
Nayla membuka matanya, tatapanya tertuju pada wajah tampan suaminya yang selalu menunjukkan rasa cinta untuknya kapanpun dan dimanapun, seperti tadi saat pesta pernikahan mereka. Sandy dengan tanpa malu menciumnya dengan lembut penuh kasih sayang di depan tamu undangan.
Kini memory Nayla kembali saat pesta berlangsung. Teman-teman Sandy yang pernah melihat kalau Nayla bisa bernyanyi dan memiliki suara yang bagus, meminta Nayla menyanyikan sebuah lagu setelah suaminya melepaskan ciuman di bibirnya.
Untuk menghormati teman-teman suaminya dan tamu undangan yang lain, Nayla menyetujui keinginan mereka.
"Baiklah, sebagai ucapan terima kasih pada semua yang telah bersedia hadir malam ini, saya akan menyanyikan sebuah lagu yang berjudul Tegar milik Rosa" ucap Nayla mengawalinya menyanyi.
Tergoda aku tuk berpikir
Dia yang tecinta
Mengapa telah lama tak tampak
Dirimu disini
Sandy yang mendampingi Nayla tidak pernah melepaskan tangannya walau sedetikpun dari pinggang istrinya yang dipeluknya mesrah.
Jangankan ingin ku tersenyum
Tak ada gairah
Ku ingin selalu bersamamu
Kini 'ku resah
Diriku lemah tanpamu
Ho-o-o-o...
"Semua ikut bernyanyi" pinta Nayla pada semua tamu yang hadir.
Gapai semua jemariku
Rangkul aku dalam bahagiamu
Ku ingin bersama berdua selamanya
Sandy menyatukan jemarinya dengan Nayla, menciumi tangan istrinya sambil terus menatap dengan lembut penuh cinta.
Jika ku buka mata ini
Kuingin selalu ada dirimu
Dalam kelemahan hati ini
Bersamamu aku tegar
Kini 'ku resah
Diriku lemah tanpamu
Ho-o-o-o...
Gapai semua jemariku
Rangkul aku dalam bahagiamu
__ADS_1
Ku ingin bersama berdua selamanya
Semua tamu wanita yang hadir terdengar ikut bernyanyi sambil digenggam pasangan mereka.
Jika ku buka mata ini
Kuingin selalu ada dirimu
Dalam kelemahan hati ini
Bersamamu aku tegar
Ho-o-o-o...
'Ku Tegar
Tepuk tangan kembali memenuhi ballroom hotel saat Nayla mengakhiri lagu yang dinyanyikannya.
Cup. Sandy mengecup cepat bibir istrinya.
"Apa yang kamu pikirkan hemm?" tanyanya.
"Kau juga bangun Hans" ucap Nayla yang terkejut dengan kecupan Sandy.
"Sudah dari tadi dan melihat istriku melamun" jawabnya sambil membelai rambut istrinya yang menutupi muka.
"Kau benar-benar membuatku malu Hans" Nayla menutup mukanya dengan tangan.
Sandy tertawa melihat istrinya yang masih teringat ciuman darinya diatas panggung.
"Berarti istriku tidak akan malu lagi kalau aku melakukannya lagi sekarang" ucap Sandy sambil menarik tangan Nayla yang menutupi wajahnya. Dia langsung melahap bibir Nayla tanpa menunggu jawaban dari istrinya.
"Hans" teriak Nayla yang replek saat menyentuh milik Sandy yang sudah membesar.
Sandy terkekeh, istrinya masih takut memegang miliknya, padahal sebelum tidur dia sudah mengenalkan miliknya pada Nayla.
Sehabis membersihkan diri setelah pesta, Sandy melihat Nayla sudah berbaring di tempat tidur menatap kearahnya yang baru keluar dari kamar mandi hotel.
Sandy ikut berbaring, memeluk dan menatap wajah cantik Nayla. Sandy mencium lembut bibir istrinya yang sekarang bisa dia lakukan kapanpun dia menginginkannya, bibir yang selama ini selalu menggodanya. Tangannya membelai rambut Nayla, perlahan turun mengusap punggung istrinya. Nayla hanya bisa memejamkan matanya, membalas ciuman Sandy dan menikmati setiap sentuhan suaminya.
Sandy melepas ciumannya, mengangkat kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke paha istrinya. Tangannya sudah berhasil menyingkap pakaian tidur Nayla yang hanya selutut, terlihat jelas sesuatu yang selalu dia ingat. Wajahnya tersenyum puas tanda lahir Nayla yang pernah dilihatnya saat kecil kini bisa dilihatnya lagi. Nayla menurunkan pakainnya kembali menutupi pahanya.
"Apa yang kau lihat Hans" tanyanya melihat suaminya tersenyum.
"Aku melihat tanda lahirmu yang dulu pernah ku lihat" jawab Sandy yang kembali mencium cepat bibir dan seluruh wajah istrinya.
"Lala sayang" ucap Sandy sambil meraih tangan Nayla dan membawanya untuk menyentuh miliknya.
"Hans" Nayla terkejut dengan apa yang disentuhnya.
"Kau harus mengenalnya terlebih dahulu sebelum kita melakukannya" ucap Sandy yang kembali menarik tangan Nayla dan meminta Istrinya untuk kembali menyentuh miliknya.
Sandy memasukkan tanganya kedalam pakaian tidur Nayla dan menyentuh gunung kembar didada istrinya.
"Kamu sudah membukanya La? tanya Sandy.
"Aku tidak pernah memakainya kalau tidur" jawab Nayla membuat Sandy tersenyum. Ini tentu membuatnya lebih mudah untuk bermain di dada istrinya.
__ADS_1
Sandy menghentikan aksinya saat melihat wajah Nayla yang terlihat lelah dan pucat. Dia tidak ingin egois dan menikmatinya sendiri, dia ingin Nayla juga merasakan hal yang sama yang dia rasakan.
"Tidurlah kita bisa melanjutkannya nanti" ucap Sandy lalu mencium dan memeluk Nayla.
Sandy tidak mengira saat dia membuka matanya, Nayla sudah terbangun dan terlihat melamun sampai tidak menyadari kalau dia menatap wajah cantik istrinya.
"Sayang aku menginginkannya"
Sandy mengatakannya sambil masuk kedalam selimut yang menutupi tubuh Nayla. Dia menyingkap dan melepaskan pakaian yang dikenakan Nayla, lalu menciumi seluruh tubuh polos istrinya.
"Lala, apa boleh sayang?" tanya Sandy saat dia akan melakukan penyatuan setelah dia merasa cukup melakukan pemanasan dan tubuh Nayla siap menerima kehadiran miliknya yang sudah siap tempur.
Nayla hanya mengangguk tanda menyetujui permintaan Sandy, merasa mendapat ijin Sandy berlahan menyentuhkan miliknya memasuki intisari tubuh istrinya.
"Hans... " Sandy menatap Nayla yang memanggil namanya.
"Sakit" ucap Nayla pelan.
"Aku akan melakukannya pelan-pelan" jawabnya lalu kembali mencium bibir istrinya, membantu Nayla agar bisa menikmatinya dan mengurangi rasa sakit saat dia akan memasukan miliknya.
"Lala... akhh"
"Hans..."
Terdengar suara Sandy yang terus menyebut nama Nayla dan Nayla yang selalu memanggil nama suaminya sepanjang aktifitas yang mereka lakukan.
"Lala aku mencintaimu sayang" ucap Sandy saat dia dan Nayla mencapai puncak penyatuan mereka.
Sandy memeluk erat tubuh polos Nayla dan terus menciumi wajah istrinya, mensyukuri diberikan pasangan hidup yang saling mencintai.
"Sayang terima kasih, telah menjaga dan memberikannya untukku" ucap Sandy.
Setelah dia melihat bercak darah saat mengambil selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan Nayla yang sudah terjatuh di lantai karena aktifitas panas mereka.
Nayla memejamkan matanya saat merasakan kehangatan pelukan Sandy, pelukan yang akan selalu dia dapatkan.
"Apa masih sakit" tanya Sandy saat dia membantu mengeringkan rambut Nayla.
"Sedikit" jawab Nayla sambil mengambil alih pengering rambut dari tangan Sandy.
"Lala sayang" ucap Sandy memeluk Nayla yang sudah selesai mengeringkan rambutnya.
"Maafkan aku" ucap Sandy sambil menciumi rambut Nayla.
"Jangan mengulanginya lagi" jawab Nayla mengingat Sandy yang tidak bisa berhenti melakukan penyatuan.
Saat dia akan terlelap, Sandy kembali menciuminya dan melakukan penyatuan untuk kedua kalinya. Tidak hanya berhenti sampai di situ saja, Sandy kembali mengulanginya saat mereka dikamar mandi.
"Aku tidak bisa berjanji untuk itu sayang, karena aku selalu menginginkannya" jawab Sandy dan kembali mencium bibir Nayla.
"Hans... cukup" ucap Nayla setelah melepaskan ciuman Sandy yang terkekeh. Dia selalu menginginkan kedekatan seperti ini dengan istrinya.
"Love You"
*****************************
Terima kasih sudah mampir di karya Author.
__ADS_1
Terima kasih juga untuk pembaca yang sudah memberikan vote, hadiah, koment dan like, apapun itu sudah jadi semangat buat saya tetap menulis. 😊😊