AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
MASA LALU


__ADS_3

Pesta pernikahan Zein dan Mery sudah selesai. Para tamu sudah meninggalkan ballroom hotel. Suasana sangat berbeda dengan saat pesta berlangsung, yang tersisa adalah para pekerja dan pelayan yang membersihkan sisa-sisa pesta.


Nayla dan Sandy sudah selesai menemui para pencari berita ditemani Adam dan Heru. Mereka menjawab setiap pertanyaan yang diajukan, selama pertanyaannya masih menanyakan hal umum tentang mereka.


Kisah cinta mereka akan menjadi konsumsi publik, Nayla harus siap dengan itu. Mulai sekarang Nayla harus mebiasakan diri dengan kehidupannya yang akan menjadi sorotan. Tidak bisa bebas seperti dulu lagi.


Berita tentang Sandy dan Nayla sudah sampai ke telinga karyawan perusahaan Wijaya. Tidak bisa dihindari mereka akan jadi topik utama di perusahaan itu mulai besok.


"Kita hadapi bersama" itu yang selalu di ucapkan Sandy pada Nayla.


Nayla membaringkan dirinya di kasur empuk hotel setelah selesai membersihkan diri dan sholat Isya. Semua keluarganya malam ini meginap di hotel.


Nayla satu kamar dengan Citra. Matanya yang sudah akan terpejam karena begitu lelahnya terbuka kembali saat Citra menanyakan Nuno. Dia bangun dan bersandar pada bantal didinding kasur.


"Nay.. aku melihat nano-nanomu menghadiri pesta malam ini" ucap Citra duduk di hadapan Nayla.


"Aku juga bertemu dengannya, Mbak Silvia yang menegurku tadi saat aku bersama Sandy masuk ke ballroom" jawab Nayla sambil menahan kantuknya.


"Bagaimana perasaanmu Nay" Citra penasaran karena Nayla sepertinya sangat santai menanggapinya.


"Kemarin aku bertemu denganya di danau tempat biasa, aku juga mengenalkannya dengan Hans" ucap Nayla mengingat kejadian kemarin.


"Lalu?" Citra semakin penasaran ingin tahu ceritanya.


Nayla menceritakan semuanya pada Citra dari awal mereka bertemu, berbagi cerita dan hal terpenting saat Nayla meyadari kalau rasa dihatinya untuk Nuno sudah pergi sampai Nuno pamit meninggalkannya dan Sandy.


"Aku tidak pernah mengira, di sana pertama kali aku merasakan cinta untuknya, sekarang di sana juga aku merasakan cintaku untuknya sudah pergi" ucap Nayla mengingat kisahnya dengan Nuno.


"Ada cerita tentang aku dan Kak Nuno saat kami bersama, saat kami tertawa dan saat ada luka dan airmata" Nayla menjeda ucapanya.


"Aku sudah menamatkan cerita itu Ci. Sekarang aku mulai membuka cerita baru, cerita tentang Lala dan Hans" ucap Nayla mengakhiri ceritanya pada Citra.

__ADS_1


"Aku ikut bahagia, semua baik-baik saja antara kau dan Kak Nuno. Selamat memulai kebahagiaanmu dengan Kak Sandy Nay" Citra meneteskan airmata bahagianya dan memeluk Nayla dengan erat. Bahagia dengan kisah akhir cinta Nayla


Nayla merenggangkan pelukan Citra, menatap wajah sahabatnya itu. Citra belum menceritakan apapun tentang dia dan Alex.


"Bagaimana denganmu?" Tanya Nayla.


"Apa kak Alex ada rasa denganmu?" Nayla ingin tahu sejauh mana hubungan Alex dan Citra.


"Aku tidak yakin Nay" jawab Citra jujur.


"Terkadang dia hangat, tapi tiba-tiba juga dia dingin" Citra menghela nafasnya.


"Hilalnya belum kelihatan" lanjut Citra mengingat sikap Alex padanya.Terkadang Alex memberikan perhatian yang lebih pada Citra, terkadang biasa tapi terkadang dia tiba-tiba menghilang.


"Masih banyak waktu untuk kalian lebih saling mengenal, tidak perlu terburu-buru" Nayla mencoba memberi pengertian agar Citra tidak langsung menyerah.


Citra bukan wanita yang mudah menyukai dan jatuh cinta pada laki-laki. Karena itu saat Citra mengatakan menyukai Alex pada Nayla. Nayla langsung berpikir untuk mendekatkan keduanya.


Citra ingat Nayla menawarkannya bekerja menggantikan Nayla di Perusahaan Wijaya. Karena memang mereka kuliah di jurusan yang sama, hanya saja mereka belajar di kampus yang berbeda.


"Itu sangat aku dukung" Jawab Nayla.


"Setidaknya kalau bekerja disana, kamu bisa lebih mengenal Kak Alex Ci" lanjutnya lagi sambil merangkul sahabatnya itu.


Nayla meminta Citra untuk menyiapkan lamaran kerjanya besok, agar bisa dibawa langsung oleh Nayla dan menyerahkannya ke HRD.


"Tapi jangan sampai kak Alek dan kak Sandy tahu ya Nay" pinta Citra dan mendapat persetujuan dari Nayla.


Kedua sahabat itu mengakhiri obrolan mereka dan kembali berbaring mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah seharian ini. Memejamkan mata dan terbang ke alam mimpi.


Sementara di kamar lain, Alex tidak bisa memejamkan matanya. Dia bimbang dengan hatinya sendiri. Di satu sisi dia menyukai Citra sejak pertama bertemu, tapi satu sisi dia takut membuka satu rahasia yang selama beberapa tahun ini dia simpan sendiri. Bahkan orang tua dan kedua sahabatnya Sandy dan Reyhan juga tidak mengetahuinya.

__ADS_1


Alex berlari menyusuri lorong rumah sakit, lalu masuk kedalam sebuah ruangan dimana pemilik hatinya berada. Kakinya seketika melemah saat melihat yang terbaring disana sudah tertutup kain putih. Dibukanya kain putih itu untuk meyakinkan siapa yang ada disana.


Wajah cantik itu diam membisu, mukanya putih pucat dan dingin, bibir merahnya pun kini membiru. Air mata Alex mengalir deras saat melihat orang yang berada disisinya selama satu tahun sudah terbujur kaku. Dia terus berteriak meminta Nara untuk bangun.


"Ra... sayang, jangan tinggalkan aku, Ra... bangun Ra... bangun Ra...." Alex terus berusaha membangunkan Nara. Dia mendengar seseorang memanggilnya.


"Lex... Alex... Alex...." Sandy berusaha membangunkan Alex yang terus berteriak.


Alex mengusap wajahnya dengan kasar saat tersadar dari mimpi yang mengingatkan masa lalunya.


"Mimpi apa sih sampe teriak-teriak gitu?" tanya Sandy yang melihat Alex seperti orang ketakutan, matanya merah berkaca-kaca.


"Siapa Ra yang kamu sebut?" tanya Sandy lagi.


Alex tidak menjawab pertanyaan Sandy, dia berdiri dan masuk ke kamar mandi. Sandy yang melihatnya hanya terdiam dan kembali membaringkan tubuhnya.


"Ada apa dengannya" gumam Sandy naik ketempat tidurnya dan kembali menarik selimut lalu memejamkan mata, mengistirahatkan tubuhnya biar kembali fit, karena besok dia akan pulang ke Bandung.


Alex berdiri didepan kaca wastafel kamar mandi, dibasuh wajahnya dengan air yang mengalir. Sudah lama dia tidak pernah bermimpi tentang Nara. Seketika kepahitan masa lalunya kembali dalam ingatan. Kehilangan orang yang dia cintai membuat dia selama ini menutup hatinya.


Kehadiran Citra mengoyahkan keinginan Alex yang terus ingin sendiri. Alex sudah berusaha untuk tidak memikirkan Citra, mencoba menjauh dari wanita itu. Namun semakin ingin dia menjauh semakin banyak waktu yang membuat mereka kembali bertemu.


Terlebih dia bisa melihat ada ketertarikan Citra dengannya. Alex pun sering tanpa sadar memberikan perhatiannya pada Citra, namun disaat dia sadar dengan keadaan dirinya dengan begitu saja dia pun menghilang menjauhi Citra.


Lama merenung di kamar mandi akhirnya Alex keluar dari sana. Dilihatnya Sandy yang sudah kembali tertidur. Alex naik ke kasurnya yang sigle bed itu. Di raihnya telepon genggam miliknya di atas nakas. Membuka satu persatu foto yang tersimpan di galerynya. Wajah imut anak perempuan sedang tersenyum manis, seketika wajah Alex tersenyum dan mencium pipi chubi yang ada di foto.


"Papi rindu Dea" gumamnya sambil memejamkan mata.


******************************


Terima kasih sudah mampir di karya author, tinggalkan jejak dengan like dan koment 🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Terima kasih juga untuk pembaca yang sudah memberikan vote, hadiah, koment dan like, apapun itu sudah jadi semangat buat author tetap menulis.


__ADS_2