
Di kediaman Ayah Dimas sudah terlihat kesibukan dari penghuninya sejak pagi, alunan musik yang terdengar dari pengeras suara menambah suasana ceria pagi ini.
Acara akan dimulai tepat pukul 10.00 dan diperkirakan Sandy dan keluarga akan hadir sekitar pukul 09.00. Tetangga dan kerabat sudah terlihat hadir, satu persatu mereka datang memenuhi kediaman Ayah Dimas.
Di lantai dua tepatnya di kamar Nayla, empat sahabat dan satu gadis kecil sedang berkumpul. Mereka menemani Nayla yang masih di make up.
"Nay, Kak Sandy akan semakin jatuh cinta melihat kamu secantik ini" ucap Bella memuji kecantikan Nayla,.
Walau hiasannya sederhana sesuai keinginan Nayla namun menjadikan aura kecantikan dari dalam dirinya terlihat.
"Tante cantik" Dea ikut memuji Nayla sambil meloncat-loncat senang di atas kasur.
"Sayang jangan loncat-loncat" ucap Citra takut Dea terjatuh.
"Cantik bunda mau ketemu papi kan? kalau mau ketemu papi duduk yang manis" lanjut Citra ucapannya membujuk sang putri agar bisa duduk yang manis.
Kata-kata Citra membuat Dea langsung duduk diam bersandar di sandaran tempat tidur Nayla.
"Good girl" ucap Citra mengacungkan dua jempolnya pada Dea.
Mery dan Bella yang melihat Citra tersenyum memuji pada sahabat mereka ini. Tidak disangka Citra belum menikah sudah bisa menjadi seorang bunda yang baik dan sabar.
Iringan kendaraan keluarga Wijaya sudah berada di halaman kediaman Ayah Dimas. Bella, Citra dan Mery menyaksikan kedatangan mereka dari balkon kamar Nayla di lantai dua.
Semua keluarga Wijaya sudah turun dari kendaraan mereka masing-masing, tampak berbaris dan akan segera memasuki kediaman Ayah Dimas.
Sandy tampak gagah dan tampan dengan pakaian yang dibuat khusus untuk acara hari ini oleh Bunda Aisyah yang senada dengan milik Nayla.
"Papi..." Dea berteriak saat melihat papinya ada dalam rombongan tamu yang datang. Citra segera menutup mulut Dea memintanya jangan berteriak.
"Dea sabar yaa, nanti kita temui papi kalau acara tante Nayla sudah selesai, ok!" Citra mengajak gadis kecil itu untuk memberi kejutan pada papinya.
"Ok bunda" Dea menyetujui permintaan sang bunda.
__ADS_1
Sandy sudah duduk didampingi Papa Wijaya dan Mama Rita berhadapan dengan Ayah Dimas dan Bunda Aisyah. Jantungnya berdegup kencang merasa sedikit gugup, matanya terus berkeliling mencari sosok yang sudah empat hari ini di rindukannya.
"Baiklah acara kita mulai saja, sepertinya pihak pria sudah tidak sabar ingin bertemu dengan pujaan hatinya" pembawa acara memulai acara dengan menggoda Sandy yang dilihatnya gelisah mencari Nayla.
Mendengar apa yang dikatakan pembawa acara membuat tamu yang hadir tertawa, begitu juga yang ada diatas bersama Nayla.
"Hahaha sepertinya Kak Sandy sudah benar-benar rindu berat sama kamu Nay" ucap Citra setelah mendengar ucapan pembawa acara.
Nayla diminta turun oleh pembawa acara di temani Mery dan Bella. Sandy menatap Nayla tanpa mengedipkan matanya, princessnya hari ini terlihat sangat cantik. Nayla yang melihat Sandy menatapnya seperti itu, membuat jantungnya berdetak kencang tak berirama.
Sementara itu, Alex yang berada di antara keluarga Wijaya mencari kehadiran Citra, namun dia tidak dapat menemukannya.
"Menggapa dia tidak ikut mendampingi Nayla" batin Alex.
Semalam mereka sempat berbicara di telepon dan berjanji akan bertemu hari ini saat acara lamaran Sandy dan Nayla.
"Bismillahirohmanirrohim, untuk mempersingkat waktu kita mulai acara hari ini, yaitu niat baik dari keluarga Bapak Wijaya Ernest kepada putri Bapak Dimas Wiraguna Harley" ucap pembawa acara memulai acara pagi ini.
"Kami persilakan kepada perwakilan keluarga Bapak Wijaya untuk menyampaikan maksud dan tujuan dari kedatangan mereka di kediaman Bapak Dimas"
Sandy dan Nayla diminta berdiri dan berhadap-hadapan. Kedua mata mereka bertemu, memancarkan kilatan cinta dan kerinduan dari keduanya. Nayla tersenyum untuk memberikan kekuatan agar Sandy bisa mengungkapkan isi hatinya.
"Bismillahirohmanirrohim" Sandy memulai kata-katanya.
"Nayla Angraini Wiraguna Harley apakah kamu bersedia menjadi istri saya?" Sandy mengucapkannya dengan lancar dan tegas.
Pembawa acara meminta Nayla untuk menjawab apa yang diminta Sandy. Dengan perasaan gugup dan juga senang Nayla menjawab.
"Saya bersedia" ucap Nayla dengan sangat yakin. Senyum di wajah Sandy tampak jelas setelah mendenggar jawaban Nayla.
Kini pembawa acara melanjutkan ke acara selanjutnya, yaitu kedua keluarga diminta berdiskusi dan menetapkan tanggal pernikahan. Tidak ada perdebatan untuk menentukan hari baik dan bulan baik pernikahan Sandy dan Nayla.
Kedua keluarga sepakat akan mengadakan pernikahan dua minggu lagi. Nayla tidak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan kedua keluarga yang akan melangsungkan pernikahannya dua minggu lagi. Dua hari yang lalu dia sudah menyerahkan kepada Ayah Dimas dan kedua kakaknya untuk menentukan tanggal pernikahannya.
__ADS_1
Sandy menerima keputusan tersebut dengan senyum penuh arti, semakin cepat itu semakin baik baginya. Dia segera mendekati Nayla saat acara sudah selesai.
"Sayang aku merindukanmu" ucap Sandy memeluk pingang ramping Nayla.
"Hans" Nayla meminta Sandy melepaskan tangannya, dia malu masih banyak keluarga yang hadir. Sandy mengikuti apa yang Nayla minta dan mengajak kekasihnya itu untuk bertemu dan berkenalan dengan keluarga besarnya.
Kini tinggal acara ramah tamah kedua keluarga sambil menyantap hidangan yang disediakan keluarga Ayah Dimas. Keluarga yang hadir saling berbincang dan bersenda gurau.
Berbeda dengan Alex sejak tadi dia tidak bisa menemukan Citra dan menghubungi kekasihnya itu. Ada guratan kecewa di wajahnya karena Citra tidak menepati janji untuk menemuinya hari ini, dia berjalan keluar duduk di taman yang ada di halaman kediaman Ayah Dimas. Alex mencoba menenangkan suasana hatinya, berfikir begitu banyak hal yang dilewati.
"Mungkin dia menyerah untuk berada disisiku" gumam Alex yang merasa Citra menghindarinya.
"Papi" suara gadis kecil yang berdiri tepat dihadapan Alex membuatnya terkejut.
Karena melamun dia tidak menyadari kehadiran Dea. Alex merentangkan tangan untuk memeluk Dea saat putri kesayangnnya itu berlari mendekatinya.
"Bagaimana Dea bisa ada disini?" tanyanya sambil mengangkat tubuh munggil itu.
"Sama bunda" Dea menunjuk Citra yang berdiri tidak jauh dari mereka sambil tersenyum.
"Terima kasih" ucap Alex dan mencium kening Citra setelah berjalan menghampiri kekasihnya itu. Citra yang baru pertama kali merasakan kedekatan seperti ini seketika wajahya memerah.
Alex mengajak Citra dan Dea duduk di taman, dia yang sudah sangat merindukan putrinya itu tidak henti-hentinya menciumi wajah putrinya.
"Papi, Dea kemalin jalan-jalan sama bunda, sama Kakak Oni. Naik kuda, mobil, sepeda banyak deh teluuusss mamam es klim" Dea menceritakan apa saja yang dilakukannya bersama Citra.
"Dea senang?" tanya Alek pada putrinya itu yang tampak bahagia.
"Senang papi, kata bunda kalau Dea pintal mau diajak bunda jalan-jalan lagi, sama papi juga jalan-jalannya" Dea terus berbicara tanpa henti melaporkan semua yang tetjadi selama mereka tidak bertemu.
Citra hanya diam, membiarkan ayah dan anak yang ada disampingnya ini melepas rindu. Citra berdiri akan meninggalkan keduanya.
"Jangan pergi" Alex menahan tangan Citra agar tetap didekatnya.
__ADS_1
****************************