
Nayla membuka mata, dia bisa melihat Bunda Aisyah dan ketiga sahabatnya ada di dekatnya. Wajah mereka menunjukkan ke khawatiran pada dirinya yang terbaring lemah, Mery yang sedang memeriksa Nayla tersenyum saat melihat sahabat yang kini jadi saudarinya sudah sadarkan diri.
"Apa yang kamu pikirkan sampai kembali tidak sadarkan diri" tanya Mery sebagai seorang doktet dia memahami kondisi Nayla.
"Aku hanya takut" jawab Nayla pelan.
"Jangan terlalu dipikirkan, Kak Sandy sangat menyayangimu dia tidak akan melakukan hal seperti kemarin lagi" jawab Mery yang tahu apa yang ditakutkan Nayla.
"Jangan dejavu, berusahala melawan dan lupakan. Kamu sedang hamil Nay, tidak baik untuk bayimu kalau kamu sering tidak sadarkan diri" Mery menepuk tangan Nayla sambil tersenyum, dia tahu sejak dulu Nayla sangat takut melihat kekerasan dan pertikaian yang disebabkan dirinya. Bila itu terjadi di hadapannya, dia akan terus teringat dan merasa ketakutan.
Nayla menganggukan kepalanya tanda mengerti apa yang dimaksud Mery, sampai saat ini dia belum bisa menghilangkan rasa takut yang disebabkan trauma masa lalu.
Perjalan jauh tidak membuatnya lelah, dia langsung pamit pada sang bunda dan pergi begitu kendaraan yang di tumpanginya sampai di kediaman kakeknya. Gadis kecil itu berlari kecil melewati jalan setapak, jalan pintas untuk cepat sampai ke danau. Dia yang sudah tidak sabar untuk bermain di danau mempercepat larinya, tanpa sengaja dia menabrak seorang anak laki-laki yang sedang bermain dengan anak-anak yang lain.
"Hei... kalau jalan lihat-lihat" bentak anak yang ditabraknya. Tubuh anak itu paling besar dibandingkan yang lain, membuat gadis kecil itu takut.
"Maaf... saya tidak melihat kamu" jawab gadis kecil itu membuat anak-anak yang lain tertawa.
"Ha...ha...ha... awakna badag tapi henteu katingali (tubuhnya besar tapi tidak keliahatan)" ucap salah satu dari anak-anak yang lain yang ada disana.
Ucapan temannya yang menertawakannya membuat anak laki-laki yang ditabrak gadis kecil itu marah, dia tidak terima jadi bahan tertawaan teman-temannya.
"Kadieu (sini kamu)" panggil anak laki-laki itu sambil berteriak pada gadis kecil yang menabraknya dan menatapnya dengan tatapan tajam.
Gadis kecil itu menggelengkan kepala, dia tidak mau mendekat pada anak laki-laki yang ditabraknya. Melihat gadis kecil itu tidak mengikuti keinginanya, anak laki-laki itu mendekati gadis kecil itu dan menarik tanganya lalu jalan sambil menyeret gadis kecil itu.
Anak-anak yang lain terdiam dari tawa mereka dan membiarkan temannya menyeret gadis kecil itu kebawah pohon.
__ADS_1
"Lepaskan" pinta gadis kecil itu dengan berteriak sambil menahan sakit ditangannya.
Bruk.
Seorang anak laki-laki menendang anak laki-laki yang menarik gadis kecil itu, membuat anak yang bertubuh besar itu terjatuh. Tidak terima ditendang secara tiba-tiba anak bertubuh besar itu melawan dan membalas. Mereka berkelahi saling pukul dan saling tendang, keduanya baru dapat dipisahkan setelah dua orang bapak-bapak yang kebetulan lewat disana melihat perkelahian itu.
"Hans... hik... hik..." Lala kecil menangis melihat Hans terluka karena menolong dirinya.
"Kamu jangan menangis La, aku tidak apa-apa" jawab Hans sambil membersihkan luka diwajahnya.
Mama Rita menginggatkan Sandy cerita masa kecilnya, yang berkelahi karena ingin menolong Nayla. "Kamu ingat?" tanyanya sambil melihat putranya yang hanya diam dan menganggukan kepala.
"Sejak saat itu Nayla tidak bisa melihat orang bertengkar dan berkelahi, apalagi perkelahian itu karena dirinya. Dia akan terus ketakutan bila teringat kembali kejadian itu" jelas Mama Rita yang mendapat cerita dari Bunda Aisyah kalau itu adalah penyebab Nayla tidak sadarkan diri.
"Kenapa kamu harus sampai berkelahi dengan laki-laki itu? Dia hanya masa lalu Nayla, Ndy?" Mama Rita menghela nafasnya dengan kasar.
"Sebentar lagi Nayla akan jadi ibu dari anakmu, dia sudah menyerahkan hidupnya untuk berjalan bersamamu"
"Bukan waktunya lagi untukmu ribut dengan laki-laki dari masa lalu Nayla apa lagi sampai berkelahi, kamu akan jadi seorang ayah bukan anak kecil lagi" Mama Rita menepuk pelan bahu Sandy.
"Maaf ma, aku tidak bisa menahan emosi" Hanya itu yang bisa Sandy ucapkan dari semua nasehat mamanya, dia sudah menyesali kejadian dua hari yang lalu.
"Aku sudah tidak ada masalah lagi dengan laki-laki itu ma, kami sudah berdamai" jelas Sandy kalau dia dan Nuno sudah saling minta maaf dan memaafkan.
"Tapi Nayla belum tahu" jawab Mama Rita yang menyadarkan Sandy kalau dia memang belum menceritakan perdamaiannya dengan Nuno.
Sandy sampai di kediaman Ayah Dimas, dia langsung meluncur membawa kendaraannya setelah berbicara dengan Mama Rita yang banyak memberinya petuah. Sandy ingin menemani Nayla malam ini dan tidak ingin meninggalkan istrinya, dia masuk saat Bi Ati membukakan pintu "Istri saya sudah tidur bi?" tanyanya, saat melihat sudah tidak ada yang berkumpul di ruang keluarga seperti biasanya.
__ADS_1
"Mbak Nay ada di kamar Den, tapi bibi tidak tahu sudah tidur apa belum"
Sandy berjalan menuju kamar Nayla setelah mendapat jawaban dari Bi Ati, dia membuka pintu dengan pelan takut membangunkan istrinya yang mungkin sudah tertidur.
"Maaf kan aku sayang" kecup Sandy kening Nayla saat ikut berbaring disisi istrinya yang sudah terlelap, dia segera membersihkan diri dan berganti pakaian saat masuk dan melihat Nayla yang sudah pergi kealam mimpi.
Tangan kekarnya memeluk Nayla dan matanya ikut terpejam, hari ini terasa sangat melelahkan karena harus melakukan perjalanan pulang pergi Jakarta - Bandung dan harus menyelesaikan pekerjaan yang dia tinggalkan diakhir pekan kemarin.
Nayla bisa merasakan ada hembusan nafas diwajahnya saat dia terjaga dari tidurnya, dia tersenyum saat membuka mata melihat wajah Sandy yang terlelap. Nayla memasukan kepalanya kedalam dekapan Sandy, dia ingin merasakan pelukan hangat yang bisa mendamaikan hatinya.
"Kamu sudah bangun sayang" gerakan Nayla membuat Sandy ikut terjaga, "Hemm" jawab Nayla yang kembali memejamkan matanya.
Sandy bergerak ingin merenggangkan pelukanya dan melihat wajah Nayla. "Jangan lepaskan pelukannya" pinta Nayla membuat Sandy mengurungkan niatnya dan hanya mengecupi pucuk kepala istrinya.
"Kenapa harus memaksakan diri kembali ke Jakarta?" tanya Nayla yang masih ingin dalam dekapan Sandy.
"Aku tidak bisa tidur tanpa kamu" jawab Sandy sambil mengangkat wajah Nayla agar bisa dilihatnya.
"Gombal" ucapan Nayla membuat Sandy tertawa kecil "Sekarang bukan lagi waktunya untuk menggombal sayangku" jawabnya dan kembali memeluk erat istrinya.
"Lala maafkan aku, aku sungguh tidak tahu cerita masa lalu kita membuatmu jadi selalu merasakan takut" Sandy semangkin erat memeluk Nayla, terbayang olehnya bagaimana Nayla melewati hari-harinya melawan ketakutan yang disebabkan dirinya.
"Aku janji tidak akan melakukannya lagi, jangan takut lagi sayang" Sandy merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Nayla. "Aku berjanji demi anak kita" usap Sandy perut Nayla yang masih rata.
Nayla tidak menjawab, dia lebih memilih masuk kedalam dekapan Sandy untuk merasakan kehangatan dan kenyamanan pelukan sang suami.
...*********************...
__ADS_1