
Ditemani secangkir kopi dan brownis kukus kiriman dari mama Rita, Nayla duduk di sudut taman menghadap kolam. Putri dan Citra yang beberapa hari ini membuat suasana rumah ramai penuh dengan tawa dan canda ikut pulang ke Jakarta bersama Mery dan Zein.
Zein dan Mery sedang mempersiapkan pernikahan mereka yang akan dilaksanakan tiga minggu lagi. Bukan waktu yang lama untuk memenuhi janjinya pada Sandy yang akan melamarnya setelah pernikahan Zein dan Mery.
Kepulangan Putri dan Mery ke Jakarta membuat Nayla harus tinggal sendiri di rumah yang besar ini. Ada bi Ratna yang sebentar lagi akan pulang, karena malam ini tidak bisa menginap seperti yang di minta Nayla.
Ada kerinduan pada sosok laki-laki yang beberapa bulan ini menemaninya. Perhatian dan kasih sayang Sandy yang dia rasakan melebihi yang pernah dia rasakan saat bersama Nuno. Sandy lebih terbuka dalam menunjukkan sayang dan perhatiannya dari pada Nuno.
Sudah lima hari ini Nayla tidak bertemu Sandy, hanya sesekali bertukar kabar lewat pesan singkat. Nayla sengaja memberikan ruang untuk Sandy menyelesaikan masalahanya.
Teringat pertanyaan Sandy saat dirumah sakit yang menanyakan cintanya. Bukan sesuatu yang mudah bagi Nayla untuk mengatakan cinta kalau hatinya belum yakin dengan yang dia rasakan.
"Bagaimana aku bisa menerima lamarannya nanti kalau masih seperti ini?"
Nayla menutup wajahnya, mencari cara untuk meyakinkan hatinya kalau Sandy adalah tempat terakhir dia melabuhkan cintanya.
Melihat layar handphone miliknya yang menyala, ternyata laporan hasil perkembangan kasus percobaan pembunuhan terhadapnya dari orang kepercayaan keluarga Harley yang diterimanya.
Walau hanya berdiam diri di rumah Nayla terus memantau perkembangan kasusnya dan kasus orang yang pernah di cintai Sandy, karena sama-sama Issabel yang menjadi terdakwa.
Sempat merasa kecewa dan cemburu saat tahu Sandy mengunjungi pusara orang yang pernah dicintainya. Kecewa seharusnya dia menemani Sandy di saat-saat seperti ini dan cemburu karena Sandy pergi tanpa memberitahunya.
Membolak balik buku novel yang ada di tangannya tanpa bisa berkonsentrasi dengan apa yang dibacanya. Kesepian itu yang Nayla rasakan saat ini.
Nada dering ponselnya berbunyi, dilihatnya Bunda Aisyah yang sedang mengunjungi Eza di Amerika melakukan VC.
Nayla segera mengangkat pangilan itu. Tampak Eza yang masih tidur yang sedang dibangunkan Bunda Aisyah.
"Dek, gimana kamu mau jadi pemimpin perusahaan kalau bangun pagi saja susah" ucap Nayla membantu bunda yang kesulitan membangunkan Eza.
Bunda selalu VC saat dia membangunkan Eza, menunjukkan kelakuan sibungsu calon pemimpin perusahaan yang susah bagun pagi. Berbicara dengan bunda dan menjahili Eza cukup membantu mengusir rasa sepi.
Setelah mendengar Nayla kecelakaan bunda setiap hari menghubungi Nayla pagi dan sore. Saat Nayla ditabrak bunda sedang dalam perjalanan ke Amerika mengunjugi putra bungsunya yang meneruskan pendidikannya disana.
"Neng bibi pamit pulang, semua sudah bibi siapkan" pamit bi Ratna setelah melihat Nayla menutup panggilan videonya bersama bunda Aisyah.
"Iya Bi, hati-hati di jalan" jawab Nayla sambil mengambil cangkir kopi yang ada di hadapannya.
Menyesapi rasa nikmat kopi hitam yang biasa diminumnya, mencoba mencari ketenangan dan mengusir sepi sambil memandang pada air kolam yang tenang.
"Hans, Lala takut"
"Jangan takut ada aku disini, ayo kamu pasti bisa La"
__ADS_1
Byurrr
Lala meloncat kedalam danau, membuat air danau itu bergelombang, Hans mendekati Lala dan memeluknya menciumi pucuk kepala gadis kecil itu berkali-kali.
"Hebat, kamu hebat La" ucap Hans memberi pujian pada murid kecilnya itu.
"Lala bisa Hans, Lala bisa" Lala menjawab dengan penuh semangat.
Mereka berdua melompat senang sambil berpelukan karena Lala sudah berhasil meloncat ke danau memperagakan gerakan yang di ajarkan Hans.
Bayangan masa kecil yang terlintas dalam ingatannya semakin menambah kerinduan pada laki-laki kecil yang selalu memberikan keberanian padanya, gadis kecil berusia enam tahun yang belum banyak tahu apa-apa.
Nayla tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Hans yang sekarang tidak jauh berbeda dengan Hans yang dulu dia kenal. Sosok anak laki-laki yang dengan mudah mengekspresikan rasa bahagia dan sayangnya dengan memeluk dan menciumi kepalanya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?" Sandy berbisik di telinga Nayla sambil memeluknya dari belakang. Sontak saja membuat Nayla terkejut dan merinding.
Sandy datang saat bi Ratna akan pulang, dia langsung menghampiri Nayla setelah bertanya dengan bi Ratna dimana keberadaan Nayla.
"Kamu melamun" ucap Sandy yang kini berdiri di hadapannya. Nayla menggelengkan kepalanya.
"Aku ingat saat pertama kali belajar melompat ke danau" ucap Nayla yang membuat Sandy tersenyum.
"Kau merindukanku Sayang?" tanya Sandy yang sudah duduk di samping Nayla dan merangkulnya.
Lama mereka dalam posisi seperti itu, sama-sama merindukan kehangatan dan kedekatan mereka sambil menatap air kolam.
"Ayo" ajak Sandy sambil berdiri dan menanggalkan pakaiannya.
"Hans apa yang kau lakukan?" ucap Nayla yang terkejut melihat Sandy menanggalkan pakaiaanya.
"Kita berenang"
"Hans kau bukan anak 10 tahun lagi" ucap Nayla memalingkan wajahnya.
"Sekarang atau nanti kau pasti akan melihatku seperti ini, bahkan lebih" ucap Sandy sambil tertawa melihat Nayla lalu menarik tangan Nayla mendekati kolam.
"Apa masih sakit?" tanya Sandy saat melihat masih ada samar-samar bekas luka di tangan Nayla.
"Sudah tidak sakit" jawab Nayla.
"Ayo kita berenang" Sandy berjalan kekolam.
byurr....
__ADS_1
Sandy menceburkan dirinya ke kolam dan berenang disana. Nayla hanya melihatnya dari pinggir kolam, tidak ada niatannya untuk bergabung.
"La ayo, aku ingin melihat kepandain muridku sekarang" Sandy memanggil Nayla setelah melihat kekasihnya itu berjalan menjauh dari tepi kolam.
Nayla menggelengkan kepalanya menolak ajakan Sandy sambil terus berjalan. Sandy sudah membuat jantungnya berdebar tak berarturan dengan beraninya menanggalkan pakaian dihadapannnya.
"Ayo lah sayang" Sandy memeluk Nayla dari belakang dengan bertelanjang dada.
Melihat Nayla semakin menjauh Sandy naik dan mendekatinya.
"Kau membuatku basah Hans" ucap Nayla sambil berusaha melepaskan pelukan Sandy.
Bukannya lepas dari pelukan justru Sandy mengendong Nayla membawanya masuk kedalam kolam.
"Ayo aku ingin melihat kemampuanmu sekarang. Kita berlomba dua putaran" ucap Sandy.
Nayla yang sudah telanjur basah dengan terpaksa mengikuti kemauan Sandy. Menjalin hubungan dengan Sandy membuat Nayla memahami laki-laki yang ada di sisinya saat ini adalah tipe laki-laki yang suka memaksakan keinginnanya. Berbeda dengan Nuno yang selalu mengikuti keinginan Nayla.
Nayla mampu mengimbangi kekuatan Sandy. Dua putaran tidak membuatnya lelah dan masih mampu berada disisi Sandy.
"Kamu hebat sekarang La" puji Sandy sambil mendekat pada Nayla. Dipeluknya pinggang ramping itu.
"Hans" ucap Nayla yang tidak bisa meneruskan kata-katanya saat Sandy memeluknya dengan erat.
"Aku merindukanmu La" ucap Sandy berbisik di telinga Nayla sambil mengeratkan pelukannya.
Ada rasa damai yang dirasakan Sandy saat memeluk Nayla, lelah satu minggu terakhir dengan masalah yang dihadapinya seketika runtuh setelah mendapatkan kehangatan dari orang yang dicintainya.
Nayla yang mengerti kalau Sandy membutuhkannya untuk berbagi membiarkan Sandy terus memeluknya.
"Kau mengunjunginya Hans?" tanya Nayla membuat Sandy merenggangkan pelukannya pada Nayla dan memandang wajah cantik itu.
"Maaf aku tidak bisa menemanimu" ucap Nayla lirih.
Sandy melepaskan pelukannya dan menangkup wajah cantik itu.
"Maafkan aku, seharusnya aku ijin padamu untuk mengunjunginya" Sandy menyadari kesalahnnya.
Nayla melepaskan tangan Sandy dari wajahnya dan berjalan menaiki tangga kolam. Dia sudah merasa dingin berada di dalam kolam. Menggambil Handuk dan memberikannya pada Sandy.
"Bersihkan dirimu di kamar tamu, nanti ku ambilkan pakaian dalam yang baru" ucap Nayla sambil berjalan ke kamarnya.
*************************
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir di karya author tinggalkan jejak kalian dengan like dan komen. 🙏🙏🙏🙏🙏