AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
RUMAH BARU


__ADS_3

Nayla PoV


Acara pertunangan Mery dan Zein sudah selesai. Keluarga besar Zein yang juga keluarga besarku pulang meninggalkan kediaman keluarga Mery.


Aku tidak ikut pulang karena ingin menginap di rumah Mery bersama Citra dan Bella, kami masih ingin menikmati waktu kebersamaan kami yang sulit bisa bersama berempat seperti saat ini.


"Kapan kalian akan kembali ke Bandung?" tanya citra pada ku dan Mery.


"Dua hari lagi" jawabku.


"Bukankah kamu masih punya waktu satu minggu lagi Nay?" Mery yang bertanya padaku.


"Aku akan mempersiapkan kepindahanku"


"Pindah?" tanya mereka bersamaan. Aku memang belum memberi tahu Mereka kalau aku akan pindah rumah.


Kakak sepupuku Heru baru saja membeli rumah di Bandung. Dia meminta aku dan putri kesayangannya yang menempatinya.


Kak Heru adalah keponakan ayahku anak satu-satunya dari kakak tertua ayah Dimas. Baginya kak Adam, aku dan adikku Eza adalah saudara kandungnya bukan saudara sepupu. Dia yang meneruskan usaha kakek kami setelah ayah Dery meninggalkan kami untuk selamanya.


Seharusnya ayah Dimas yang mengantikan posisi ayah Dery, karena ayah Dimas selama ini yang menjadi wakil ceo. Tapi ayah Dimas melihat kalau kak Heru lebih bisa diandalkan dari pada ayah Dimas yang sudah tidak muda lagi.


Kami berempat tidur dalam damai setelah lelah bercerita panjang dan lebar. Kini Citra sudah punya kekasih, begitupun dengan Bella hubungannya berlanjut dengan Roy setelah acara kelulusan. Cerita sahabat-sahabatku yang sangat bahagia.


Lalu bagaimana denganku? Kemana akhirnya aku akan melabuhkan hatiku. Pertanyaan yang aku sendiri tidak bisa menjawabnya.


Hari ini, aku pulang ke Bandung diantar Bunda Aisyah, karena aku akan pindah jadi buda Aisyah ingin bertemu mama Syila, mengucapkan terimakasih dan meminta ijin kepindahanku.


Aku dan bunda menginap satu malam di kediaman mama Syila, lalu keesokannya mama Syila ikut mengantarkanku ke rumah baru.


Mobil kami memasuki kawasan perumahan yang bisa dikatakan mewah, lingkungannya bersih dan keamanannya nya sepertinya sangat bagus. Cocok untuk ku yang hanya tinggal berdua dengan Putri.


"Bunda, apa benar ini alamat perumahannya?" tanyaku ragu.


"Iya benar" jawab bunda meyakinkanku, lalu bunda memintaku turun menemui pihak keamanan yang menjaga lingkungan ini, karena kak Heru berpesan kalau kunci rumahnya ada di pos keamanan.


"Permisi, maaf mengganggu pak, saya mau mengambil kunci rumah di Blok B No.4 yang di titipkan di pos ini" Satpam itu melihat padaku dan dia tersenyum ramah.


"Namanya siapa Neng?" bapak itu menanyakan namaku.


"Nayla" jawabku cepat.


"Ooo Neng yang punya rumah yaa, masih muda" ucapnya.

__ADS_1


"Saya kira yang namanya Nayla itu ibu-ibu" aku hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan pak satpam.


"Bukan pak, ini rumah kakak saya Heru" jawabku memberitahunya.


"Tapi di sini tercantum alamat dan nama pemilik rumah atas nama Nayla Angraini" jawabnya tegas. Aku terdiam.


"Ini kuncinya ya Neng, semoga betah tinggal disini. Saya pak Maman yang kebetulan jaga hari ini. Disini anggotanya ada empat dan komandanya satu" jelasanya.


"Baiklah terima kasih pak" jawabku dan kembali ke mobil.


Kak Heru selalu saja ingin memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang disayanginya.


"Bunda, kak Heru membeli rumah ini atas namaku" aku melaporkan pada bunda apa yang di katakan ak Maman tadi.


Bunda hanya tersenyum, sepertinya bunda sudah tahu dari kak Heru. Ini benar-benar kejutan.


Mengikuti petunjuk arahan dari pak Maman kami sampai di rumah yang akan aku tempati bersama Putri keponakanku. Alamatnya ternyata tidak terlalu jauh dari pintu gerbang perumahan.


Rumah minimalis modern. Aku menyukainya walaupun sebenarnya rumah ini terlalu besar untuk aku tempati berdua Putri. Tapi tidak apa-apa, aku suka taman belakang sekitaran kolam berenang.


Putri sangat suka berenang, mungkin karena itu kak Heru memilih rumah yang ada kolam renangnya.


"Bagaimana?" tanya bunda padaku


"Rumah ini cantik sekali" mama Syila baru selesai berkeliling dan pamit untuk pulang.


"Ma, tolong jangan ada yang tahu alamat rumah ini ya" pintaku pada mama Syila.


"Baiklah sayang, bahaya juga kalau pada tahu" sahut mama Syila.


Aku merapikan barang-barangku di kamar dibantu bunda. Malam ini bunda menginap di rumah baruku. Bunda akan menemaniku sampai kak Heru datang mengantarkan Putri.


Aku belum mengabari Bob kalau aku sudah kembali ke Bandung. Sepertinya Bob juga lupa menghubungiku dan bertanya kabarku. Tidak masalah bagiku, aku senang kalau memang dia dekat dengan Fenita.


Pagi-pagi sekali sudah ada yang mengetuk pintu rumah. Ternyata pak Maman dan seorang ibu paruh baya.


"Selamat pagi Neng Nayla" sapanya.


"Ini saya mengantarkan bu Ratna sesuai yang di pesan pak Sandy pemilik property disini" katanya memberitahuku.


"Untuk apa Pak?" aku tidak mengerti maksud dari pak Maman.


Bunda datang, menemui pak Maman dan bu Ratna.

__ADS_1


"Silakan masuk Bu, maaf putri saya belum tahu kalau ada Ibu yang akan membantu disini"


Kata-kata bunda baru membuatku mengerti, kalau bu Ratna yang akan membantu ku dan Putri di rumah ini.


Bunda menjelaskan kalau bu Ratna membantu disini hanya siang hari, dia tidak menginap. Dia akan datang pagi hari lalu pulang di sore hari, itu yang dikatakan bunda.


Hari kedua aku di rumah ini Mery dan Zein datang berkunjung. Hanya mereka berdua yang ku ijinkan datang dan tahu tentang rumah ini.


Kami berbincang-bincang di ruang keluarga sambil menunggu kak Heru dan Putri yang akan datang hari ini.


"Assalamualaikum" suara cempreng si anak manja terdegar didepan pintu masuk.


"Cucu oma akhirnya sampai juga disini" Bunda menyambut Putri si anak manja.


"Iya Oma, tadi papa rapat dulu di kantor baru mengantar Putri kesini" ucapnya sambil menekuk wajahnya yang menandakan kalau dia tidak suka.


"Hei, muka jelek jangan dibuat tambah jelek" ledek Zein pada Putri.


"Akhhh, Om Zein selalu saja bilang putri jelek. Putri ini cantik Om" jawabnya dengan kesal.


Aku hanya bisa tertawa melihat mereka, sudah biasa Zein jika bertemu Putri seperti Tom and Jery. Ribut tapi saling menyayangi. Rumah ini pasti akan ramai kalau sudah ada Putri.


Mery dan Zein pamit mereka akan ke cafe. Bunda juga ikut pulang ke Jakarta bersama kak Heru. Kini tinggal aku dan si anak manja julukan Putri di keluarga kami.


"Tante Nay, rumah ini terlalu besar untuk kita berdua" ucapnya. Aku mengangguk membenarkan.


"Iya, Tante juga berpikir seperti itu. Tapi ini pilhan papa Putri, jadi kita nikmati saja. Bukankah ini rumah yang nyaman" jawabku.


"Tante Nay benar. Putri pikir papa Heru akan menghukum Putri tinggal di rumah kecil di gang yang sempit kalau ngomong kedengaran sama tetangga" Aku tersenyum mendengar kata-katanya.


"Jadi kamu kesini karena di hukum" tanyaku. Anak itu mengangguk.


"Papa bilang begitu, aku harus mandiri seperti Tante Nay"


Berbincang dengan Putri tidak akan ada habisnya. Aku sudah sangat mengantuk tapi anak ini tidak ada lelahnya. Kalau tidak disuruh behenti bisa-bisa sampai pagi kami terus berbincang.


"Ayo kita tidur Put" ajakku sambil mematikan lampu dan masuk ke kamarku.


Ku lihat ada notif d hp ku. Ternyata Bob yang mengirim pesan. "Rupanya dia sudah ingat kembali denganku" gumamku.


Kak Nuno juga mengirim pesan kalau dia belum bisa berkunjung. "Tidak masalah, ini akan lebih baik untukku" aku kembali bergumam.


Selamat malam sampai jumpa besok.

__ADS_1


*****************


__ADS_2