AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
MERY dan ZEIN


__ADS_3

"Aku menemukan dia sedang bergulat panas dikamar hotel milik orang tuaku, sungguh menjijkan" Ucap Zein


"Saat itu aku datang ke hotel karena papa memintaku memeriksa laporan management, tidak sengaja dari jauh aku melihat dia berjalan di loby dan masuk ke dalam lift bersama seorang laki-laki yang merangkulnya"


"Aku tidak bisa mengikutinya karena aku harus segera memeriksa laporan. Aku meminta asisten papa menanyakan kamar berapa yang mereka pesan"


Nayla terus menyimak cerita Zein sambil menikmati kentang goreng. yang disuguhkan Zein untuknya.


"Selesai membaca laporan, aku langsung meminta kunci cadangan kamar yang dipesan wanita itu. Sungguh pemandangan yang menjijikkan" Zain menarik napas panjang.


"Aku merasa seperti orang bodoh yang tidak bisa melihat keburukan dia, bahkan kau sendiri sudah sering mengingatkanku Nay, walau secara tidak langsung" sesal Zein.


"Lalu aku memutuskan untuk berlibur di Bandung. Tadinya aku ingin menghubungi mu, tapi tidak sengaja aku bertemu Mery" Nayla masih terus mendengarkan cerita Zein sambil sesekali meminum capucino hangatnya.


"Mery yang selalu menemaniku disaat aku terluka. Dia memberi semangat padaku agar aku jangan larut dalam penyesalan. Hampir setiap minggu aku akan datang ke Bandung menemuinya. Aku merasa tenang dan nyaman bila berada di dekatnya" sambung Zein ceritanya.


"Kami berbagi cerita, bahkan mengulang cerita beberapa kali kami bertemu di sekolah. Mery juga menceritakan kisahnya dengan dia yang namanya tidak pernah ingin diingatnya lagi"


"Aku juga tidak suka menyebut namanya" ucap Nayla.


"Bukan hanya aku, Citra dan Bella pun sama. Bukan karena apa-apa, hanya tidak suka saja" jelas Nayla.


"Lalu bagaimana kalian bisa jadian?"


"Kebersamaanku dan Mery membuat aku merasakan sesuatu. Aku mulai merasa aku tidak bisa jauh darinya. Mery juga tidak pernah menolak kehadiranku"


"Aku memberanikan diri untuk menyatakan cintaku pada Mery. Saat itu aku akan menerima apapun keputusan darinya. Menerima atau menolakku"


"Tapi sungguh aku benar- benar bersyukur, ternyata Mery menerimaku. Akhirnya kami resmi berpacaran"


"Dia memintaku merahasiakan semua pada mu, Citra dan Bella. Aku tidak tahu kenapa, kamu tanyakan sendiri padanya" Nayla mengangguk mengerti. Sahabatnya pasti punya alasan untuk tidak memberitahu dia dan dua sahabatnya yang lain.


"Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke Bandung, melanjutkan pendidikanku disini agar aku bisa dekat dengannya"


"Tadinya aku hanya ingin kost, tapi tidak sengaja aku membaca tulisan kalau tempat ini di jual, aku meminta ijin papa untuk membeli tempat ini dan membuka usaha cafe di sini"


Zein menatap pada Mery yang berjalan ke arah mereka.


"Sudahlah Zein, yang lalu biarkan semua berlalu. Dia tidak perlu kau ingat, karena dia memang tidak pantas untukmu. Sekarang kau sudah bersama wanita sempurna yang akan membahagiakanmu, lihatlah dia sempurna, cantik, pintar sebentar lagi akan jadi dokter" Nayla menatap lekat pada Mery yang mendekat.


"Iya, kau benar Nay, aku sangat beruntung mendapatkannya. Wanita sempurna yang akan mengisi hari-hariku, menemaniku, menjadi ibu dari anak-anakku, berbagi suka dan duka bersamaku"


"Apakah kau tau Zein" Nayla menjeda ucapanya.


"Mery sudah menyukaimu sejak pertama kita satu sekolah" bisik Nayla. Zein melihat pada Nayla.


"Really" Nayla hanya menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Aku sahabatnya, dan aku sangat tahu itu" yakinkan Nayla pada Zein.


Zein meraih tangan Mery yang baru saja ikut duduk diantara mereka.


"Ada apa" tanya Mery yang heran tiba-tiba Zein memegang tangannya.


"Terimakasih sudah Mencintaiku" Ucap Zein


"Ihhh tidak romantis" sela Nayla "Kasih bunga kek, kalung kek cincin kek..." ucapnya sambil tertawa


"Tunggu waktunya" ucap Zein.


"Lalu cafe ini?" tanya Nayla.


"Ini baru satu minggu, Minggu depan baru akan peresmian. Tolong bantu promosinya Nay"


"Tentu, dengan senang hati" jawab Nayla.


"Bantu juga persiapan peresmiannya" pinta Zein


"Kalau itu ada biayanya" Canda Nayla


"Bagaimana dengan mu Nay, apa kau sudah punya kekasih" tanya Zain. Nayla hanya mengangguk.


"Apa dia yang datang diperpisahan?" Nayla menggeleng.


"Kalau itu mantan tapi mesrah" timpal Mery sambil tertawa.


Kini Nayla yang tertawa "Hahaha kalau begitu aku lebih baik dari pada kalian" ucapnya. Mery menatap kesal pada Nayla.


"Tidak perlu kesal seperti itu, ini kenyatan"


"Iya, kenyataan yang tidak bisa move on" sahut Mery


"Kenapa kalian jadi ribut masalah mantan sih" ucap Zein memandang heran pada kedua wanita ini.


"Bawa pacarmu kesini Nay"


"Aku sudah disini" sahut Bob


"B..." Nayla terkejut melihat kehadiran Bob.


"Kau terkejut sayang" ucap Bob.


" Aku sedang lewat, tidak sengaja melihat cafe baru, jadi aku mampir untuk melihat-lihat. Pikirku besok akan mengajakmu kesini tapi ternyata kamu sudah ada disini" sambung Bob ceritanya.


"B, kenalkan ini Zein, saudaraku. Dia owner cafe ini"

__ADS_1


"Bob" ucap Bob sambil menjulurkan tanganya.


"Zein" sambil menyambut tangan Bob


"Hai Bob" sapa Mery "Apa kabar?" tanyanya.


"Kabar baik Mer" jawab Bob.


"Apa kau ingin minum sesuatu B? Aku akan memesankan untukmu" tanya Nayla.


"Duduk saja disini, aku akan meminta pelayan mengantarkan minuman yang special di cafe ini" ucap Zein sambil berdiri.


Waktu terus berjalan. Siang berganti malam, hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan.


Hubungan Nayla dan Bob tidak ada perkembangan yang berarti. Bob selalu berusaha tapi Nayla masih saja belum bisa mencintai Bob. Nuno tetap pada keinginanya, walaupun membiarkan Nayla bersama Bob tapi tetap menginginkan Nayla lebih.


Hubungan Nuno dan Silvia sama seperti Nayla dan Bob, tidak ada perkembangan walau dia sudah tidak sedingin biasanya pada Silvia.


Silvia benar-benar menjadikan Nayla teman bukan saingannya. Karena dia tau Nayla sudah banyak berkorban untuknya. Dialah yang masuk dalam hubungan Nuno dan Nayla. Silvia meminta maaf pada Nayla untuk itu.


Mery dan Zein semakin hari semakin mesrah. Hari-hari mereka diwarnai dengan bunga-bunga cinta walau juga terkadang ada pertengkaran yang menambah kekuatan cinta diantara mereka.


Sampai akhirnya hari ini. Hari ini hari pertunangan Mery dan Zein. Nayla, Citra dan Bella sedang menemani Mery di kamar yang sedang di rias MUA. Nayla memilih menunggu keluarganya di tempat Mery dari pada datang bersama mereka. Dia tidak ingin melewati kebersamaan bersama sahabat-sahabatnya.


"Lihatlah baru tunangan saja dia sudah secantik ini" Ucap Citra.


"Sungguh beruntung Zein mendapatkanmu" tambah Nayla.


"Mery, akhirnya cinta pertamu kau dapatkan" Bella terharu.


"Bob tidak jadi datang Nay?" tanya Mery.


"Tidak Mer, sudahlah biarkan saja" jawab Nayla. Mery mengerti, kemarin Nayla telah menceritakan padanya tentang Fenita.


Pintu kamar terbuka, ternyata Budenya Mery yang datang.


"Ayo turun, calon tunanganmu sudah datang bersama keluarganya" Semua pun bersiap. Mery digandeng budenya dan Citra, sementara Nayla dan Bella mengikuti dari belakang.


Acara berjalan lancar, Kini Zein dan Mery sudah resmi bertunangan.


Bunda Aisyah mendekat pada Nayla, "Jangan bersedih ini hari bahagia Zein saudaramu dan Mery sahabatmu" bisik bunda pada Nayla.


Bunda Aisyah mengerti apa yang Nayla rasakan. Nayla tersenyum pada bunda Aisyah lalu berjalan mendekat pada sahabat-sahabatnya.


Melihat ketiga sahabat anaknya sedang berkumpul mama Tika mendekat.


"Jadi siapa nih yang akan menyusul Mery seru Mama Tika pada ketiga sahabat anaknya.

__ADS_1


"Sepertinya Bella ma" jawab Nayla Mery dan Citra bersamaan. Mendengar namanya disebut, Bella hanya bisa tersenyum malu.


********************


__ADS_2