakaiannya saat dia sedikit menjauhkan kameranya terlihat hanya memakai celana pendek.
"Kenapa" tanyanya sambil terkekeh. Aku tidak mau menjawab dan tidak mau melihat ke kamera.
"Lihat sini" aku menggelengkan kepalaku.
"Aku sudah memakai pakaian" ku lihat kamera dan menutup mataku dengan jari. Ku dengar dia tertawa. aku coba mengintip dan benar dia sudah memakai kaos oblong putih. Wajahnya yang sudah segar terlihat semakin tampan.
"Jangan di ulangi" ucapku.
"Kenapa? Bukankah dulu saat mengajarimu berenang aku juga tidak memakai pakaiannku" dia mengingatkan masa kecil kami.
"Itu sudah sangat lama, dan kita masih kecil" jawabku. Berdebat dengannya tidak membuat kantuk ku hilang.
"Nanti juga kau akan terbiasa melihatku seperti tadi" dia menggodaku.
"Kamu akan tidur sekarang La?"
"Aku ngantuk A"
"Tidurlah, tapi jangan dimatikan sambungannya, aku akan menemanimu" kulihat dia tersenyum memintaku menyenderkan hp yang ku pegang dan menyuruhku tidur.
"Tidur lah"
Aku sudah terlalu mengantuk, hanya mengikuti saja apa yang di perintahkannya. Dia terus mengajakku bicara, terkadang terdengar jelas tapi juga sesekali terdengar samar-samar di telinggaku sampai aku merasa hangat seperti dalam pelukannya.
**************************
Terima kasih sudah mau mapir di karya author
__ADS_1