
Semua yang ada di ruangan berdiri dan menunduk hormat saat Sandy masuk. Tidak dengan Nayla dia hanya berdiri dan tersenyum menyambut orang yang di cintainya itu.
"Maaf mengganggu waktu kerja kalian, saya hanya menjemput Nayla" ucap Sandy pada semua yang ada disana.
"Ayo sayang, sudah di tunggu mama" Sandy mengajak Nayla menemui mama Rita sambil tersenyum pada kekasihnya itu.
Sofi dan Ine saling bertatapan mendengar Sandy memanggil sayang pada Nayla. Suaranya lembut dan hangat berbeda jauh dengan biasanya yang tegas dan wajah tampanya tersenyum, sungguh penglihatan yang susah didapatkan.
Nayla mengangguk, tadi Sandy sudah mengabarinya kalau mama Rita ingin bertemu dengan mereka. Nayla mengambil tas dimejanya dan kembali mendekat pada Sandy, lalu Nayla pamit pada Ine dan lain.
"Ayo Hans" ajak Nayla.
Tanpa sungkan Sandy meraih tangan halus itu dan menggenggamnya. Nayla mengikuti langkah Sandy yang menggenggam erat tangannya.
Terdengar nafas lega saat Sandy dan Nayla sudah berada di luar ruangan. Sofi yang sudah tidak tahan ingin mengeluarkan yang ada di kepalanya langsung teriak.
"Teteh Ine, jatung adek meleleh. Ternyata Pak Sandy romantis orangnya. Akhh Nayla sangat beruntung bisa selalu melihat senyum Pak Sandy" ucap Sofi sambil kembali membayangkan yang dilihatnya tadi.
"Aku juga bisa romantis dan kamu bisa melihat senyumku setiap hari" Fian menyahuti ucapan Sofi dan mendapat tatapan tajam dari Sofi.
"Hahaha kalian itu selalu ingin membuatku tertawa" ucap Ine yang melihat Fian tidak pernah menyerah mendapatkan hati Sofi sementara Sofi terus menolaknya.
"Apa kamu masih mengharap Pak Alex melirikmu?" Ine berbisik pada Sofi. Selama ini Sofi menaruh hati pada Alex dan hanya Ine yang tahu.
"Teh Ine" Teriak Sofi takut ucapan Ine di dengar Fian dan David.
"Ayo kita mulai" Ine meminta tim nya bersiap, tapi David sepertinya tidak mendengarkan.
"David" panggil Ine.
"David Nayla itu keturunan Harley mana mungkin orang biasa seperti kamu bisa mendapatkan barang berharga seperti dia"
"Kamu juga harus tahu Pak Sandy dan Nayla mereka sudah menjalin hubungan saat masih kecil"
"Dari mana kamu bisa tahu?" tanya David tidak percaya.
"Aku dan Sofi tahu saat Nayla di rumah sakit. Tapi Pak Sandy meminta kami merahasiakan hubungan mereka atas permintaan Nayla" Ine mencoba menjelaskan pada David.
Sementara didalam lift Sandy memeluk Nayla dari belakang, dia menempelkan dagunya di bahu Nayla. Mengecup cepat pipi mulus Nayla.
"Hans" Nayla meminta Sandy melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Sebentar saja sayang, aku merindukanmu" Nayla membiarkan Sandy melakukannya. Dia juga senang Sandy bermanja dengannya seperti ini.
Sandy segera melepas pelukannya saat suara lift berbunyi. Mereka sudah berada di lantai bawah. Sandy kembali meraih tangan Nayla dan menggenggam jari-jari halus pemilik hatinya.
Semua karyawan yang sedang berada di loby melihat pada mereka. Tidak sedikit yang merasa iri melihatnya. Banyak juga yang memuji pasangan itu. Sandy kembali memasang wajah datarnya sementara Nayla tetap memasang senyum manisnya.
Kendaraan milik Sandy sudah meluncur di jalan raya. Sandy kembali fokus pada jalanan dan sesekali melihat Nayla yang hanya diam memandang jalanan dari jendela.
"La ada yang ingin ku tanyakan padamu" Nayla mengalihkan pandangan menatap Sandy.
"Tanyakan saja" ucapnya.
"Kemarin saat kamu mengenalkanku dengan Rino aku tidak sempat bicara banyak padanya, karena Alex memanggilku" Sandy mengatakannya sambil melirik Nayla.
"Apa yang kalian bicarakan saat aku tinggal?" lanjut Sandy dan kembali fokus pada jalanan sambil menunggu jawaban Nayla.
"Apa karena berita yang beredar Hans?" tanya Nayla saat dia ingat artikel yang dibacanya.
"Kau sudah membacanya?" Sandy balik bertanya, dia tidak mengira Nayla sudah tahu lebih dulu.
"Bella yang mengirim link beritanya padaku. Bagiku tidak masalah orang lain mengartikan berita itu dengan persepsi mereka, selagi kau percaya padaku"
"Aku tidak pernah ada hubungan apapun dengannya. Foto-foto itu saat dia menyatakan perasaanya padaku dan aku tidak pernah tahu kalau foto itu ada" Nayla menyenderkan kepalanya di bahu Sandy.
Nayla menceritakan pada Sandy mengapa dia bisa berada di tempat itu bersama Rino. Mulai dari Citra yang memberitahunya tentang perasaan Rino sampai dia menerima ajakan Rino keluar bersamanya untuk bicara dan menolak Rino baik-baik karena sudah terikat dengan Nuno.
"Bagaimana kau tahu kalau dia yang melakukannya?"
"Bisa saja orang lain yang melakukannya" tanya Sandy melihat Nayla sangat yakin.
"Karena dia pemilik media online itu dan setiap berita harus mendapat persetujuan darinya. Tidak mungkin karyawannya berani melakukan itu tanpa ijin darinya"
"Kamu tahu kalau dia pemilik media online itu?" tanya Sandy sambil melihat sekilas kearah Nayla.
"Dari teman-teman di group alumni dan banyak yang memberikan komentar mereka terkait berita itu" Nayla menghela nafasnya.
Aku menolaknya secara baik-baik pun masih di perlakukan seperti ini, bagaimana kalau aku saat itu menolaknya dengan kasar" keluh Nayla dan bangun dari bahu Sandy.
"Sayang, jangan terlalu dipikirkan" Sandy menyemangati Nayla dengan mngeratkan jarinya dengan jari Nayla
"Ayo turun, mama sudah menunggu di dalam"
__ADS_1
Nayla mengikuti Sandy sambil memeluk lengannya masuk kesebuah toko perhiasan. Mama Rita sudah menunggunya bersama pemilik toko.
"Calon menantu saya sudah datang" ucap Mama Rita saat melihat Sandy dan Nayla berjalan mendekatinya memberitahu temannya yang juga pemilik toko perhiasan yang dia kunjungi saat ini.
Nayla langsung meraih tangan Mama Rita dan menciumnya. Mama Rita menyambutnya senang dan memeluk calon menantunya itu.
"Jeng Rika kenalkan ini calon menantu saya, cantik kan" Mama Rita mengenalkan Nayla pada temannya.
"Wahhh cantik sekali, Nak Sandy pinter cari istri" Rika menggagumi Nayla, selain cantik juga ramah dan sopan.
"Sayang kamu pilih yang mana kamu suka untuk lamaran besok" tunjuk mama Rita pada pasangan cincin yang sudah di siapkan karyawan toko.
"Hans" Nayla meminta bantuan Sandy untuk memilih. Sandy mendekat dilihatnya semua cincin yang ada di meja.
"Apa masih ada pilihan yang lain lagi?" tanyanya pada pemilik toko.
Rika meminta pegawainya mengeluarkan cincin pertunangan yang lain. Pegawai kembali membuka satu persatu kotak perhiasan yang dibawanya. Nayla dan Sandy bersamaan meraih kotak yang sama. Mereka memilih cincin yang sederhana tapi elegant dan terlihat indah.
"Wah seleranya sama" ucap Rika yang melihat adegan didepannya.
"Itu namanya sehati Jeng" Mama Rita menimpali ucapan Rika lalu mereka berdua tertawa bersamaan.
Nayla dan mama Rita masih berbincang-bincang setelah selesai memilih cincin pertunangannya, sementara Sandy berkeliling melihat koleksi perhiasan yang ada di toko tersebut.
Dia menunjuk satu buah kalung dan meminta karyawan toko mengambilkan untuknya. Setelah menerima kalung dari karyawan toko Sandy kembali mendekati Nayla. Dia berdiri di belakang Nayla, lalu memasangkan kalung yang dipilihnya tadi ke leher Nayla.
Nayla yang mendapat kejutan dari Sandy langsung berdiri dan membalikkan badanya. Sandy tersenyum.
"Cantik" ucapnya melihat kalung yang melingkar di leher Nayla.
"Sama cantik sama yang memakainya" goda Sandy membuat Nayla malu karena ada mama Rita dan temannya.
"Terima kasih Hans" ucap Nayla sambil memegang kalung yang di pasangkan Sandy.
"Nak Sandy ternyata romantis yaa, tidak seperti yang di bicarakan orang-orang" ucap Rika yang menyaksikan kemesraan Sandy dan Nayla.
"Baguskan Jeng, romantisnya untuk istrinya saja tidak diumbar ke banyak wanita" timpal Mama Rita membela Sandy yang selama ini terkenal dingin pada wanita.
********************************
Terima kasih sudah mampir di karya author. Terima kasih juga untuk pembaca yang sudah memberikan vote, hadiah, koment dan like, apapun itu sudah jadi semangat buat saya tetap menulis. 😊😊
__ADS_1