
Nayla berlari mendekati Silvia, "Hans.... tolong... bantuin" teriaknya membuat Sandy mendekat.
Nuno ikut mendekat saat Nayla berteriak meminta tolong pada Sandy. "Kak bawa mbak Silvia kerumah sakit, dia akan melahirkan" ucap Nayla membuat Nuno diam terpaku.
"Kak Nuno cepat" Nayla sedikit membentak menyadarkan Nuno.
Sandy sudah siap dengan kendaraannya saat Nuno mengangkat Silvia yang terus berteriak kesakitan, dia membukakan pintu dan langsung menyuruh Nuno masuk dan duduk sambil memangku Silvia.
"Mas... sakit...." Rintih Silvia yang merasakan mulas diperutnya.
"Iya sayang, tahan sakitnya...." Nuno mencoba menenangkan Silvia, ini pengalaman pertamanya dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Di usapnya kening Silvia yan berkeringat, pikirannya bercampur aduk jadi satu saat ini.
"Belok kiri Hans" Nayla yang cukup hapal dengan jalan sekitaran cafe mengingat jelas jalan ke rumah sakit khusus ibu dan anak yang sering di kunjunginya.
Hanya dua ratus meter setetelah berbelok mobil yang dikendarai Sandy sudah sampai di depan unit gawat darurat rumah sakit. Nayla yang keluar terlebih dulu, memangil perawat untuk segera membantu Silvia.
"Bagaimana, apa baik-baik saja?" tanya Sandy setelah duduk di samping Nayla. Dia baru menyusul kedalam setelah memarkirkan kendaraannya.
Nayla menjawab tidak tahu dengan menggelengkan kepalanya, "Mereka masih di dalam" jawabnya. Nayla menyandarkan kepalanya di bahu Sandy, dia kembali merasakan pusing di kepalanya.
"Kamu kenapa? pusing lagi?" tanya Sandy sambil melihat wajah istrinya. Benar saja Nayla terlihat pucat dan lemas.
"Aku akan kekantin sebentar membelikanmu minuman" ucap Sandy sambil berdiri, tapi langkahnya ditahan Nayla yang menarik tangannya.
"Lala" teriak Sandy saat melihat Nayla yang terjatuh di bangku tunggu dan tidak sadarkan diri. Sandy memanggil perawat yang berdiri tidak jauh darinya dan langsung mengangkat Nayla saat perawat tersebut memintanya membawa Nayla ke ruang periksa.
"Kamu sudah sadar sayang" kecup Sandy kening Nayla lalu meraih tangan istrinya. Mereka sudah berada di kamar rawat inap.
"Kenapa aku bisa ada disini Hans?" tanya Nayla saat menyadari kalau sekarang dia berbaring di ranjang rumah sakit.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kamu hanya tidak sadarkan diri. Dokter bilang kamu kelelahan dan..." Sandy menghentikan ucapannya membuat Nayla bertanya-tanya.
"Dan apa?" Tanya Nayla yang tidak sabar menunggu apa yang ingin Sandy sampaikan.
"Dan terima kasih sudah mau mengandung anakku" lanjut Sandy, membuat Nayla menatap tidak percaya pada Sandy. "Hans" panggil Nayla terus menatap suaminya meminta penjelasan.
Sandy mengusap perut Nayla "Disini ada anak kita sayang" jelasnya lalu mencium perut Nayla.
"Aku hamil Hans? benarkah?" tanya Nayla tidak percaya, Sandy menganggukan kepalanya sambil tersenyum bahagia.
Keduanya berpelukan merasakan kebahagian mereka, Nayla terisak menagis bahagia, tidak terbayangkan ada mahluk kecil diperutnya.
Bunda Aisyah masuk bersama Ayah Dimas mengagetkan pasangan yang sedang berbahagia, dia mendekat dan memeluk Nayla. "Selamat sayang" bunda mengecup kening Nayla. "Tadi bunda mendapat kabari dari Hans dan mengatakan Mbak Nay sedang tidak sadarkan diri" lanjut Bunda Aisyah sambil mengusap rambut putrinya
Nayla diijnkan pulang oleh dokter setelah melakukan pemeriksaan lanjutan dan dinyatakan semuanya baik dan sehat, dia diminta untuk tidak terlalu lelah dan stres.
"Hans aku ingin melihat mbak Silvia sebelum pulang" Nayla meminta Sandy mengantarnya. Mereka mengetuk pintu kamar tempat Silvia di rawat setelah bertaya pada suster yang berjaga.
"Masuklah" jawab Nuno setelah Nayla meminta ijin untuk melihat Silvia dan bayinya.
Sandy tidak ikut masuk dan memilih menunggu dibangku depan kamar, dia ditemani Nuno yang duduk disampingya. "Terimakasih sudah membantu" Nuno mengatakanya sambil mengulurkan tangannya. Sandy menerima uluran tangan Nuno, tidak ada gunanya dia menyimpan amarah dan melupakan semua yang terjadi tadi.
"Maaf atas kata-kataku untuk Nayla, kamu pantas untuk marah" ucap Nuno menyesali apa yang tadi dia ucapkan.
Sandy tidak menjawab, tapi dia meminta maaf karena tidak bisa menjaga emosinya sambil melihat wajah Nuno yang terluka akibat pukulannya.
Sementara itu di dalam kamar Mami Nuno sudah datang membawakan perlengkapan Silvia dan bayinya berteriak "Nayla" saat dis mengenali yang datang adalah Nayla.
Wanita tua itu datang dan menghampirinya, "Untuk apa kamu datang? Untuk mengganggu rumah tangga anaku? Apa kamu tidak lihat dia sudah bahagia sekarang" tegurnya dengan nada yang ditinggikan.
__ADS_1
"Mi... Nayla ingin menjenguk Silvia" jawab Silvia saat melihat Nayla hanya diam.
Nayla berjalan mendekati Silvia "Maaf" Silvia yang terlebih dulu meminta maaf merasa tidak enak dengan Nayla mendengar tuduhan mertuanya.
"Aku hanya sebentar mbak, untuk meyakinkan kamu dan bayimu baik-baik saja" jawab Nayla yang tidak peduli tentang ucapan maminya Nuno.
"Terima kasih sudah membantuku" ucap Silvia yang merasa berhutang nyawa dengan Nayla.
Nayla langsung pamit, karena dia merasa terus diawasi oleh maminya Nuno. Sandy mendekat saat melihat Nayla keluar dari kamar Silvia, langkahnya terhenti saat ada wanita tua yang menyusul Nayla.
"Jauhi Nuno dan jangan pernah temui dia lagi" bentak Mami Nuno membuat Sandy mendekat. Mami Nuno belum puas ingin meluapkan amarahnya, menyalahkan Nayla yang membuat rumah tangga putranya tidak berjalan baik.
"Jangan suka menyalahkan orang lain kalau ibu tidak tahu apa-apa" ucap Sandy yang tidak terima Nayla diperlakukan seperti itu sambil merangkul Nayla dan membawanya pergi.
Belum jauh mereka berjalan kepala rumah sakit berlari kecil menemui dan memberi hormat pada Nayla dan Sandy. "Nona Nayla, Tuan Sandy maaf saya tidak tahu kalau anda berdua disini" ucapnya. Dia diberitahu security tentang kedatangan Ayah Dimas di rumah sakit dan langsung mencari tahu tujuan kedatangan Ayah Dimas dan menemui Ayah Dimas yang menunggu di kamar tempat Nayla di rawat.
"Tidak apa-apa Pak Win, kami hanya mengantarkan teman yang akan melahirkan" jawab Nayla yang sangat mengenal kepala rumah sakit ini.
"Nyonya maaf saya tidak mengenali kalau anda pemilik rumah sakit ini saat memeriksa anda" ucap dokter yang tadi merawat Nayla.
"Kami juga minta maaf nyonya, tuan" ucap perawat yang tadi membantu Nayla.
"Tidak apa-apa, saya lebih suka begitu, jadi saya tahu kalau dokter dan perawat disini bersikap peofesional dengan semua pasien" Nayla memberikan pujiannya pada dokter dan perawat di rumah sakit yang didirikan Ayah Dimas.
"Terimakasih Pak Win, para dokter dan perawat dirumah sakit ini atas kerja keras kalian" suara Ayah Dimas mengagetkan semua yang tidak menyadari kehadiran Ayah Dimas dan Bunda Aisyah yang tadi mengikuti Pak Win saat pamit ingin menemui Nayla dan Sandy.
"Nuno" panggil bunda Aisyah saat melihat Nuno berdiri tidak jauh dari mereka, dia memberi selamat pada Nuno. Ayah Dimas ikut mendekat dan menyalami Nuno, baginya Nuno bukan orang lain tetap menjadi bagian keluarganya walau tidak berjodoh dengan Nayla.
Mami Nuno hanya diam menahan malu, anaknya diperlakukan sangat baik oleh keluarga Nayla sedangkan dia sudah menyakiti Nayla. Penilaian buruknya selama ini tentang Nayla terjawab sudah, apa yang dia sangkakan tidak terbukti. Satu yang tersisa adalah penyesalan.
__ADS_1
...******************...