
Sandy PoV
Sesekali aku melihatnya dari kaca spion sambil melajukan mobilku. Sederhana dan cantik, itu yang selalu ada dalam pikiranku bila melihatnya.
Aku tidak tahu tujuan mereka akan pergi kemana, mungkin ke Mall. Dia meminta ku mengikuti mobil saudaranya yang ada di depan kami.
"Kak Sandy ikutin aja mobil saudaraku yang didepan ya" ucapnya.
Aku masih belum habis pikir, kenapa aku baru bisa mengetahuinya sekarang. Aku sengaja sering datang ke bioskop hanya berharap agar bisa bertemu dengannya lagi. Aku juga sudah meminta asistenku untuk mencari informasi tentangnya dari foto yang sempat kuambil saat dia berjalan dan duduk disampingku tanpa dia ketahui. Dan ternyata dia yang ku tunggu dan kucari selama satu tahun ini tinggal di perumahan yang ku kembangkan.
Aku sangat kenal dengan pembelinya, pak Heru pemimpin perusahaan besar di Jakarta. Dia mengatakan kalau dia membeli rumah ini untuk adik dan anaknya yang akan menetap di Bandung. Ternyata adiknya wanita yang setahun ini membuat aku berharap dan anaknya adalah sahabat Lola keponakanku.
Saat itu asistenku sepat memberikan berkas rumah yang dibeli pak Heru. Dia bilang kalau foto KTP untuk sertifikat rumah itu mirip wanita yang kucari. Tapi kupikir itu tidak mungkin dia adiknya pak Heru, karena aku tahu wanita kalangan atas akan berpenampilan waw dengan barang-barang branded dari atas sampai bawah sedangkan yang kucari wanita yang penampilannya sangat sederhana. Tapi Aku Salah.
Dia sungguh berbeda, cantik, angun dan sederhana tapi kecantikannya terlihat dari kesederhanaannya. Bahkan dia tidak mendandani wajahnya dengan makeup berlebihan. Benar-benar alami. Inilah yang membuatku jatuh hati padanya. Penampilanya sederhana tapi kecantikannya luar biasa.
Lola sangat akrab dengannya, bahkan dia sepertinya lebih memahami Lola dari pada aku om nya. Lola sangat berbeda berada di dekatnya. Benar-benar wanita istimewah dia bisa merubah sifat seseorang saat berada di dekatnya.
"Kamu sudah bisa memasukan surat lamaran keperusahaan kalau mau" aku membuka pembicaraan dengannya.
Aku ingat dengan ajakanku untuk bekerja di perusahan milikku. Saat itu kupikir dia benar-benar butuh pekerjaan dan tujuanku agar aku bisa lebih mengenal dan dekat dengannya.
Melihatnya sekarang sepertinya dia akan menolak tawaranku. Dia tidak butuh bekerja di perusahanku, karena aku yakin dia pasti punya andil di perusahaan kakaknya. Tapi ternyata Aku Salah.
"Benarkah Kak? Kalau begitu tolong kirimkan alamat perusahaan dan syarat-syaratnya, nanti saya akan membuat lamaran dan mempersiapkan berkas-berkasnya" ucapnya.
Aku tidak menyangka ternyata dia masih berminat melamar pekerjaan di perusahaanku. Bukankah tanpa bekerja pun dia akan tetap hidup dengan layak. Lalu apa tujuannya bekerja, pikirku. Bahkan dia juga menjadi guru private Lola. Tentu bukan uang yang dia butuhkan. Lalu untuk apa?
Baiklah, bukankah ini baik untukku? Dengan begini tujuan awalku untuk dapat mengenalnya dan selalu dekat dengannya bisa terlaksana.
"Nanti saya kirimkan" hanya itu yang bisa ku ucapkan. Sebenarnya aku ingin berbicara banyak tapi ini tidak mungkin. Ada Lola, adiknya dan keponakannya bersama kami.
"Kak, nanti kalau pulang boleh saya yang menyetir ya" ucap adiknya.
__ADS_1
"Eza" dia menegur adiknya, sepertinya dia tidak suka.
"Tidak apa-apa" jawabku.
"Maaf ya kak, Eza memang suka begitu kalau melihat sesuatu yang dia sukai" katanya.
"Mbak Nay apaan sihh" kini adiknya yang tidak suka dengan apa yang dikatakannya.
"Kalau ayah dan kak Adam mau beliin nggak mungkin juga Eza akan pinjem bawa mobil orang" ucap adiknya.
"Memang kamu mau beli mobil ini?" tanyaku pada Eza.
"Iya kak, waktu baru keluar type ini aku udah suka penampilannya, apalagi interior di dalamnya. Aku udah ngerayu Ayah dan kak Adam buat beliin tapi mereka menolak"
"Kenapa?" tanya ku.
"Karena anak sekolah belum pantes bawa mobil seperti ini" Dia yang menjawab pertanyaanku
"Biarkan saja mereka, asalkan bukan kamu, belum punya penghasilan sudah mau gaya" mereka berdua jadi ribut sendiri.
Siapa yang akan aku bela? tapi sepertinya apa yang dikatakan Cantik benar.
"Mbakmu benar Za, kamu harus punya penghasilan dulu kalau mau punya mobil sport" nasehatku.
"Kakak sama aja" dia menjawab kesal.
"Biar saja kalau ayah dan kak Adam tidak mau membelikan, ada kak Heru, aku akan minta sama Kak Heru" jawabnya lagi.
Sepertinya anak ini sangat berbeda dengan Cantik, dia suka dengan barang-barang branded, sambil ku lihat penampilanya. Benar-benar berbeda dengan Cantik yang sederhana pikirku.
"Sudah, tidak usah ribut selama kamu di Bandung kamu bisa pakai mobil ini" tawarku biar dia senang. Benar saja dia langsung tersenyum lebar.
"Beneran Kak?" tanyanya meyakinkan. Aku hanya menganggukkan kepalaku.
__ADS_1
"Terima kasih Kak" jawabnya senang.
Berbeda dengan Cantik di belakang. Kulihat dia tidak terlalu suka. Apa aku salah? Aku hanya ingin membuat adiknya senang.
Tidak terasa ternyata kami sudah sampai tujuan. Aku memakirkan mobilku tepat disamping mobil saudaranya seperti yang dikatakannya tadi.
Ternyata saudaranya sudah mereservasi tempat ini. Dia berjalan mendekati ketiga temannya (sepertinya begitu) bersama Lola dan keponakannya meninggalkanku dan Eza begitu saja.
Dia kalau sudah ingin pergi selalu saja lupa ada orang lain di dekatnya. Sama seperti pertama kami bertemu. Dia berdiri meninggalkan ku begitu saja tanpa kata-kata perpisahan.
Kami berada di tempat yang pemandangannya paling indah di sini. Dari sini bisa melihat taman bunga yang sedang bermekaran. Saudaranya pintar memilih tempat yang indah pikirku.
"Nay, kamu suka?" tanya saudaranya. Dia menganggukan kepalanya. Saudaranya sepertinya sangat tahu apa yang membuatnya bahagia. Terlihat dari wajahnya yang selalu tersenyum dan sesekali menghirup udara dalam-dalam merasakan kesegaran alam. Sepertinya benar, dia sangat suka tempat indah seperti ini.
"Zein kamu benar-benar tahu apa yang aku butuhkan saat ini" dia menjawab sambil memeluk lengan saudaranya. Jujur aku tidak suka melihatnya dekat dengan pria lain walaupun itu saudaranya.
Karena ini sore hari, saudaranya hanya memesan makanan ringan dan minuman hangat. Semua masih berdiri memandang pada keindahan alam sampai makanan dan minuman datang diantarkan pelayan.
Kami duduk mengelilingi meja. Seperti sudah diatur aku mendapakat tempat duduk di sampingnya. Dia berdiri
Deg.
Kupikir dia tidak suka duduk didekatku dan akan berpindah ketempat lain, tapi sekali lagi Aku salah menduga. Ternyata dia memperkenalkan aku dengan semua yang ada disini.
"Kak Sandy, kenalkan. Ini Putri keponakan saya, ini Eza yang kakak pasti sudah tau siapa dia, sebelahnya ada Zein saudara sepupu saya, sebelahnya lagi Mery sahabat saya yang akan menjadi calon nyonya Zein, sebelahnya lagi Citra dan Bella sahabat-sahabat saya" ucapnya mengenalkan satu-satu keluarga dan sahabatnya.
"Dan saya sendiri Nayla" akhirnya dia menyebutkan namanya. Nama yang sesuai dengan orangnya. Cantik dan sederhana. Aku berdiri dan menyebutkan namaku pada semuanya.
"Sandy"
*********************
Mohon like dan komentnya 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1