AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
TIDAK AKAN BERUBAH


__ADS_3

Nuno POV


Setiap hari aku selalu merindukan gadis kecil calon istri ku. Tidak mudah menjalani hubungan jarak jauh, apalagi dengan anak sekolahan. Aku harus belajar mengendalikan jiwa remajanya yang sedikit egois.


Setiap tiga bulan aku mengunjunginya selama satu minggu.Tak terasa sebentar lagi dia akan lulus sekolah. Dia telah diterima di universitas terkenal di Bandung melalui jalur prestasi. Gadis kecilku anak yang pintar karenanya aku bersedia menunggunya dua tahun lagi untuk menikah.


Papi memberi kabar kalau mami sedang sakit, dia memintaku untuk pulang ke Solo. Minggu depan adalah jadwalku mengunjungi Nayla, biasanya aku akan ke Jakarta terlebih dahulu bertemu Nayla dan baru pulang ke Solo untuk menemui papi dan mami.


Sekarang aku pulang menjengguk mami terlebih dahulu. Ternyata mami sengaja memintaku pulang karena dia sudah menyiapkan pertemuanku dengan calon istri pilihannya. Aku menolak keinginan mami.


"Mam, aku mencintai Nayla, aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai" terjadi perdebatan diantara aku dan mami. Papi menepuk bahuku, mengajakku keruang kerjanya. Papi menyuruh ku duduk dihadapannya.


"Mami akan operasi" ucapnya.


"Keberhasilannya hanya empat puluh persen, mamimu ingin menepati janji pada sahabatnya untuk menikahkan kamu dengan anak sahabat mami, sebelum terjadi apa-apa dengannya" papi menjelaskan padaku.


"Mami tidak ingin opersai sebelum kamu menikah dengan Silvia" kenapa aku tidak asing dengan nama itu pikirku.


"Papi tahu Nayla yang kamu cintai, dia cantik, sopan dan baik tidak ada yang meragukan itu, tapi tidak ada salahnya, temuilah dulu calon pilihan mamimu untuk membuat dia bahagia" pinta papi kepadaku.


Aku mengikuti saran papi untuk bertemu Silvia. Mami yang membuatkan janji dimana dan kapan kami akan bertemu.


Sekarang aku disini di sebuah kafe di tengah kota solo menunggu kedatangan Silvia. Tadinya mami meminta aku menjemput kerumahnya, tentu aku menolak itu, aku tidak terbiasa satu mobil dengan orang yang belum ku kenal, apa lagi itu wanita.


"Selamat sore" sapa seseorang padaku, aku melihat kearah suara itu. Kulihat seorang wanita cantik yang menyapaku. Sepertinya aku pernah bertemu dengannya.


"Saya Silvia" dia menyebutkan namanya. Mendengar nama itu aku mempersilakan dia duduk di depanku.


"Mas Nuno apa kabar?" tanyanya. Aku tidak menjawab pertanyaannya, tapi balik bertanya


"Apa kita pernah bertemu?" karena dia seperti sudah sangat mengenalku.

__ADS_1


"Iya, waktu kita masih SMP" katanya.


"Sudah lama sekali, pantas saja saya tidak mengingat nya" balasku. Kulihat dia sedikit kecewa dengan jawabanku.


"Kau tahu kenapa kita bertemu?" aku langsung menayakan nya. Tidak perlu berbasa-basi pikirku.


"Saya tahu karena kita akan menikah" suaranya bergetar, sepertinya dia gugup.


"Kenapa kamu menyetujui menikah denganku?" Dia tersenyum mendengar pertanyaanku.


"Karena saya sudah lama menyukai Mas Nuno" jawabnya.


Aku tidak menyangka dengan apa yang diucapkannya. Kupikir dia juga terpaksa dengan pernikahan ini sehingga mudah bagiku untuk memberi alasan pada mami. Ini semakin rumit, hanya aku yang menentang pernikahan ini.


"Kalau aku menolak pernikahan ini bagaimana?" tanyaku.


"Kenapa, apa saya kurang baik untuk Mas Nuno?" dia balik bertanya.


"Saya tidak tau apakah kamu baik atau tidak untuk saya, karena saya tidak mengenal kamu. Tapi bukan itu yang menjadi alasan saya untuk membatalkan pernikahan ini. Karena saya sudah mempunyai tunangan" Dia terkejut dengan ucapannku.


"Apa kamu masih ingin meneruskan pernikahan ini?Setelah kamu tahu hati saya tidak bisa saya berikan kepadamu"


"Aku akan tetap menerima keputusan orang tua kita" dia benar-benar ingin melanjutkan pernikahan ini.


"Baiklah, jangan menyesal seandainya kamu dan saya jadi menikah tapi saya tidak bisa menyentuhmu. Dan satu hal lagi mungkin kamu tidak akan tinggal bersama saya, jadi pikirkan baik-baik " aku berdiri pergi meninggalkannya sendiri.


"Bagaimana pertemuanmu dengan Sivia?" tanya papi.


"Besok aku akan menemui Nayla pi, akan Nuno bicarakan dulu dengannya masalah ini" jawabku.


"Papi yakin Nayla akan mengerti, sejujurnya papi juga sangat ingin dia yang menjadi menantu papi. Tapi kesehatan mami sekarang yang jadi utama bagi papi". Mata papi berkaca-kaca, belum pernah aku melihat papi sesedih ini.

__ADS_1


Aku sampai Jakarta sudah malam, jadi aku memutuskan akan menemui Nayla besok pagi, kebetulan besok acara perpisahan sekolah Nayla, dan aku pernah berjanji akan menemaninya di acara itu.


Nayla sangat senang melihat ku sudah duduk manis di meja makan bersama ayahnya dan Eza. Kami sarapan bersama lalu pergi ke gedung dimana acara perpisahan diselengarakan.


Acara berjalan baik, di akhir acara seseorang bernyanyi dan pandangannya tidak pernah teralihkan menatap Nayla. Nayla sepertinya tidak ingin memperdulikan apa yang ada di panggung dia terus menggenggam tanganku tanpa melepaskannya walau sebentar.


Benar saja yang kuduga kalau anak laki-laki itu menyukai Nayla. Dia menghampiri kami yang hendak masuk kemobil. Aku tidak menyukai ini, tapi aku juga tidak bisa melarang orang untuk menyukai Nayla.


Nayla memperkenalkan aku sebagai tunangannya kepada anak laki-laki itu yang namanya Rino. Nayla aku harap kita tidak hanya tunangan tapi menikah batinku. Terlihat kekecewaan diwajahnya dan dia berlalu pergi setelah mengucapkan selamat tinggal pada Nayla.


Aku mengajak Nayla ke restoran bertemakan alam, Nayla sangat menyukai pemandangan yang indah. Aku sudah mereservasi tempat yang paling indah di restoran ini. Nayla berdiri dipagar pembatas, kuhampiri dia dan kupeluk dari belakang, aroma segar dari tubuhnya membuatku tidak ingin melepaskan pelukanku. Cup... ku kecup pipinya dengan cepat, tidak pernah kulakukan sebelumnya, sehingga membuat dia terkejut.


Kulepas pelukannku saat pelayan datang mengantarkan makanan yang sudah ku pesan. Kupaksa dia menghabiskan makanan yang ada sambil menyuapinya. Aku ingin hari ini kami makan sepiring berdua, dengan aku yang menyuapinya.


Setelah makan, kami pindah duduk diayunan. Kuraih tangannya dan kusatukan jemari ku dengan jemarinya. Ku genggam dengan erat.


"Ada apa kak?" pertanyaan itu akhirnya keluar. Aku menceritakan keadaan mami yang sedang sakit, dia mengeratkan genggaman tangan kami, seakan memberi tahu ku kalau semua akan baik-baik saja.


Aku menjelaskan masalah yang ada padanya. Aku tidak menyangka dia lebih memilih kebahagiaan mami dari pada dirinya sendiri. Walau aku memaksa untuk tetap bersamanya, tapi dia selalu meyakinkanku untuk menerima keinginan mami.


Nayla kembali berdiri dipagar pembatas. Aku mendekat padanya, kukatakan kalau aku tidak bisa


"Kakak tidak ingin ada cinta yang lain di sini" kuraih tangannya, ku letakkan didadaku.


"Kakak tetap bisa mencintai Nay dan Nay tetap bisa mencintai kakak. Cinta kita tidak akan berubah, hanya bentuknya yang berbeda. Cintai Nay sebagai adik dan Nay akan mencintai kakak sebagai kakak" ucapnya. Dia memelukku dengan erat.


"Cinta untuk kakak tidak bisa tergantikan, selalu ada di hati Nay" Dia menangis dalam pelukannku, Aku tahu ini tidak mudah untuknya dan juga untukku. Kami menangis bersama sambil berpelukan.


Nayla merenggangkan pelukan kami setelah tangis kami terhenti.


"Bahagiakan mami, maka kita juga akan bahagia" ucapnya. ku usap sisa-sisa air matanya dan kucium mata itu begantian.

__ADS_1


"Sikap kakak tidak akan berubah, apa yang biasa kakak lakukan selama ini tetap akan kakak jalani. Biarkan kakak tetap menemui gadis kecil yang semakin dewasaa ini seperti biasa" ucapku sambil mencium keningnya.


**********


__ADS_2