AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
73. NIKMATI PROSESNYA


__ADS_3

Sandy sudah menjelaskan pada Nayla kalau Leo adalah sahabat Mitha yang menggembalikan cincin untuk Nayla. Leo juga sangat mencintai Mitha bahkan sebelum Sandy mengenal Mitha.


Nayla cukup mengerti dengan penjelasan dari Sandy, mereka sudah berjanji tidak akan membahas ini lagi, terutama tentang perasan Leo pada Nayla. Hubungan baik yang kini terjalin antara Sandy dan Nayla dengan Leo.


Bob yang melamar Fenita berjalan sesuai harapan, Fenita bersedia menerima Bob. Mereka akan melangsungkan pernikahan bulan depan, sesuai keinginan keluarga Fenita.


Dua minggu berlalu, hari ini Citra dan Alex melangsungkan acara pernikahan mereka. Tepat hari ini juga satu bulan usia Nayla dan Sandy menjalani kehidupan berumah tangga, banyak hal yang terjadi yang membuat rasa cinta diantara mereka semakin kuat.


Keributan antara Sandy dan kedua keponakannya mewarnai hari-hari mereka. Lola yang sekarang memilih tinggal bersama Sandy dan Nayla membuat Sandy harus bersikap lebih sabar. Bukan hanya satu atau dua kali disaat dia menikmati penyatuan dengan Nayla kedua keponakan itu mengganggu kesenangannya.


"Sabar Hans, mereka masih anak-anak" kata-kata andalan Nayla untuk menenangkan suaminya.


Acara akad nikah Alex dan Citra sudah dilakukan tadi pagi dan dilanjutkan ke acara resepsi siang ini, mereka sengaja langsung melakukan pesta setelah akad yang akan digelar sampai sore.


Rino bersama seorang wanita muda menghampiri Nayla dan Sandy, mengenalkan pada mereka kalau dia akan menikah dengan wanita itu. Nayla turut senang dengan apa yang disampailan Rino, berharap hubungan mereka akan tetap terjalin baik walau sempat ada permasalahan yang dibuat Rino.


Nayla duduk menemani Shinta yang tidak bisa terlalu lelah, karena sedang mengandung buah hatinya dengan Reyhan.


"Teh apa semua wanita hamil sering merasakan kelelahan seperti Teh Shinta?" tanya Nayla yang ingin tahu.


"Tidak juga sih, tiap wanita memiliki daya tahan dan kekuatan fisik yang berbeda-beda" jawab Shinta seperti apa yang di jelaskan dokter padanya.


"Apa kamu belum ada tanda-tanda Nay?"


"Belum teh" jawab Nayla jujur dan dia tidak merasakan apa-apa pada dirinya dan belum mencoba untuk memeriksanya, mengingat pernikahannya yang masih seumur jagung.


"Lihatlah suami-suami kita, mereka asik tertawa disana tidak peduli dengan kita" tunjuk Shinta pada Reyhan dan Sandy. Akhir-akhir ini dia sering merasakan kesal kalau Rehyan tidak memperhatikannya.


"Biarkan saja, teteh jangan marah sama bang Rey. Biarkan mereka sejenak merasakan kembali jadi pria single, tertawa bersama teman-teman mereka" Nayla mencoba memberi pengertian pada Shinta.


Reyhan sempat mengeluh pada Nayla dan Sandy tentang sikap Shinta yang mudah kesal dan marah sejak hamil.


Sandy melihat Nayla yang sedang menatapnya, dia meninggalkan teman-temannya dan langsung mendekati Nayla.


"Kamu ingin makan sesuatu sayang?" tanya Sandy setelah duduk di sisi Nayla.

__ADS_1


Nayla menggelengkan kepalanya dan memeberi tahu Sandy melalui matanya, kalau Shinta sedang marah pada Reyhan.


"Hans" ucap Nayla.


Sandy mengerti dan kembali lagi ke tempat dimana teman-temannya berkumpul, dia langsung menarik tangan Reyhan dan membawa laki-laki itu menjauh.


"Kamu masih ingin tidur dikamar apa mau di suruh tidur di kamar tamu lagi" bisik Sandy mencoba menyadarkan Reyhan yang sudah dua kali diusir Shinta dari kamar dan tidur di kamar tamu.


"Akhh aku lupa, singa betina sedang memasang taringnya" ucap Reyhan sambil menepuk keningnya saat melihat Shinta yang menatap tajam padanya. Sandy menertawakan Reyhan, terlebih lagi Shinta mogok bicara dengan Reyhan saat ini.


"Kamu bisa menertawakanku saat ini, tunggu nanti kalau Nayla hamil, kamu juga akan merasakan sulitnya menghadapi wanita hamil" ucap Reyhan kesal pada Sandy.


"Aku akan menjadi suami dan ayah siaga" jawabnya sambil mencium pipi Nayla membuat Reyhan semakin kesal pada Sandy.


"Hans" Nayla minta Sandy berhenti menggoda Reyhan.


"Bang Rey, sebaiknya Teh Shinta di ajak pulang. Teteh sudah kelelahan, tidak baik untuk bayinya" ucap Nayla. Reyhan menyetujui usulan Nayla.


"Ayo sayang kita pulang" ajaknya pada Shinta.


"Aku bisa memelukmu terus kalau sudah dirumah" tawar Reyhan sambil memainkan alisnya menggoda istrinya, karena semenjak hamil Shinta selalu ingin dipeluk Reyhan.


"Bang Rey sabar, nikmati prosesnya" ucap Nayla dan mendapat anggukan dari Reyhan, dia menyetujui ucapan Nayla karena inilah proses yang harus dia jalani untuk menjadi seorang ayah.


"Sayang apa semua wanita hamil akan seperti Shinta?" tanya Sandy, dia takut kalau Nayla bersikap dingin dengannya.


"Mungkin saja" jawab Nayla singkat, dia juga tidak begitu mengerti hal ini.


"Hans, aku lapar?" Sandy langung berdiri mendengar ucapan Nayla.


"Aku ambilkan, kamu ingin makan apa?" tanya Sandy.


"Aku hanya bilang lapar, kenapa kamu langsung seperti orang panik Hans?" tanya Nayla yang heran dengan tingkah Sandy.


"Tidak ada apa-apa Lala kusayang, aku hanya latihan jadi suami siaga" ucap Sandy sambil tertawa kecil dan berlalu meninggalkan Nayla.

__ADS_1


Di tempat berbeda namun masih di pesta pernikahan Alex dan Citra, sepasang suami istri sedang terlibat percakapan serius.


"Mery, dia yang menyapaku terlebih dahulu" jelas Zein.


"Dia yang menyapamu dan kamu langsung memegang tangannya" ucap Mery ketus.


"Sayang jangan marah" Zain memeluk istrinya itu. "


Kamu satu-satunya yang aku cintai" ucap Zein dan mencium pipi istrinya.


"Gombal" Mery memalingkan mukanya.


"Kalau hanya gombal bagaimana ada Zein junior disini sayang" tunjuk Zein pada perut Mery yang masih rata lalu mengusap-usapnya.


Sejak hamil Mery selalu merasa cemburu pada Zein, bahkan Nayla yang merangkul tangan suaminya pun dia akan marah pada Zein. Apa lagi tadi dia melihat Zein sedang memegang tangan mantan kekasihnya, Mery langsung menghampiri Zein dan menatap dengan tatapan membunuh.


Zein yang mengerti langsung membawa Mery menjauh dan memilih tempat sepi untuk bicara, dia tidak ingin terlihat oleh orang lain kalau ribut dengan Mery.


" Sayang daddy, jangan buat Mama mu selalu cemburu sama daddy, please" ucap Zein sambil berlutut bicara pada bayinya.


"Apa yang kalian lakukan disini" tanya Vito saat melihat Zein berlutut dihadapan Mery.


Zein menjelaskan penderitaannya pada Vito berharap mendapatkan pembelaan, tapi bukan pembelaan ataupun solusi yang dia dapatkan melainkan ditertawakan oleh Vito.


"Nikmati saja Zein prosesnya, itu yang nanti bisa kamu banggakan saat bercerita dengan putramu kelak" jawab Vito yang sudah merasakan penderitaan seorang laki-laki saat istrinya hamil.


Vito meninggalkan Mery dan Zein sambil tertawa kecil. Zein yang kesal melihat kakak sahabat istrinya itu langsung merangkul Mery dan mengajaknya pulang.


"Kita pulang saja sayang, aku lebih senang dirumah bisa terus memelukmu dari pada disini" ucapnya sambil membawa istrinya keluar gedung dimana pesta pernikahan Alex dan Citra berlangsung.


Suapan terakhir masuk ke mulut Nayla, bukan Sandy kalau tidak bisa membujuk istrinya untuk makan sepiring berdua walau ditempat ramai seperti ini. Sandy mengecup kening istrinya setelah Nayla memberikan gelas minumnya pada Sandy.


Dari jauh tanpa Sandy dan Nayla sadari, ada dua orang yang memperhatikan mereka.


"Kamu siap menemui mereka?" tanya seorang pria pada wanita yang duduk disisinya. Wanita itu menjawab dengan anggukan lalu mereka berjalan mendekati Sandy dan Nayla.

__ADS_1


"Sandy" wanita itu memanggil Sandy.


...**************...


__ADS_2