
"Nayla, kenapa kamu lama sekali? Kamu dibilangin apa aja? Kenapa kamu pucat begini?" tanya Sofi beruntun yang dari tadi gelisah menunggu Nayla tidak kembali ke ruangan.
Diruangan hanya ada mereka berdua. Ine pergi bersama David menemui klien sedangkan Fian mengecek furniture yang di komplain konsumen.
"Teteh, kalau nanya satu-satu, saya harus jawab yang mana dulu?" protes Nayla.
"Ya jawab semuanya atuh" ucap Sofi kesal, karena dia sudah sangat khawatir.
"Saya lama karena pak Sandy tidak langsung menemui saya" ucap Nayla bohong. "Maaf teh saya terpaksa berbohong" Batin Nayla
"Saya tidak dibilangin apa-apa, hanya diingatkan untuk jaga sikap dan jaga mata saya" Nayla kembali berbohong.
"Saya pucat karena saya gugup Teh" kali ini Nayla tidak berbohong dia memang sangat gugup karena Sandy tiba-tiba mencium pipinya saat akan masuk kedalam lift.
Setelah Nayla menerima Sandy, Sandy lebih berani menunjukkan kasih sayangnya pada Nayla. Berharap apa yang dilakukannya membuat Nayla yakin berada disisinya dan berjalan bersamaya.
"Syukurlah" ucap Sofi, dia sudah tenang sekarang.
Mereka melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Nayla tidak bisa berkonsentrasi, gambar yang dibuatnya selalu salah. Dia terus memikirkan Sandy yang tidak memaksanya untuk mencintainya tapi memintanya belajar mencintai Sandy.
Nayla PoV
Aku tidak tahu harus menjawab apa, aku merasakan kehangatan saat bersamanya. Kata-kata kak Adam seketika hadir dalam ingatanku, memintaku mencoba membuka hati menerima kehadiran cinta yang baru.
Akhirnya aku menjawab iya, aku mengijinkannya untuk mencintaiku. Ku harap ini bukan sebuah kesalahan.
Aku tidak bisa mengerti perasaanku sendiri, aku mencintainya sebagai Sandy atau mencintainya karena sama dengan kak Uno.
Aku bisa merasakan jantungku berdebar bila bersamanya, seperti saat pertama aku mengenal kak Uno. Genggaman tangannya mengalirkan kehangatan membuat rasa nyaman, senyaman yang pernah kurasakan saat bersama kak Uno.
Apa aku mencintainya seperti aku mencintai kak Uno? Aku tidak tahu. Tapi aku tidak bisa jauh darinya, setiap langkahku selalu ada dia yang ikut melangkah bersamaku.
Bermodalkan restu dari kak Adam aku berharap semoga bisa memudahkan langkahku berjalan disisi nya. Menemukan cinta yang sesunguhnya tempatku berlabuh.
Author
"Kenapa jadi ngelamun neng?" tanya Sofi menyadarkan Nayla.
"Masih menenangkan diri teh, saya masih gemetar bagaimana bisa menggambar" ucap Nayla.
"Kita pulang aja yaa, aku juga lagi ngeblang ngak bisa mikir" ucap Sofi mengajak Nayla pulang.
"Emang boleh?" tanya Nayla karena ini masih jam kerja.
"Khusus untuk tim kita waktu kerjanya bebas. Tidak mesti sesuai jam kerja yang penting kerjaan beres sebelum deadline"
"Wahhh enak dong teh" Nayla baru tahu, berarti dia bisa mengatur waktu sesuai keinginanya.
"Yang penting pagi datang untuk rapat sama teh Ine" sambung Sofi. Nayla mengangguk tanda mengerti.
"Kamu masih mau disini apa pulang?"
"Pulang teh, tapi teteh duluan aja, saya masih mau membereskan meja biar besok pagi sudah rapi" jawab Nayla.
__ADS_1
Nayla sudah selesai membereskan kertas-kertas yang berserakan di mejanya. Dia mengambil handphone untuk meberitahu Sandy kalau dia akan pulang dan menjemput Putri. Mulai sekarang dia harus membiasakan diri memberi kabar dan meminta ijin pada Sandy tentang dan apa yang akan dia lakukan.
Jantungnya berdetak kencang saat seseorang memeluknya dari belakang. Rasa nyaman yang dirindukannya selama ini terasa hangat mengaliri seluruh tubuhnya rasa yang sama membuatnya bergetar.
"Kamu sudah mau pulang?" Suara Sandy berbisik di telinganya.
"Kak lepasin nanti ada yang lihat" ucap Nayla. Sandy melepaskan pelukannya, dia tidak ingin membuat Nayla tidak nyaman.
Tadi dia mengecek CCTV melihat Nayla tinggal sendiri di ruangan sedang membereskan mejanya. Sandy segera turun dia yakin kalau Nayla sudah akan pulang, sementara dia masih ingin melihat pujaan hatinya.
"Kakak kenapa disini?" tanya Nayla.
"Merindukan mu"
"Nanti ada yang lihat Kak" Nayla melihat ke arah pintu yang tertutup.
"Pintunya tertutup dan disini hanya ada kita berdua" ucap Sandy.
"Tapikan bisa saja ada yang lihat Kakak masuk ke sini" Nayla tidak ingin rahasia kedekatannya dengan Sandy terbongkar.
"Tidak ada yang melarang bos untuk masuk keruangan manapun" jawab Sandy sambil tersenyum lebar.
"Kak" Nayla kesal Sandy menunjukan kekuasaannya.
"Jangan panggil kakak, ganti yang lain. Kalau panggil kakak sama seperti kak Adam hanya kakak bukan yang special" pinta Sandy.
Nayla terdiam kata-kata Sandy mengingatkannya pada Nuno yang hanya dipanggil kakak olehnya.
"Aa aja ya? Kan orang sunda"
"Tapi boleh juga A itu hurup pertama jadi Aa akan selalu jadi yang pertama untuk mu" sambung Sandy sambil mengacak-acak rambut Nayla.
Nayla hanya tersenyum mendengar jawaban Sandy.
"Aa Nay pulang ya, mau jemput putri juga, nanti kesorean" Sandy mengijinkan Nayla pulang walaupun dia masih ingin bersama.
Nayla sudah sampai di kediaman orang tua Lola untuk menjemput Putri.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Wah calon manantu mama yang datang" ucap mama Rita.
Dari dulu mama Rita selalu memanggil Nayla calon menantu padahal dia belum mengenalkan Nayla dengan putranya.
"Mama Rita lagi di sini?" tanya Nayla sambil mencium tangan mama Rita.
"Iya sayang, baby Al lagi kurang enak badan" ucap mama Rita.
"Sakit apa Ma?" tanya Nayla lagi.
"Panas, tapi udah agak enakan"
__ADS_1
Nia keluar dari dalam rumah mendengar ada suara Nayla yang datang sambil menggendong baby Al. Nayla yang melihat baby Al langsung mendekat.
"Sayang tante lagi sakit yaa" tegur Nayla pada baby Al yang langsung di gendongnya. Al yang sudah kenal Nayla langsung nemplok di gendongannya.
"Anak-anak dimana teh?" Nayla menanyakan keberadaan Putri dan Lola yang tidak kelihatan.
"Tadi Teteh suruh nebus obat Al ke apotik depan" jawab Nia.
"Pantesan nggak langsung keluar" sahut Nayla.
Baby Al tertawa saat Nayla mengajaknya bercanda. Mama Rita yang melihatnya semakin mengagumi Nayla.
Dari jauh mobil Sandy datang. Mama Rita yang melihatnya langsung senang. Sudah lama dia ingin mengenalkan Nayla dengan Sandy.
"Wah pucuk di cinta ulam tiba" ucap mama Rita.
"Dari kemarin Mama ingin ngenalin kamu sama putra Mama sayang, kebetulan sekali di juga mampir kesini" mama Rita meberi tahu Nayla.
Sandy turun dari mobilnya tersenyum lebar melihat pujaan hatinya sedang bersama mamanya dan tetehnya yang duduk di teras.
"Sayang sini kenalin, ini Nayla yang Mama ceritain ke kamu, yang mau Mama jodohin sama kamu, cantik kan" ucap mama Rita semangat.
"Kami sudah kenal Ma" jawab Nayla.
"Kenal dimana?" tanya mama Rita tidak percaya.
"Waktu Aa Sandy ngantar Lola ke rumah" jawab Nayla.
"Dan sekarang Nayla kerja di perusahhan kita Ma" sambung Sandy.
"Benarkah, wahhh Mama ketinggalan berita kalau begitu yaa" Mama Rita tampak senang.
"Nia apa kamu sudah tahu?" tanya Mama Rita pada Nia.
"Sudah Ma, kemarin Lola yang cerita" jawab Nia sambil mendekati Nayla dan mengambil baby Al yang sudah tertidur di gendogan Nayla.
"Sini biar Teteh tidurkan dikamar, dari tadi tidak mau tidur. Di gendong Tante Nay langsung lelap" ucap Nia.
Sandy yang mendengar itu sangat senang. Nayla sudah dekat dengan keluarganya dan dia pun sudah dekat dengan keluarga Nayla. Tinggal menunggu kesiapan Nayla, pikirnya.
"Ayo masuk ke dalam sambil menunggu Lola dan Putri" ajak mama Rita.
Saat Nayla akan masuk dengan cepat Sandy mengengam tangannya.
"Aa" Nayla takut mama Rita melihat, Sandy hanya tersenyum menggodanya.
"Sayang makan malam disini ya" pinta mama Rita pada Nayla. Sekarang mereka sudah duduk di ruang keluarga.
"Lain kali aja ya Ma, soalnya Putri habis magrib ada guru mengajinya datang. Kasian kalau kami tidak ada di rumah" tolak Nayla tawaran mama Rita.
"Putri sangat beruntung punya tante seperti kamu sayang, dia bisa merasakan kasih sayang mamanya yang hilang dari kamu"
Nayla hanya tersenyum mendengar kata-kata mama Rita.
__ADS_1
**************************
Terima kasih sudah mampir di karya Author