
Satu tahun kemudian
"Tante Nay" suara khas si anak manja mengagetkan Nayla yang sedang sibuk dengan desainnya.
"Anterin kita berdua ke alun-alun dong" pinta Putri.
"Mau apa kalian kesana?"
"Ada dehhh pokoknya" jawab Putri dan Lola bersamaan.
"Baiklah kalau tidak ingin memberi tahu Tante untuk apa, tidak masalah. Itu berarti tidak ada yang pergi" jawab Nayla memasang muka datar walau sebenarnya menahan tawa. Baginya Putri dan Lola adalah hiburan yang bisa membuatnya bahagia.
"Baiklah Tante, sebenarnya kita janjian sama teman" kini Lola yang menjawab.
Teman apa teman?" tanya Nayla mengoda kedua anak ABG ini. Dia sudah tahu kedua babynya ini sudah mulai nakal.
"Beneran teman kok Tan" jawab Putri jujur.
"Cowok apa cewek?" tanya Nayla lagi.
"Cow..."
"Dua-duanya Tante, hehehe" sahut Putri. Untuk apa berbohong pikirnya. Nanti tantenya juga akan tahu.
"Baiklah, Tante akan menunggu kalian di alun-alun sambil menyelesaikan tugas Tante" jawab Nayla.
"Akhhh Tante memang yang terbaik" peluk Putri pada Nayla.
"Tapi nggak gratis yaa" jawab Nayla.
"Tante Nay" teriak Putri pada tante kesayangannya.
"Hahahaha. Ayo kalau mau pergi" ajak Nayla pada keduanya.
Tidak butuh waktu lama, Kini mereka sudah sampai di alun-alun kota Bandung.
"Tante teman-teman ada disana" putri menunjuk pada beberapa anak-anak remaja.
"kami kesana ya Tan" Ucap Lola
"Baiklah, Tante duduk disini, jagan jauh-jauh" teriak Nayla karena keduanya sudah berlari ke arah teman-teman mereka berkumpul.
Nayla menunggu sambil mengganbar desain rumah permintaan temannya yang sudah jadi arsitek.
"Boleh saya duduk disini" tanya seseorang.
"Silakan" Jawab Nayla tanpa melihat orang yang meminta ijin padanya. Dia tetap fokus pada coretan-coretan gambarnya.
"Ternyata kamu seorang arsitek ya" tegur pria yang duduk disampingnya.
"Bukan, saya hanya senang menggambarnya saja. Kebetulan ada teman yang minta tolong" jawabnya sambil menyimpan gambar yang dibuatnya.
__ADS_1
Nayla melihat ke arah Putri dan teman-temannya. Walaupun dia sambil menggambar tapi dia tetap memantau dari jauh keponakan manjanya itu.
Kini dia berbalik melihat orang yang duduk di sebelahnya. Sungguh seperti mimpi, orang yang setahun lalu yang pernah di tabraknya sekarang duduk di sampingnya.
Nayla tidak bisa lupa dengan wajah pria ini, bahkan dia bertemu lagi di dalam mimpinya. Dan sekarang ini bukan mimpi, ini nyata.
"Anda...." ucap Nayla.
"Iya, ada apa? Apa kamu masih mengenali saya" tanya pria itu. Nayla menganggukan kepalanya.
"Tidak disangka kita bertemu lagi" ucap pria itu.
"Iya, bahkan kejadian itu sudah lama sekali" jawab Nayla dengan tersenyum.
"Desain rumah yang kamu buat sangat bagus, bahkan sedikit unik tidak pada umumnya"
"Bapak sepertinya sangat mengerti tentang desain rumah" sahut Nayla.
"Hai, apa saya setua itu di panggil Bapak?" tegur Sandy yang merasa tidak nyaman dipanggil bapak oleh Nayla.
"Maaf, saya tidak tahu harus memanggil dengan sebutan apa" ucap Nayla jujur.
"Sandy" ucapnya.
"Kamu bisa memanggil nama pada saya"
"Tidak bisa begitu, itu sangat tidak sopan" jawab Nayla.
"Baiklah, Kak" Sandy hanya tersenyum mendengar Nayla memanggilnya sebutan kak.
"Kalau kamu bukan seorang arsitek lalu apa pekerjanmu?"
"Saya belum bekerja, baru lulus tahun ini dan masih menunggu waktu wisuda" kembali Nayla menjawab jujur.
"Saya mengambil bidang desain interior, tapi suka juga menggambar desain rumah"
"Kebetulan teman yang arsitek di minta membuat rancangan bangunan rumah yang tidak ingin seperti bangunan-bangunan pada umumnya, jadi dia meminta bantuan saya" ucap Nayla sambil terus melihat kearah Putri.
"Menggapa mengambar di tempat ramai seperti ini?"
"Oohh karena selain menggambar saya juga jadi baby sister" jawab Nayla sambil terkekeh.
Jawaban Nayla tentu saja membuat Sandy binggung, kata-kata baby sister yang menjadikan pertanyaan di kepalanya. Gadis cantik yang masih mudah, seorang sarjana mau jadi baby sister seperti tidak dapat dipercaya pikirnya. Nayla yang melihat Sandy kebingungan tertawa.
"Hahaha. Kak jangan terlalu serius. Saya hanya menjaga keponakan saya yang masih ABG yang lagi berkumpul dengan teman-temannya disana" tunjuk Nayla pada putri.
"Sepertinya kamu sangat menyayangi keponakkanmu?" tanya Sandy
"Itu harus" jawab Nayla.
Bagi Nayla Putri seperti putrinya sendiri. Anak itu memamg manja bukan karena tidak ada sebab. Omanya yang selama ini memanjakannya sejak mamanya meninggalkan Putri disaat usia Putri empat tahun. Nyawa mamanya tidak tertolong saat akan melahirkam adik Putri. Karena itulah, kak Heru meminta dia menjaga Putri, menurut keluraganya hanua Nayla yang bisa menjadi penganti sosok ibu bagi Putri.
__ADS_1
"Ada apa?" Sandy melihat Nayla melamun.
"Tidak ada apa-apa, saya hanya teringat masa kecil keponakan saya"
"Masalah pekerjaan kebetulan sekali kantor tempat saya bekerja sedang membutuhkan seorang desain interior, mungkin kamu berminat" kini Sandy mengalihkan pembicaraan mereka.
"Benarkah Kak? Tentu saya berminat, cari kerja sekarang itu sulit" Antusias Nayla dengan tawaran Sandy.
Sebenarnya setelah wisuda Nayla di minta kak Heru membantu pekerjaanya di kantor. Tapi Nayla masih ingin mencari penggalaman bekerja di tempat lain.
"Berapa nomor telepon kamu? Nanti saya berikan alamat perusahaan dan syarat-syarat yang harus kamu penuhi"
Nayla memberikan nomor teleponya. Karena dia memang ingin melamar pekerjaan di perusahaan yang disebutkan Sandy.
"Kak Sandy, saya pamit duluan ya. Ini sudah sore, saya harus segera mengajak keponakan saya pulang" pamit Nayla pada Sandy.
"Dan terimakasih sudah mau membatu saya mendapatkan pekerjaan" sambung Nayla.
"Iya, nanti akan saya kabari kamu" jawab Sandy.
Sandy PoV
Gadis cantik, ramah, suka humor, ternyata kamu sangat komplit.
Aku sampai lupa tujuan ku berada disini. tadi mama memintaku untuk menjemput cucu kesangannya, putri dari tetehku.
Tadi aku berjalan mencari keberadaan Lola keponakannku, aku terus mencari keberadaan Lola, tapi pandanganku terhenti pada seseorang yang selalu kuingat satu tahun terakhir ini.
"Iya, dia. Itu benar dia yang pernah menabrakku di bioskop saat menjemput Lola" gumamku.
Aku menemukan dia, aku menemukannya setelah satu tahun. Sekarang aku tidak akan membiarkan dia pergi lagi.
Tadi dia seperti terkejut setelah tahu aku yang duduk diampingnya. Ternyata dia juga masih ingat denganku.
Cantik, aku menamainya dengan nama itu di telepon genggamku. Aku lupa menanyakan namanya, tidak apa-apa akan kutanyakan nanti.
Dia pamit pada ku dan kulihat dia berjalan kearah anak-anak ABG yang sedang berkumpul di ujung taman. Dia menghampiri seseorang dan mengajaknya pergi.
"Itukah keponakannya?"
Keponakannya sepertinya sangat penurut, kenapa dia yang harus disibukkan untuk menjaga keponakannya? Tadi dia terlihat agak sedih saat aku mengatakan sepertinya dia sangat menyayangi keponakannya.
Dengan keponakan saja dia bisa sesayang itu, bahkan rela mengerjakan pekerjaanya di tempat ramai seperti ini demi menjaga keponakannya apa lagi nanti dengan anaknya sendiri batin ku.
Anak? Ada apa denganku, terlalu jauh membayangkan dia menjadi ibu dari anak-anakku.
Dan sungguh aku tidak menduga Lola yang akan ku jemput juga berada disana. "
Jadi, keponakannya adalah teman Lola? Waktu seakan mempermainkan ku. Mengapa aku baru mengetahuinya sekarang? sesalku.
********************
__ADS_1
Tulisan ini pengalaman pertama Author, karena itu Author mohon maaf bila cara penulisan dan alurnya kurang menarik. Author mohon dukungan dan masukan dan jangan lupa like dan kometnya 🙏🙏🙏