AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
IJIN KAN AKU


__ADS_3

"Dapet pesan dari pacar ya? Senyum-senyum sendiri" sindir Sofi yang melihat Nayla senyum sendiri setelah mendapat pesan.


"Pacar?" tanya Nayla.


"Aduhhh si eneng malah balik nanya, benerkan dari pacar" tanya Sofi lagi. Nayla menggeleng.


"Kalau bukan dari pacar kenapa senyumnya berbunga-bunga seperti itu" ledek Sofi.


"Apa saya terlihat seperti itu Teh" tanya Nayla lagi.


"Banget" jawab Sofi tersenyum lebar.


"Husss, jangan berisik, pak Sandy melihat kesini terus" Ine meminta mereka untuk diam.


Sofi yang sangat takut dengan bosnya itu mencoba melirik dan ternyata benar padangan bosnya dingin ke arah mereka.


"Ini karena kamu Nay" bisik Sofi.


"Kok saya Teh, salah saya apa?" Nayla tidak mengerti tiba-tiba saja Sofi menyalahkannya.


"Karena tadi kamu lama menatap bos"


"Emang kenapa?"


"Aduhhhh kan tadi sudah saya bilang, dia tidak suka, nanti dia marah. Sepertinya sekarang dia marah. Jadi siap-siap aja kamu di panggil" jelas Sofi pada Nayla.


"Kalau saya dipanggil dan ditanya tinggal bilang kalau saya karyawan baru pengen kenal bos. Gimana?" Sofi hanya menepuk jidatnya, Nayla sepertinya tidak takut sama sekali. Sedangkan Nayla hanya tersenyum melihat Sofi.


"Ayo balik keruangan" ajak Ine ke kedua anggota timnya.


Saat diruangan Ine mendapat pesan dari Alex, memintanya menyuruh Nayla untuk naik keruangan Sandy. Sofi yang sudah menduga Nayla akan dipanggil bos memberi semangat pada Nayla untuk jangan takut.


"Jangan takut, kamu hanya di tanya-tanya aja kok" ucapnya pada Nayla yang hanya tersenyum.


"Ini pasti akal-akal kak Sandy" batin Nayla.


"Kak, apa peraturan tidak boleh melihat Kak Sandy lama-lama di kantor ini juga berlaku untuk saya?" tanya Nayla saat sudah berada diruangan Sandy.


Sandy tertawa mendengar pertanyaan Nayla.


"Bukannya kamu yang tidak ingin orang lain tahu tentang kita, membuat kita seolah-olah tidak saling kenal. Jadi peraturan itu akan berlaku untuk orang yang tidak kenal saya" jawabnya.


"Kakak mau memarahi saya sekarang?" Sandy kembali tertawa mendengar pertanyaan Nayla.


"Sini duduk" tepuk Sandy pada sofa disampingnya yang di ikuti Nayla.


"Ada apa Kak?" tanya Nayla.

__ADS_1


"Kamu masih marah?" Sandy balik bertanya.


"Marah?" Nayla malah balik bertanya.


"Maaf, kemarin sore saya tidak bermaksud...." kata-kata Sandy di potong Nayla.


"Saya tidak marah kak, maaf kalau sikap saya membuat Kakak tidak nyaman"


Kini keduanya terdiam dalam pikiran mereka masing-masing. Sama-sama merasa bersalah. Sandy merasa perbuatannya terlalu jauh sedangkan Nayla merasa Sandy seperti Nuno.


Ting. Suara notifikasi di handphone Nayla berbunyi. Nayla membuka pesan dari Putri kalau dia ikut pulang ke rumah Lola.


"Pesan dari siapa?" tanya Sandy.


"Putri, dia bilang ikut pulang kerumah Lola dan nanti sore minta di jemput disana" jelas Nayla.


"Kak, kenapa Kakak tidak mau tersenyum dengan karyawan yang ada disini?" tanya Nayla penasaran dengan sikap Sandy.


"Kakak menakutkan kalau mukanya kaku seperti itu, jangankan yang tidak kenal siapa Kakak, saya yang sudah kenal juga takut" ucap Nayla jujur. Dia tidak suka melihat Sandy tanpa senyum seperti tadi yang dilihatnya saat di kantin.


"Kamu mau mendengar alasannya?" tanya Sandy.


"Tapi ceritanya panjang" sambungnya.


"Apa sepanjang rel kereta api kak? Dari Jakarta - Surabaya atau hanya dari Jakarta - Bandung?" tanya Nayla menggoda Sandy.


"Kalau Kakak tidak mau cerita tidak apa-apa, Saya balik keruangan saja" ucap Nayla sambil berdiri dan ditarik Sandy lagi untuk duduk.


"Duduk, saya akan cerita" ucap Sandy.


Sandy bercerita saat dia masih SMU dan menyukai lawan jenis untuk pertama kalinya.


"Dulu saat masih SMU saya menyukai seseorang. Dia satu kelas dengan saya. Dia siswi popular di sekolah. Karenanya saya tidak berani mengatakan apapun apa lagi mendekatinya sampai akhirnya kami lulus dan saya dikirim papa study di Inggris"


"Setelah saya pulang dari Inggris, papa meminta saya mengantikannya di perusahaan ini"


"Tadinya saya bersikap biasa, tersenyum pada setiap karyawan yang menyapa. Friendly pada semua orang sampai akhirnya tidak sengaja saya bertemu dia lagi"


"Dia bekerja di perusahaan yang akan bekerja sama dengan saya" ucap Sandy sambil melirik Nayla yang hanya diam saja.


"Kami sering bertemu untuk urusan pekerjaan dan juga diluar pekerjaan, membuat kami semakin dekat. Perasaan yang sudah terkubur sebelumnya mulai tumbuh kembali bahkan semakin besar"


"Sebagai seorang pemimpin banyak wanita yang berusaha mencari perhatian saya. Sikap saya yang terlalu friendly membuat mereka mudah mendekati saya"


Nayla terus mendengarkan cerita Sandy, menyimak setiap kata-katanya. Tanpa menyela sedikitpun.


"Dia tidak menyukai hal itu. Untuk menjaga persaannya saya mulai menjaga sikap pada wanita dan merubah kebiasaan saya, membuat mereka mulai takut dan menghindar"

__ADS_1


"Kami sangat dekat tapi tidak ada ikatan, sampai akhirnya saya memutuskan ingin melamarnya"


Wajah Sandy berubah saat mengatakan itu. Nayla yang memperhatikan perubahan pada wajah Sandy melihat kesedihan disana.


"Saya memintanya bertemu di tempat yang sudah saya siapkan untuk melamarnya. Dia mengatakan kalau dia akan datang"


Mata Sandy mulai berkaca-kaca. Nayla memperhatikan itu dan terus menyimak setiap kata yang dikeluarkan Sandy.


"Saya menunggu lebih dari tiga puluh menit dari waktu yang kami sepakati untuk bertemu, tapi dia tidak juga datang, saya mencoba menghubunginya tapi tidak tersambung. Sampai akhirnya Alex mengabari saya kalau dia sekarang di rumah sakit karena kecelakaan"


Sandy terdiam, ingatannya kembali lagi pada malam yang membuat dia membenci dirinya sendiri. Nayla berdiri dan mengambilkan Sandy segelas air.


"Tidak perlu dilanjutkan lagi kalau Kakak tidak ingin mengingatnya kembali" ucap Nayla sambil mengusap bahu Sandy dan memberikan gelas yang ada di tanganya pada Sandy.


Sandy hanya diam, air minum yang diberikan Nayla bisa membuatnya lebih tenang dan melanjutkan ceritanya.


"Dia pergi meninggalkan saya untuk selamanya"


"Saya menyalahkan diri saya atas kecelakaan itu. Seharusnya saya yang datang padanya, bukan memintanya untuk datang pada saya"


"Sejak hari itu saya jadi orang yang dingin pada setiap orang yang tidak terlalu dekat dengan saya, apa lagi kalau itu wanita"


"Tapi setahun yang lalu saya bertemu seorang wanita yang tidak sengaja menabrak saya"


Wajah Sandy berubah, dia tersenyum pada Nayla. Kesedihan diwajahnya kini sudah hilang tergantikan dengan senyum bahagia.


"Pertemuan yang hanya sebentar tapi mampu membuat saya tidak bisa melupakannya. Saya sering datang ke tempat yang sama hanya untuk berharap bertemu kembali padanya"


Nayla mengingat kembali saat dia menabrak Sandy bahkan setelahnya beberapa kali Sandy hadir dalam mimpinya.


"Sudah hampir putus asa untuk bisa menemukannya lagi, tapi Tuhan sangat baik, tanpa sengaja saya melihat dia sedang duduk sendiri"


"Dan Tuhan benar-benar baik pada saya. sekarang wanita itu sangat dekat, duduk disamping saya"


Sandy meraih tangan Nayla dan mengenggamnya. Nayla hanya diam, kata-kata terakhir dari Sandy membuatnya tidak tahu harus bagaimana?


Sandy membalikkan badanya menghadap Nayla.


"Nay, ijinkan saya untuk menyayangi dan mencintaimu, dan terus mengenggam tangan ini" ucap Sandy sambil mengecup tangan Nayla.


Sementara Nayla hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa, dia belum yakin dengan perasaanya sendiri.


Sandy yang melihat Nayla hanya diam tidak bisa meminta lebih. Dia ingat pesan Mery untuk memberi Nayla waktu.


"Apa kamu mengijinkannya Nay?"


**************************

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir dikarya author, mohon dukungan like, koment dan votenya 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2