AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
TAMU BULANAN


__ADS_3

Semua keluarga berkumpul untuk sarapan bersama pagi ini. Nayla bersama Citra menghampiri Ayah Dimas dan Bunda Aisyah yang sudah duduk dan menunggu keluarga yang lain.


"Pagi yah, pagi bunda" sapa Nayla pada kedua orang tuanya sambil mengecup kedua pipi ayah Dimas dan bunda Aisyah.


"Mbak, kamu pulang hari ini apa minggu depan setelah acara pertunangan?" Ayah Dimas yang bertanya sambil meminta putrinya itu duduk disampingnya.


"Hari ini Yah, besok Nay kerja" jawab Nayla.


"Kamu masih akan bekerja?" tanya ayah Dimas.


"Iya dong Yah, kalau ngak kerja mau ngapain coba?" jawab Nayla.


"Kalau di rumah aja kerjanya hanya makan, minum terus tidur, lama-lama bisa gendut dong" lanjut Nayla kata-katanya membuat ayah Dimas terkekeh sambil mengusap-usap rambut Nayla.


"Terus kalau Nay ngak pulang ke Bandung hari ini, cucu ayah yang itu gimana?" lanjut Nayla ucapannya sambil menunjuk ke arah Putri yang baru datang bersama kak Heru, oma dan Yoga adiknya.


Ayah Dimas melihat ke arah yang ditunjuk Nayla, di lihatnya Putri yang dengan ceria menggandeng adiknya berjalan mendekat. Rasa haru yang ayah Dimas rasakan melihat kedua cucu kakaknya itu tumbuh tanpa kasih sayang ibu.


"Jaga Putri baik-baik Mbak" ucap Ayah Dimas dengan mata yang berkaca-kaca.


"Pasti Nay jagain cucu Ayah, jangan khawatir" jawab Nayla memeluk lengan ayahnya.


"Yah kenapa kak Heru tidak mencarikan ibu baru buat mereka?" tanya Nayla sambil berbisik.


"Belum ketemu jodohnya lagi" jawab ayah yang juga berbisik sambil melihat Adam yang datang.


Adam menggendong baby Dafa mendekati Nayla dan kedua orang tuanya. Sama seperti Nayla, Adam mencium kedua pipi orang tuanya itu lalu melanjutkan ke adik kesayangannya.


"Sore ini Adam pulang Yah, minggu depan kembali lagi" ucap Adam memberitahu ayahnya.


"Tapi titip baby Dafa dan Azizah" lanjutnya lagi.


Ayah Dimas tersenyum senang mendengar yang dikatakan Adam. Dia tidak akan kesepian dirumah seperti biasanya yang hanya berdua bunda Aisyah.


"Sini cucu Opa" Ayah mengakat tangannya mengambil baby Dafa dari gendongan Adam.


Sementara itu Citra memperhatikan Alex yang baru masuk bersama Sandy. Wajah Alex tampak kurang baik seperti orang yang banyak pikiran dan kurang tidur.


"Ada apa dengan dia? apa dia semalam tidak tidur? " tanya Citra dalam hati.


Citra berdiri pamit pada Nayla yang sedang bermain dengan baby Dafa saat melihat Sandy dan Alek mendekati mereka.


"Nay, aku mau kesana" ucapnya sambil menunjuk meja yang menyediakan berbagai macam roti dan toping. Nayla mengangguk, menyetujui ucapan Citra.


Alex melihat Citra yang berjalan menjauh seperti ingin menghindarinya. Semalam terakhir mereka bersama, Alex meninggalkan Citra begitu saja dan menghilang.


"Apa dia marah padaku" batin Alex mengingat kejadian semalam.


Alex mendekati Citra setelah dia menyapa ayah Dimas dan keluarganya. Dia terus memperhatikan apa yang dilakukan Citra.


"Biar aku bantu" Alex menegur Citra yang sedang sibuk memoles toping di rotinya.

__ADS_1


Citra hanya diam saat Alex meneruskan apa yang dikerjakannya. Dia memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan Alex.


"Kenapa kamu selalu berubah-ubah" batin Citra.


Alex menyerahkan roti hasil karyanya pada Citra dengan hiasan toping berbentuk emoticon senyum.


"Maafkan aku, semalam aku tidak pamit padamu" ucap Alex.


"Tidak ada kewajiban yang mengharuskan kakak untuk pamit padaku" jawab Citra.


"Ra.." Alex memanggil Citra yang akan meninggalkannya.


"Ra?" Citra mengulang panggilan Alex.


"Ijinkan aku memanggilmu Ra" pinta Alex.


Dari jauh Nayla memperhatikan keduanya. Alek seperti memohon sesuatu pada Citra, Tapi Citra memasang wajah datar.


"Ada apa dengan Citra?" batin Nayla yang tidak mengerti dengan sikap sahabatnya itu.


"La, aak" Sandy meminta Nayla membuka mulutnya.


Dia melihat Nayla dari tadi tidak menyendokkan makanan satu pun kedalam mulut, malah sibuk melihat Alex dan Citra.


Sandy berhasil memasukkan makanan kedalam mulut Nayla. Apa yang dilakukan Sandy pada Nayla diperhatikan oleh Yoga adik Putri.


"Tante Nay udah gede masih disuapin" ucap Yoga membuat Nayla memalingkan wajahnya melihat Yoga.


"Tante Nay makannya kayak adek bayi, mulutnya kotor" membuat yang lain menahan senyum melihat Nayla.


"Makanya kalau lagi makan jangan ngelamun, jadi kotor kayak gini" ucap Sandy sambil membersihkan mulut Nayla.


"Ihh ini kamunya aja yang nyuapinnya kebanyakan" ucap Nayla sambil mengerucutkan mulutnya.


"Jangan seperti itu, nanti aku gak kuat pengen nyium bibir kamu" bisik Sandy membuat Nayla menutup mulutnya.


Sandy terkekeh gemas melihat Nayla yang seperti itu, di cubitnya hidung mancung Nayla yang jadi tempat pavoritnya menjahili Nayla kalau gemas.


"Hans... sakit ih, kebiasaan kamu mah" sambil memukul tangan Sandy.


"Begini ini nih kalau lagi kasmaran, dunia serasa milik berdua" ucap ayah mengoda Nayla dan Sandy yang sibuk berdua.


"Ayah kayak yang gak pernah muda aja" jawab bunda membuat yang lain tertawa.


Suasana yang akrab dan hangat tercermin dari keluarga ini. Ayah Dimas sangat bersyukur bisa melihat keluarga besarnya bisa berkumpul bersenda gurau seperti ini.


"Pengantin baru gimana rasanya" kini ayah Dimas menggoda Mery dan Zein di meja sebelah yang duduk bersama kedua orang tua mereka dan saudara-saudara yang lain.


"Belum tauh rasanya Yah" jawab Zein yang langsung mendapat cubitan dari Mery.


"Yang benar? Bilang aja kalau malu ngomonginnya" Adam ikutan menggoda pengantin baru.

__ADS_1


"Beneran Kak. Gimana mau ngerasainnya orang masih di ganggu tamu bulanan" ucapanya kecewa dan ditertawakan semua yang mendengar. Sementara Mery tersenyum malu.


Semalam Zein membantu Mery melepaskan gaun pengantinya. Diturunkannya resliting yang ada di belakang gaun. Terekspos punggung putih mulus milik Mery membuat Zein menciumi punggung istrinya itu.


"Kita lakukan malam ini" ucap Zein meminta ijin pada Mery sambil tersenyum memainkan alisnya.


Dia menatap Mery dari cermin meja rias. Mery menggeleng membuat Zein membalikkan tubuh Mery.


"Kamu takut? Aku nggak akan buat kamu sakit" ucap Zein.


"Bukan itu, tapi ada tamu yang tidak mengijinkan kita melakukannya" jawab Mery.


"Tamu? Siapa tamu yang berani melarang kita?" tanya Zein kesal. Dia sudah menuggu lama untuk hari ini.


"Tamu bulanan" ucap Mery pelan membuat Zein terduduk lemas.


"Aku janji, kita akan melakukannya nanti kalau sudah bersih" Mery mengatakannya sambil mengecup pipi Zein.


"Kok pipi doang, yang ini" tunjuk Zein pada bibirnya membuat Mery menuruti keinginan suaminya. Zein tidak membuang kesempatan, dia langsung melahap bibir istrinya sampai keduanya kehabisan Nafas.


Seusai sarapan semua kembali kekamar mengambil barang bawaan mereka dan bersiap-siap untuk kembali ke kediaman masing-masing.


Nayla dan Citra sudah selesai membereskan pakaiannya. Mereka sedang menunggu kakak Citra yang akan membawa surat-surat yang diperlukan Citra untuk melamar pekerjaan.


"Citra, kenapa kamu tadi pergi saat kak Alex datang?" tanya Nayla yang penasaran mengapa Citra melakukannya.


"Aku hanya ingin memberikan pelajaran sama kak Alex, bagaimana rasanya kalau di tinggal begitu saja" jawab Citra.


"Lalu kalian tadi seperti membahas sesuatu" Nayla kembali menanyakan apa yang dia lihat.


"Dia meminta ijin padaku untuk memanggilku dengan panggilan Ra" jawab Citra.


Tok.... tok...


Pembicaraan mereka terhenti. Citra langsung membuka pintu, dia yakin itu kakaknya.


"Masuk Kak" sambil menarik tangan kakak nya.


Alex yang melihat Citra menarik tangan laki-laki masuk ke kamar hotel terkejut.


"Apa yang dia lakukan? Mengapa laki-laki itu masuk ke kamar?" batin Alex.


"Ada apa?" Sandy mengejutkan Alex.


"Ada laki-laki yang masuk ke kamar" Alex menunjuk kamar Nayla dan Citra.


Dengan cepat Sandy berdiri di depan pintu dan mengetuknya sambil memanggil Nayla


"Lala..."


**************************

__ADS_1


__ADS_2