
"Raka sudah kenyang Dad" suara Nayla menyadarkan Sandy dari ingatannya saat Nayla berjuang melahirkan putra mereka.
Sandy kembali mengecup kening Nayla lalu mengambil alih Baby Raka dari pangkuan istrinya, dia memandang wajah munggil yang terpejam dengan senyum dan mecium pipi gembul beraromakan susu. "Kesayangan daddy" ucapnya sambil mengecup kening Baby Raka.
Nayla segera merapikan kembali pakaiannya begitu Baby Raka berpindah ke tangan Sandy. Benar saja suara Mama Rita terdengar memanggil "Nayla..."
"Jangan keras-keras suaranya ma... Raka baru saja terpejam" Sandy membuka pintu sambil menggendong Baby Raka.
"Maaf..." jawab Mama Rita. "Acara segera dimulai" jelasnya.
Ketiganya berjalan kembali ketengah acara. Sandy yang menggendong Baby Raka berkeliling pada orang-orang yang lebih tua saat rambut putranya akan di gunting oleh mereka. Papa Wijaya yang diberi kesempatan pertama kali untuk mengunting sedikit rambut Baby Raka di lanjutkan Ayah Dimas yang berdiri bersebelahan dengan Papa Wijaya, berpindah pada suami Teh Nia, Kak Heru dan Kak adam, lalu kerabat dekat yang lain dari Nayla dan Sandy yang hadir disana.
Baby Raka benar-benar menikmati acaranya dengan tertidur pulas tanpa peduli suara keras yang terdengar dari pengeras suara, dia menikmati setiap bacaan ayat-ayat suci yang di lantunkan pemimpin acara dengan tertidur pulas. Tidak terdengar satu kalipun bayi itu menangis.
Acara berakhir menyisahkan kebahagiaan, satu persatu tamu undangan pamit meninggalkan kediaman Wijaya. Kini yang tersisa sahabat dan kerabat dekat, mereka duduk beberapa kelompok sambil menikmati hidangan yang disajikan.
"Selamat ya Nay.. maaf terlambat" sapa Ine dan Sofi yang baru datang.
"Tidak apa-apa teh, ayo duduk" jawab Nayla.
"Boleh gendong Nay..." Ine meminta ijin pada Nayla sebelum dia duduk.
Nayla menyerahkan Baby Raka ke pangkuan Ine. "Teh Ine udah cocok jadi ibu" goda Sofi membuat wajah Ine memerah.
"Apa ada yang tidak aku ketahui?" tanya Nayla saat melihat perubahan wajah Ine.
"Akhh apa kamu tidak bertanya ada perkembang apa diperusahaan sama pak bos Nay?" tanya Sofi dan mendapat gelengan dari Nayla.
Sofi membisikan sesuatu pada Nayla, terpancar senyum bahagia dari wajah Nayla setelah mendengar apa yang diucapkan Sofi.
__ADS_1
"Aku ikut bahagia untuk Teh Ine" ucap Nayla.
Bagas yang melihat Ine bersama Nayla langsung menghampiri mereka. "Mas Bagas... kapan diresmikan?" Nayla langsung menodong dengan pertanyaan saat Bagas sudah berdiri didekatnya. "Lihat.. Teh Ine sudah cocok jadi ibu" tunjuknya pada Ine yang menggendong Baby Raka.
"Aku siap kapanpun, tapi masih ada penolakan" jawab Bagas dengan santai sambil duduk di samping Ine.
Ine hanya diam tidak mau menanggapi apa yang diucapkan Bagas, bukan hanya sekali Ine mendapat sindiran seperti itu. Dia memang belajar untuk membuka hatinya pada Bagas, tapi dia belum siap untuk melangkah lebih jauh. Kegagalan pernikahan Mamanya masih menjadi ketakutan untuknya.
"Kamu baru sampai, belum makan kan, aku ambilkan" ucap Bagas, tanpa menunggu jawaban dari Ine dia langsung berdiri dan berlalu pergi.
"Kenapa Teh? Apa yang teteh takutkan?Mas Bagas orang yang baik, dia memiliki adik perempuan dan sangat menyayangi ibunya, dia tidak akan menyakiti wanita. apalagi wanita itu orang yang dicintainya" ucap Nayla mencoba memberikan masukan untuk Ine.
"Aku tahu Nay... aku masih memikirkannya" jawab Ine.
"Mas Bagas sudah lama mencintai teteh, walau sempat ditolak tapi dia tidak pernah berpindah ke lain hati"
"Itu sudah bisa jadi satu nilai tersendiri bagi teteh untuk menerimanya, Teh Ine satu-satunya wanita yang dicintai Mas Bagas"
Nayla meminta Baby Raka kembali dalam gendongannya setelah mengakhiri ucapannya dan melihat Bagas yang datang membawa makanan untuk Ine.
"Aku akan membawa Baby Raka kekamar untuk istirahat, kalian nikmati hidangannya" pamit Nayla di ikuti Sofi yang tahu diri tidak ingin mengganggu Ine dan Bagas.
Nayla tidak membawa Baby Raka kekamar, itu hanya alasannya saja untuk meninggalkan Ine dan Bagas. Nayla ikut berkumpul dengan Shinta, Mery, Citra dan Bella, dia menidurkan Baby Raka disamping Baby Ilham. Tiga bayi laki-laki tersusun rapi tidur berdampingan membuat yang memandangnya ikut merasakan kedamaian ketiga bayi itu.
"Tidak terbayangkan aku tumbuh besar bersamamu dan sekarang putra kita juga akan tumbuh bersama Nay" ucap Shinta menginggat saudara perempuan yang sangat dekat dengannya adalah Nayla.
"Aku bahagia, ini semua sesuai keinginan kita. Kita berempat akan terus bersama seperti ini dari sekolah sampai menikah dan memiliki anak di waktu yang bersamaan" ucap Mery dengan mata yang berkaca-kaca bahagia.
"Ya... inilah hidup kita yang ditakdirkan untuk selalu bersama-sama, berbagi suka dan duka bersama seperti janji yang kita ucapkan" jawab Citra dengan air mata yang mengalir dipipinya.
__ADS_1
"Bunda kenapa menangis?" tanya Dea yang tidak mengerti apa yang dibicarakan orang dewasa.
"Bunda bukan menangis sayang, tapi bahagia" jawab Citra mengusap air matanya dan menggantinya dengan senyum.
Dea mendekati ketiga bayi yang semuanya berpipi gembul, "Adek Dea banyak.... laki-laki semua" ucapnya sambil menoel-noel pipi Zola yang terdekat dengannya.
Papa Wijaya terlihat sedang berbicara dengan Ayah Dimas. Tidak hanya anak-anak yang mengingat kedekatan mereka tapi kedua kakek itu juga berbagi cerita masa lalu mereka saat muda.
Pertemuan pertama Papa Wijaya dan Ayah Dimas adalah disaat mereka sama-sama berkunjung ke Lembang untuk pertama kalinya. Mereka bertemu tidak sengaja saat jalan-jalan mengelilingi kebun ditemani wanita pujaan mereka masing-masing, setelah menikah semakin sering mereka bertemu dan semakin dekat. Jadwal berkunjung ke Lembang mereka hampir selalu bersamaan itulah yang membuat Nayla dan Sandy menjadi dekat.
Keduanya tertawa bersama mengingat cerita masa lalu mereka. "Tidak terbayangkan sekarang aku memiliki cucu yang sama denganmu Dim" ucap Papa Wijaya.
"Aku bahkan tidak pernah terpikirkan untuk duduk bersama sebagai besan Mas Wijaya" jawab Ayah Dimas sambil terkekeh.
"Anak-anak menjadikan kita satu keluarga, mereka walau terpisah jauh tetap kembali tanpa kita sadari sudah berjodoh sejak kecil" jawab Ayah Dimas.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Mama Rita yang datang mendekati Papa Wijaya dan Ayah Dimas bersama Bunda Aisyah.
"Membicarakan Sandy dan Nayla, perpisahan jauh tidak memutuskan takdir kalau mereka berjodoh" jawab Papa Wijaya.
Mama Rita dan Bunda Aisyah ikut tersenyum."Pantas saja kalian tertawanya bahagia"
"Sekarang sudah hadir Raka yang jadi cucu kita bersama" Mama Rita ikut menimpali.
"Ya... ini kebahagiaan kita, kebahagian dua keluarga yang sempat terpisah, kini menjadi satu ikatan, ikatan yang sakral" ucap Bunda Aisyah
Semua menyetujui ucapan Bunda Aisyah, kehadiran Baby Raka adalah kebahagiaan untuk keluarga Papa Wijaya dan Ayah Dimas.
...****************...
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir di karya author tinggalkan jejak kalian dengan like dan komen. 🙏🙏🙏🙏🙏