
Sandy Pov
Besok pernikahan Zein dan Mery. Semalam aku memberi tahu Lala kalau aku akan datang hari ini dan sampai Jakarta sore.
Aku dan Alex sudah memasuki wilayah Jakarta, jalanan sudah mulai padat tapi masih lancar walau pelan. Kucoba menghubungi telepon genggam Lala tapi tidak bisa tehubung. Berkali-kali kucoba masih juga operator yang menjawab.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan"
"Hubungi Mery atau Zein" Alex memberikan saran padaku sambil fokus pada jalanan yang semakin padat.
Ku hubungi Mery, Panggilan tak terjawab. Ku hubungi sekali lagi, tut.. tut...
"Halo, iya Kak ada apa?" Mery menjawab panggilanku dan langsung bertanya.
"Syukurlah akhirnya kamu mengangkat panggilan Kakak, Mer" Aku bernafas lega saat Mery mengangkat panggilanku, Ku katakan padanya kalau aku tidak bisa menghubungi Nayla.
Mery memberitahu ku mungkin Lala masih di masjid tempat acara akad nikahnya besok pagi, sebagai perwakilan keluarga mempelai untuk memastikan semua berjalan lancar.
Mery memberikan dimana lokasi masjid tempat Lala saat ini berada. Aku mengarahkan Alex mengikuti petunjuk peta yang di berikan Mery pada kami.
Dari jauh sudah terlihat bangunan masjid yang kami tuju. Lumayan besar dan memiliki halaman yang luas, rumput hijau terbentang menyejukan mata. Alex sudah memakirkan kendaraan milik ku di area parkir yang cukup luas dan bisa banyak menampung kendaraan roda empat.
Cukup jauh berjalan dari parkiran untuk sampai ke masjid. Namun jalan yang bersih dipenuhi bunga-bunga di sisi jalan dan pemandangan yang indah membuat langkah ini terasa menyenangkan.
Aku dan Alex sampai di depan masjid. Perlu menaiki beberapa anak tangga untuk bisa masuk kedalam masjid. Bersih dan indah pujiku untuk masjid ini. Aku mencoba mencari Lala yang mungkin ada didalam. Dari pintu utama ku edarakan pandanganku ke sekeliling masjid, tidak ada sosok Lala di dalam.
Sesorang terlihat berjalan menghampiriku dan Alex, mungkin dia tahu kalau kami mencari seseorang disini.
"Maaf Pak, ada yang bisa kami bantu?" tanyanya.
"Kami mencari tunangan saya, pihak keluarga calon pengantin yang mengecek kesiapan disini" ucap ku seperti yang Mery katakan tadi.
"Nayla ya?"
"Iya benar, anda mengenalnya?"
Dia mengangguk dan mengatakan kalau sangat mengenal Lala karena mereka satu sekolah saat SMP. Dia juga mengatakan kalau dia dan Lala sudah selesai membahas persiapan untuk besok.
"Nayla tadi segera pulang, karena akan menunggu seseorang dari Bandung di rumahnya" ucapnya memberitahu.
Apa yang Lala maksud itu aku? Dia menungguku tapi tidak bisa dihubungi. Apa maksudnya?
"Ternyata Nayla menunggu anda tunangannya, pantas saja ingin cepat pulang" sambungnya lagi.
Aku hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih lalu pamit keluar bersama Alex.
__ADS_1
"Sekarang gimana?" tanya Alex padaku.
"Aku akan menghubungi Lala lagi" jawabku pada Alex.
Dari teras utama masjid, aku bisa melihat ke segala arah. Mungkin karena posisi masjid ini yang lebih tinggi dari jalanan. Tampak jelas kendaraan yang hilir mudik di jalanan utama depan masjid, melihat kesebelah kanan disana adalah tempat memarkirkan kendaraan. Hanya ada tiga kendaraan roda empat yang terparkir dan salah satunya milikku. Kini ku arahkan pandanganku ke sebelah kiri masjid.
"Danau" gumamku.
Aku mencoba menghubungi Lala tapi tetap nomornya tidak dapat di hubungi. Akhirnya aku coba menghubungi bunda Aisyah dan menurut cerita bunda, Lala belum kembali ke rumah.
"Kemana dia? Apa di danau itu" tanyaku pada diriku sendiri.
"Bagaimana?" tanya Alex.
"Belum sampai rumah, mungkin disana" tunjukku pada danau.
Dan benar saja, aku menunjuk tepat pada Lala, dia ada di danau seperti perkiraanku. Walau dari jauh tapi sangat jelas itu Lala. Dia sedang duduk bersama seseorang.
Siapa Laki-laki yang bersama Lala? Aku melangkah mendekatinya yang diikuti oleh Allex. Mereka tampak akrab walau menjaga jarak tetap saja aku merasa tidak nyaman melihatnya bersama laki-laki lain. Mereka membicarakan sesuatu walau tidak bisa ku dengar.
"Lala" panggilku.
Sungguh diluar dugaan begitu ku panggil namanya dia langsung berlari kearahku. Tiba-tiba memelukku erat, ku balas pelukannya dan dia semakin mengeratkan pelukannya.
Tidak seperti biasanya dia seperti ini, tapi aku menyukainya. Apa yang terjadi? Ada apa dengan Lala? Sambil memeluknya aku terus memikirkannya.
"Hei, mau sampai kapan kalian seperti ini" teriaknya.
"Kalian baru dua hari tidak bertemu, jangan buat jiwa jomblo ku meronta" ucapnya lagi sambil medekat pada ku dan Lala.
Lala melepaskan pelukannya setelah ku cium pucuk kepalanya, sudah menjadi kebiasaan yang aku lakukan bila bertemu dengannya.
Dia menariku berjalan ketempat dimana tadi dia duduk bersama seorang laki-laki. Ku lihat laki-laki yang duduk bersamanya sudah berdiri dan tersenyum kepada kami.
"Hans, kenalkan ini Kak Nuno" Lala mengenalkan laki-laki itu padaku.
Dia mengulurkan tangannya dan menyebutkan namanya.
"Nuno" ucapnya.
"Sandy" balasku sambil membalas uluran tangannya.
Dia laki-laki yang cukup tampan dan terlihat lebih dewasa dariku. Tingginya hampir sama denganku dan Alex. Tubuhnya tegap dan gagah. Siapa dia?
"Nay, Kakak pamit. Senang bisa bertemu denganmu lagi" ucap Nuno sambil menatap lekat pada Lala.
__ADS_1
Dia berpamitan pada Lala, dan kulihat lala tersenyum padanya. Ada sedikit rasa penasaran siapa laki-laki ini. Dari pandangan matanya sangat jelas ada perhatian lebih pada Lala. Walau dia coba menyembunyikannya tapi bisa kulihat sorot matanya pada Lala, bukan sorot mata biasa pada teman atau sahabat.
"Sandy senang bertemu denganmu, titip Nayla dan bahagiakan dia" ucapnya saat berpamitan padaku.
"Tentu" jawabku sambil mengangguk dan tersenyum. Aku coba untuk memahami apa maksud kata-katanya. Titip?
"Kak, salam buat Mbak Silvia" ucap Lala padanya, dia tersenyum lalu meninggalkan kami. Senyumnya tampak bahagia tapi bisa kulihat ada kesedihan disana. Aku benar-benar ingin tahu siapa dia?
Ku pandangi Lala setelah Nuno menjauh. Ku lihat dia hanya diam dan pandangannya masih tertuju pada Nuno yang berjalan menjauh.
"Siapa?" tanyaku pada Lala.
"Kak Nuno" jawabnya.
Bukan jawaban seperti ini yang ku maksud, aku tahu dia Nuno setelah kami berkenalan, lalu kenapa dia menyebutkan lagi nama itu. pikirku dalam hati sambil memandang Lala.
"Siapa dia?" tanyaku lagi biar Lala menjelaskan padaku.
"Bukan siapa-siapa" jawabnya. Dan itu juga bukan jawaban yang kuinginkan.
Aku hanya bisa menghela nafasku pelan tidak ingin Lala tahu kalau aku kecewa dengan jawabanya. Mungkin Lala belum siap untuk berbagi.
"Hans bagaimana kalian tahu aku disini?"
Pertanyaannya jadi mengingatkan ku untuk marah padanya karena sudah mematikan ponselnya.
"Kenapa nomormu tidak dapat di hubungi?" tanyaku sambil menatapnya.
Lala membuka tasnya dan memberikan handphone nya padaku. Ku coba menyalakan nya dengan menekan tombol power beberapa kali dan ternyata sudah tidak bisa menyala.
Dia tahu aku akan marah, tanpa banyak bicara dia memberikan jawaban dengan pembuktian. Aku tersenyum sendiri, semua dengan pembuktian dan itu terbukti pada saat pertama aku menciumnya untuk membuktikan kalau dia mencintaiku.
"Kenapa tersenyum?" tanyanya sambil melihatku heran.
"Tidak apa-apa, aku diberitahu Mery mungkin saja kamu masih disini" jawabku.
"Dan aku menemukanmu" sambungku lagi.
"Ayo pulang" ajakanya.
Dan kulihat ternyata dia sudah berjalan berdua Alex meninggalkanku. Terpaksa aku melebarkan langkahku untuk menyusulnya.
"Nakal" ucapku sambil mengacak-acak rambutnya saat sudah bisa menyamakan langkahku dengan nya.
********************************
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir di karya author, tinggalkan jejak dengan like dan koment 🙏🙏🙏🙏🙏
Terima kasih juga untuk pembaca yang sudah koment dan like, apapun itu sudah jadi semangat buat author tetap menulis.