
Haruskah Kuulangi lagi
Kata cintaku padamu yakinkan dirimu
Masihkah terlintas di dada
Keraguanmu itu susahkan hatimu
Taakan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya untukmu
Pernahkah terbesit olehmu
Akupun takut kehilangan dirimu
Ingatkah satu bait kenangan
Cerita cinta kita tak mungkin terlupa
Buang semua angan mulukmu itu
Percaya takdir kita aku cinta padamu
Taakan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya untukmu
Pernahkah terbesit olehmu
Akupun takut kehilangan dirimu
Akan kah nanti
Terulang lagi
Jalinan cinta semu
Dengar bisikku
Bukalah mata hatimu
"Nay.... ganti lagunya... bosan tau" Ucap Mery kesal.
"Hehehe. Dalem Mer" jawab Nayla sambil menyentuh dadanya.
"Makanya jangan didengerin terus-terusan, nyesek nti tu dada" sambil memajukan mulutnya.
Nayla sejak pagi mengunjungi tempat kost Mery, bahkan disaat yang punya kamar masih nyaman dibalik selimut yang memberikan kehangatan di udara dingin kota Bandung pagi hari. Tak ada yang dia lakukan, hanya mendengar kan lagu lawas yang di bawakan Dewa 19 tersebut berulang-ulang sambil menunggu Mery membersihkan diri dan merapikan kamarnya.
"Kayaknya kamu harus periksa aku deh Mer, dadaku sakit" goda Nayla.
"Eh, maaf ya nona, saya calon dokter untuk penyakit manusia bukan dokter cinta" ucap Mery kesal, walaupun dia tau Nayla hanya mengodanya.
"Hahaha. Jangan marah-marah bu dokter, nanti darah tinggi" canda Nayla.
"Nay" kini Mery bicara serius.
"Apa kamu ingin kak Nuno becerai?" tanya nya.
"What? are you crazy Mery, no I can't, aku tidak mungkin melakukan itu. What did I do that" tanya Nayla.
"Of course kau bisa bersama nya seperti dulu" jawab Mery.
__ADS_1
"Dengan cara menyakiti hati yang lain?" Nayla melirik pada Mery.
"Aku bukan orang yang seperti itu" lanjutnya.
"Waktu sudah berputar jauh, tidak akan bisa kembali. Apa pun yang terjadi pasti akan ada hati yang terluka, dan kau tau itu" Mery mengangguk tanda mengerti apa yang dimaksud Nayla.
"Ok, I know you"
"Sudahlah, aku kesini bukan ingin berdebat tentang Kak Uno. Aku ingin memberi tahumu kalau sekarang aku sudah mencoba untuk menerima Bob"
"Realy?" menatap sambil menyelidik apakah ada kebohongan.
"Mery, kau tidak percaya padaku, bukankah kau yang memintanya agar aku mencobanya" ucap Nayla kesal.
"Sejak kapan?"
"Lima hari yang lalu"
"Apa kau sudah mencintainya Nay?"
"Not yet, aku hanya tidak ingin dibilang jomblo terus sama teman-temaku di kampus dan setidaknya aku punya pengawal pribadi yang bisa menemaniku kemana saja" Nayla mengatakan sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"You're so bad" Nayla tersenyum mendengar umpatan Mery.
"Aku belum bisa mencintainya, tapi dia baik, penyayang dan lebih mengerti aku, berbeda dari yang lain yang hanya mengungkapkan cinta tanpa alasan yang kuat. Karena itu aku memilihnya membantuku berlahan untuk melepaskan kak Uno" ungkap Nayla, memberi penjelasan pada Mery alasan dia menerima Bob.
"Apapun itu, aku akan bahagia bila kau bahagia my sister" Mery memeluk Nayla.
"Apa kak Nuno sudah tahu tentang ini" tanya Mery sambil melepas pelukannya.
"Aku sudah meminta ijin padanya" Nayla terdiam.
"Ada apa, apa dia marah?" selidik Mery, melihat perubahan wajah Nayla.
"What" kini Mery yang terkejut.
"Dia memarahimu, memaki mu atau melalukan sesuatu yang menyakitimu kah" Nayla menggeleng.
"Dia tidak melakukan apa-apa padaku, kami hanya berkenalan dan dia meminta padaku untuk menjadi temannya"
"Mery apakah terjadi sesuatu antara dia dengan kak Uno?" Ucap Nayla cemas.
"Mungkin saja" jawab Mery.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya, apa kak Nuno tahu dia menemui mu"
"Sepertinya tidak Mer, karena dia berpesan untuk tidak memberi tahu kak Uno tentang pertemuan kami"
"Kau menurutinya?"
Nayla menganggukan kepalanya.
"Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada mereka" biarkan waktu yang akan menjelaskan, batin Nayla.
Suasana jadi sepi seketika, mereka sama-sama diam berbicara dengan pikiran masing-masing.
"Bagaimana dengan kak Nuno setelah kau memberi tahunya kalau gadis kecilnya ini sekarang menjalin kasih dengan orang lain?" tanya Mery.
"Kak Uno memintaku bersabar untuk menunggunya, dia ingin menceraikan mbak Silvia dan menikahi ku" Mery menatap Nayla. Nayla mengerti Mery menunggu jawabannya.
"Tentu saja aku menolak keinginanya Mer" jawab Nayla tegas.
"Aku tidak ingin dia menyakiti Mbak Silvia dan menyakiti orang tuanya" Matanya sudah berkabut, menunggu waktu untuk mengeluarkan keristal bening.
__ADS_1
"Aku mau berkorban merelakan dia jadi milik orang lain demi orang tuanya, jadi biar aku saja yang terluka bila nanti kak Nuno sudah benar-benar meninggalkanku"
Kristal bening itu satu persatu berlahan mengaliri pipi Nayla. Nayla megusap cepat. Dia tidak ingin bersedih saat ini.
"Bagaimana kalau kak Nuno tidak pernah ingin pergi darimu? seperti sekarang, Mbak Silvia pasti terluka melihat suaminya mencintai orang lain" tanya Mery.
"Aku yang akan pergi meninggalkan kak Uno Mer"
"Aku sedang mempersiapkan hatiku untuk itu, karenanya aku mencoba hubungan baru"
"Aku, Citra dan Bela selalu ada untuk mu" ucap Mery memberi kekuatan pada Nayla.
Nayla memeluk Mery dengan erat. mengucapkan terima kasih karena telah menjadi sahabat yang selalu ada untuknya.
"Mery, kita jalan-jalan hari ini dan makan diluar?" ajak Nayla sambil melepaskan pelukannya.
"Boleh, tapi tunggu sebentar aku sedang menunggu seseorang" jawabnya.
"Who, your boy friend?" selidik Nayla.
"You know him" sambil mengedipkan matanya sebelah.
Nayla terus memaksa Mery mengatakan siapa yang menjadi kekasihnya sekarang Tapi mery tetap meminta Nayla menunggu orang yang menjadi kekasihnya datang. Di tengah perdebatan mereka terdengar suara pintu kamar yang di ketuk.
Tok...tok...tok...
"Assalamualaikum" suara laki-laki terdengar mengucapkan salam. Nayla merasa suara itu tidak asing baginya.
"Waalaikumsalam" jawab keduanya bersamaan. Mery baru saja hendak berdiri ingin membuka pintu, tapi Nayla mencuri start berlari membuka kan pintu.
"Zein...."
"Hai, kamu disini Nay" sapa Zein.
"Kalian......" menunjuk Zein dan Mery yang sudah mendekat.
"Ayo, katanya kau mau jalan dan makan diluar" ucap Mery.
"Bersiap-siaplah" lanjutnya.
Mobil Zein sudah terparkir sempurna di sebuah cafe.
"Ayo turun" ajak Zein.
Nayla dan Mery turun bersamaan
"Sebentar" Nayla berjalan menjauh dia membaca nama cafe yang tertulis sangat besar diatas pintu masuk. "ZEIN" gumanya.
Nayla menyusul Zein dan Mery yang meninggalkannya di parkiran.
"Zein, ini cafe mu"
"Menurut mu?" jawab Zain.
"Kau jahat Zein, kau bilang melanjutkan pendidikanmu di Belanda ternyata kau di Bandung dan sekarang kau membuka cafe tidak memberi tahuku. Apa ini yang namanya saudara?" kesal Nayla.
"Dan sekarang kaupun menjalin hubungan dengan sahabatku diam-diam di belakangku"
"Menyebalkan" gumamnya.
"Hai nona cantik, aku benar ke Belanda tapi hanya satu tahun disana. Aku pulang ke Jakarta dan ternyata menemukan wanita itu selingkuh"
"Tidak aneh dia selingkuh, untung saja kau tahu sendiri lebih cepat kelakuan miss super zuper itu" batin Nayla.
__ADS_1
********************