AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
76. HADIAH PERNIKAHAN


__ADS_3

"Teteh...." suara cempreng khas anak kecil milik Dea memanggil Putri dan Lola yang sedang bersantai menikmati makanan ringan.


Semua memandang kearah suara yang mereka kenal siapa pemiliknya, Mery dan Nayla berpandangan saat tahu Citra menyusul mereka sambil mengangkat kedua bahu mereka.


"Apa dia tidak ingin menikmati jadi pengantin baru" bisik Mery pada Nayla yang hanya menjawab dengan meletakkan jari telunjuk di mulutnya takut terdengar oleh yang lain.


"Ngapain pengantin baru menyesul kemari" ucap Mery saat Alex dan Citra sudah mendekat, sedangkan Dea sudah pergi berkeliling minta ditemani Putri dan Lola.


Sandy tidak peduli dengan kedatangan keduanya, dia tetap menikmati tidur dipangkuan Nayla dan belaian tangan istrinya.


"Bangun" pukul Alex kaki Sandy yang hanya membuka matanya menatap tajam Alex.


"Menggaggu kesenangan orang" ucap Sandy ketus tanpa ada niatan beranjak dari pangkuan istrinya.


"Dea yang meminta kami mengantarnya kesini setelah melihat foto putri dan Lola" jelas Citra setelah dia duduk.


Hanya para wanita yang sibuk berbincang, sedangkan Sandy dan Zein sama-sama tertidur.


"Nay, apa kalian berdua sudah bertemu Mitha?" tanya Alex membuat Citra dan Mery menatap Nayla.


Citra dan Mery sebagai sahabat tentu tahu siapa Mitha sebagai orang yang pernah dicintai Sandy, mereka cukup terkejut mendengar Nayla dan Sandy bertemu Mitha yang mereka tahu sudah tiada.


"Kak Alex tahu kalau dia masih hidup?" Nayla balik bertanya.


Alex menjelaskan kalau satu minggu yang lalu Mitha dan Leo menemuinya dan menceritakan apa yang terjadi pada Mitha lalu meminta di undang ke pesta pernikahannya, Mitha mengatakan kalau ingin bertemu Sandy dan Nayla. Alex juga diminta Mitha untuk tidak memberitahu Sandy ataupun Nayla tentang Mitha yang selamat dari kecelakaan.


"Rahasia kakak sukses membuat aku dan Hans kemarin terkejut" jawab Nayla sambil tersenyum.


"Lalu?" tanya Mery penasaran sambil menunjuk Sandy yang terlelap.


"Tidak ada apa-apa, dia hanya terkejut lalu kami berbincang di cafe seberang gedung" jawab Nayla sambil melihat Sandy.


"Dan saat itu aku menyadari kalau aku benar-benar mencintai istriku" jawab Sandy yang bangun dari pangkuan Nayla dan langsung mengecup bibir istrinya.


Sandy terbangun saat Alex menayakan soal Mitha dan menyimak percakapan mereka tentang dirinya.


"So sweet" ucap Mery dan Citra bersamaan melihat adegan romantis di depan mereka.

__ADS_1


Wajah Nayla merona merah, ada perasaan senang dengan apa yang diucapkan Sandy. Itu berarti sudah tidak ada rasa dihati Sandy untuk Mitha, tapi dia malu Sandy melakulannya didepan sahabat-sahabatnya.


"Ayo kita pulang" ajak Sandy sambil mengusap bibir istrinya. Dia berdiri dan berteriak memanggil Putri, Lola dan Dea.


Semua sudah sampai di kediaman orang tua Bunda Aisyah, mereka masuk dan menemukan makanan yang sudah di sajikan di meja makan.


"Ayo kita langsung makan" ajak Ayah Dimas saat melihat kedatangan mereka.


"Wahhh pengantin baru ikutan juga nih..." goda Ayah Dimas saat melihat Alex dan Citra ada diantara mereka.


"Dea yang ribut ingin menyusul Putri dan Lola yah" jelas Citra sambil menyalimi tangan Ayah Dimas diikuti Alex dan yang lainnya.


"Tidak apa-apa, anggap saja kalian bulan madu disini" Ayah Dimas kembali menggoda Citra dan membuat pipinya memerah.


Semua menikmati makanan yang sudah dihidangkan, para istri yang terlihat sibuk mengambilkan makanan untuk suami mereka masing-masing. Putri dan Lola menepati janji mereka, tidak membuat Nayla repot untuk mengambilkan makanan mereka. Ayah Dimas tersenyum bahagia, kini putri-putrinya sudah mendapatkan pasangan hidup yang menyayangi mereka. Citra dan Mery bagi Ayah Dimas sudah seperti anaknya sendiri, persahabatan mereka dengan Nayla sudah seperti saudara.


"Ayah menunggu putri ayah satu lagi yang belum menikah" ucap Ayah Dimas setelah menghabiskan makannya.


"Tenang yah, tiga minggu lagi Bella akan menikah dengan Roy" Mery yang mewakili menjawab.


"Ayah akan memberikan kalian hadiah bulan madu, kalian bisa pergi bersama setelah Bella menikah. Jangan lupa ajak Shinta" kata-kata Ayah Dimas mebuat semua tersenyum senang.


"Itu hadiah pernikahan untuk kelima putri ayah" Jawab Ayah Dimas lalu berdiri meninggalkan semua.


"Terima kasih yah" teriak Zein mewakili semuanya.


Selepas makan siang semua beristirahat dikamar masing-masing, Ayah Dimas sudah merenovasi rumah tua milik orang tua Bunda Aisyah ini seperti vila, banyak kamar-kamar yang disiapkan, sengaja untuk kenyamanan keluarga yang menginap seperti sekarang ini.


Dea yang tertidur dikamar Putri dan Lola membuat Alex merasa mendapat kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua istrinya, kegiatanya tadi pagi yang sempat teganggu dilanjutkannya siang ini.


"I love you bunda" ucap Alex setelah melepaskan penyatuannya. Citra hanya diam, wajahnya merona merah, ini yang ketiga kalinya Alex menanamkan benih dirahimnya setelah semalam dua ronde yang mereka lakukan. Merasa lelah setelah bertempur Citra terlelap dalam pelukan suaminya, rasa damai dan hangat membuatnya merasa nyaman didalam pelukan Alex.


sementara itu Sandy membiarkan Nayla istirahat dan tidur setelah dzuhur, sedangkan dia terlihat sibuk menghubungi seseorang dan memberi beberapa perintah. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima belas, Sandy ikut berbaring disisi Nayla menatap wajah cantik yang tertidur pulas.


"Sayang...." pangil Sandy sambil mengecup bibir Nayla.


"Bangun" lanjutnya, meminta Nayla bangun.

__ADS_1


Sandy ingin mengajak Nayla kesuatu tempat yang sudah dia siapkan sejak lama sore ini.


Cup.... cup... cup.... Di ciumnya berkali-kali bibir istrinya yang sudah membuatnya kecanduan.


Nayla yang terganggu membuka matanya, melihat wajah tampan yang tersenyum senang. "Bangun sayang" dan lansung melu mat bibir Nayla saat istrinya sudah membuka mata.


"Ayo kita jalan-jalan" ajak Sandy setelah puas menganggu istrinya.


"Besok saja sayang jalan-jalanya, yang lain juga masih istirahat" jawab Nayla yang merasa masih ingin berbaring.


Tanpa meminta persetujuan, Sandy berdiri dan menggendong istrinya masuk ke kamar mandi.


"Tidak ada penolakan untuk hari ini" ucapnya yang memaksa Nayla membersihkan diri berdua dengannya.


Sandy dan Nayla pergi tanpa ada yang tahu, mereka pergi dengan berjalan kaki. Nayla masih ingat, ini jalan pintas untuk ke danau yang hanya bisa di lewati kendaraan roda dua.


"Kita mau ke danau lagi Hans?" tanya Nayla yang penasaran dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Sandy.


"Tapi ini jalan ke danau Hans" jawab Nayla.


Sandy tidak menjawab kata-kata dari istrinya, membuat Nayla akhirnya ikut diam sepanjang jalan dan mengikuti kemana langkah Sandy membawanya.


Sandy menghentikan langkahnya di sebuah rumah yang terlihat seperti baru selesai di bangun. Seseorang berlari mendekatinya.


"Semua sudah siap den" ucap bapak paruh baya itu bicara pada Sandy.


"Mang Ucup" sapa Nayla yang mengenali bapak tua itu, dia yang biasa merawat rumah kakeknya Sandy dulu dan ikut bekerja di kebun milik Ayah Dimas setelah rumah kakek Sandy dijual oleh saudara-saudara Mama Rita tanpa memberi kabar pada Mama Rita yang ada di Inggris.


"Neng Lala" sapa Mang Ucup yang juga sangat hapal dengan putri majikannya.


"Manga neng ka lebet" Mang Ucup mempersilakan Nayla untuk masuk.


"Ayo sayang" ajak Sandy sambil menggenggam tangan Nayla.


Dengan rasa penasaran Nayla mengikuti langkah Sandy masuk kehalaman yang cukup luas, bangunan dua lantai yang ada didepanya terlihat megah.


"Hans" ucap Nayla saat Sandy membuka pintu rumah tersebut.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2