
Acara kumpul di Lembang sudah satu minggu berlalu. Sejak sampai di Bandung sampai hari ini Nayla tidak bertemu Sandy.
Kak Adam sudah kembali ke Malaysia begitupun ayah Dimas, bunda Aisyah dan yang lain langsung pulang ke Jakarta. Dirumah kembali sepi, tinggal Putri, Nayla dan Mery yang semenjak koas ikut tinggal di kediaman Nayla.
Seminggu ini Nayla menyelesaikan pekerjaanya di cafe Zein yang baru, membuat dia tidak terlalu memikirkan Sandy walau terkadang ada kerinduan yang dirasakannya. Semua interior cafe sudah selesai seperti keinginan Zein.
Tiga hari yang lalu Nayla sudah mendapatkan panggilan dari perusahaan Sandy untuk melakukan wawancara hari ini.
Pagi-pagi sekali dia sudah bersiap-siap karena jadwal wawancara jam sembilan pagi. Seperti biasa melakukan rutinitas paginya menyiapkan sarapan yang dibantu Mery dan mengantarkan Putri ke sekolah. Setelahnya baru dia bebas beraktifitas.
Nayla sudah berada di perusahaan Sandy. Dia sengaja tidak mengabari Sandy, dia ingin melakukannya sendiri tanpa perlu dibantu karena ini pengalaman pertamanya.
"Teteh permisi, saya menerima panggilan untuk wawancara hari ini" Nayla mengatakan tujuannya pada resepsionis.
"Atas nama Nayla ya" tanya Rina yang bertugas saat ini.
"Iya" Nayla sedikit gugup karena belum berpengalaman dalam wawancara kerja.
"Baiklah saya antar keruangan pertemuan, kamu sudah di tunggu sama asisten bos" ucap Rina sambil berjalan ke depan lift diikuti Nayla.
"Ruangannya dilantai teratas" katanya pada Nayla.
"Kamu baru lulus ya, masih muda sekali"
"Iya Teh, baru tahun ini"
"Tidak usah takut, yang wawancara kamu asisten bos bukannya bos"
"Kalau bos kenapa teh?" tanya Nayla penasaran.
"Tidak apa-apa sih hanya saja bos itu tampan tapi menakutkan, orangnya dingin seperti kulkas, tidak mau senyum, tidak banyak bicara juga, tidak suka sama karyawan yang mencari-cari perhatiannya" Rina menjelaskan pada Nayla agar gadis itu tidak melakukan kesalahan.
"Jadi kamu kalau diterima kerja disini mendingan jangan sampe ketemu bos" lanjutnya lagi.
"Iya Teh" jawab Nayla, peringatan yang diberikan resepsionis itu membuat Nayla sedikit takut.
Mereka sudah sampai di depan ruangan yang dituju.
"Diketuk saja, saya tinggal, semoga berhasil" ucap Rina sambil melambaikan tangannya.
"Terima kasih Teh" ucap Nayla tulus. Ternyata resepsionisnya sangat baik batinnya.
Tok..tok...tok...Nayla mengetuk pintu di depannya.
"Masuk" terdengar suara dari dalam. Nayla membuka pintu masuk sambil tersenyum untuk menutupi kegugupannya.
Alex yang ditugaskan Sandy untuk mewawancarai Nayla melihat Nayla yang tersenyum membalas senyum cantik itu.
Bos, pantas saja kamu jatuh cinta sama cewek bening begini, gila senyumnya bikin merinding. Alek yang memandangi Nayla mengagumi kecantikan Nayla.
__ADS_1
Ting...
Suara Hp Alex berbunyi menandakan pesan masuk dan Alex langsung melihatnya
"Silakan duduk, sebentar yaa" Alex meminta Nayla menunggu.
Sandy yang memantau dari CCTV melihat Alex yang mengagumi Nayla membuatnya cemburu.
Kalau tidak boleh dilihat jangan nyuruh saya yang wawancara, kesal Alex setelah membaca pesan dari Sandy
"Nayla Angraini" Alex menyebut nama Lengkap Nayla.
"Saya pak" jawab Nayla yang sedikit gugup menghadapi Alex. Baru asistenya sudah gugup begini bagaimana kalau bos nya batin Nayla mencoba menenangkan dirinya.
"Kami sangat membutuhkan karyawan desain interior, tidak ada yang perlu saya tanyakan pada anda, karena dari berkas lamaran kerja anda perusahaan sudah bisa menilai kinerja anda. Saya juga tidak perlu menjelaskan panjang lebar karena anda sudah bisa bekerja mulai hari ini" ucap Alex yang langsung memberitahu Nayla dari pada berlama-lama bisa-bisa bosnya marah besar pikirnya.
"Hari ini?" tanya Nayla untuk meyakinkan.
"Iya, hari ini"
"Saya belum mempersiapkan apa-apa pak"
"Tidak masalah, kamu bisa berkenalan dulu dengan rekan kerja yang lain yang satu tim denganmu"
"Baik pak"
Alex mengantarkan Nayla ke ruang kerjanya di lantai tiga yang sudah di pasang CCTV oleh Sandy tanpa ada yang tahu. Itu dilakukan Sandy untuk memudahkannya memantau Nayla tanpa di ketahui.
"Perkenalkan ini karyawan baru di tim ini, namanya Nayla" Alex memperkenalakan Nayla pada rekan kerjanya.
"Wahhh pak Alex bisa aja biar tim ini semangat di kasih yang bening" ucap David sambil berjalan mendekati Nayla.
"David" dia memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Nayla yang akan membalas langsung di jabat oleh Ine.
"Ine, jangan bersalaman dengan David, bahaya nanti kena pelet" bisiknya.
Nayla hanya terseyum mendengar yang di katakan Ine. Ada sofi yang berdiri di belakang Ine ikut tertawa mendengar bisikan Ine sambil mengulurkan tangannya
"Sofi"
Dari jauh Fian menyebutkan namanya.
"Fian" teriaknya.
Alex meninggalkan ruangan itu setelah meminta Ine sebagai senior disana membantu Nayla.
"Selamat ya Nay, kamu di terima di perusahaan ini. Semoga betah, bos kita baik nggak pelit soal uang, kalau kita kerjanya bener suka dikasih bonus tapi sayangnya orangnya dingin apa lagi sama cewek" ucapnya.
"Apa benar-benar menakutkan?" tanya Nayla penasaran.
__ADS_1
"Kamu lihat saja sendiri nati kalau bertemu" Nayla hanya menganggukan kepalanya walau masih penasaran.
Dia teringat dengan Sandy kalau dia belum mengabari Sandy. Walau bagaimanapun dia harus berterima kasih karena Sandy yang memberi informasi tentang pekerjaan ini.
Nayla [Kak Sandy dimana? Terima kasih. Saya sudah di terima di perusahaan tempat kakak bekerja]
Pesan terkirim tapi tidak di baca. "Kak Sandy masih banyak kerjaan mungkin" batin Nayla menenangkan pikirannya.
"Nayla" Ine memanggilnya ke sebuah meja besar yang ada diruangan ini. Nayla melihat yang lain sudah duduk disana.
"Sini Nay duduk" ajak Sofi. Nayla mendekat dan duduk di kursi yang ditunjuk Sofi. Dia duduk antara Sofi dan Ine.
"Baiklah kita mulai rapat kita hari ini" ucap Ine sebagai pemimpin di tim desain.
Nayla memperhatikan cara kerja mereka. Memberikan laporan-laporan dan foto hasil kerja mereka di lapangan.
Menyimak dan mendengarkan apa saja yang di bicarakan. Untung saja Shinta kemarin mengajaknya ikut kegiatan kemahasiswaan, jadi terbiasa menghadiri rapat. Tidak jauh berbeda dengan rapat-rapat yang di hadirinya saat masih mahasiswa membuat Nayla sedikit relax dan perlahan kegugupannya kerja dihari pertama hilang.
Suasan di ruangan tim desain cukup hangat. Semua serius tapi santai, membuat Nayla merasa nyaman dan tidak canggung berada diantara mereka. Tidak ada yang menunjukkan diri siapa yang unggul dan berkuasa. Semua saling membantu dan saling memberi masukan untuk kerja mereka masing-masing.
Rapat selesai Nayla sudah diberi tugas oleh Ine untuk mendesain interior rumah minimalis yang pemilikinya memiliki dua anak kecil. Jadi dia diminta untuk menepatkan furniture yang tidak berbahaya bagi anak-anak.
"Baiklah rapat kita cukup untuk hari ini, dan lanjutkan pekerjaan kalian setelah istirahat siang" ucap Ine mengakhiri rapat.
Ting.
Suara pesan masuk di ponsel milik Nayla.
Sandy [Selamat bekerja di perusahaan ini. Sekarang sudah jam makan siang, keruangan saya ya]
Nayla [Saya di ajak Teh Ine makan di kantin kantor kak]
Sandy [Besok saja makan sama mereka. sekarang keruangan saya. Kita rayakan hari pertama kamu kerja]
Nayla [Baiklah]
Nayla memberi tahu Ine kalau dia tidak ikut makan di kantin bersama yang lain
"Teh Ine, maaf saya tidak ikut makan dikantin, kakak saya minta saya makan siang bersamanya"
"Iya, tidak apa-apa lain kali kita makan bersama" ucap Ine sambil berjalan ke luar ruagan bersama Sofi.
Nayla berada di lift menuju lantai atas seperti yang di sebutkan Sandy. Lantai atas hanya ada tiga ruangan. Ruangan Sandy, ruangan Alex dan ruangan pertemuan.
Nayla sudah sampai di lantai yang di sebutkan Sandy. Ting, pintu lift terbuka Sandy sudah berdiri di depan pintu.
"Sayang"
***********************
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca novel karya author. Author mohon dukungannya jangan lupa like dan koment 🙏🙏🙏🙏🙏