
Besok adalah hari yang di tunggu oleh Sandy, keluarga besarnya akan datang meminang sang pujaan hati yang beberapa bulan ini selalu ada di sisinya.
Sandy melakukan panggilan video saat Nayla sedang berkumpul dengan keluarganya di kediaman Ayah Dimas. Nayla menerima panggilan video dari Sandy dan melihat wajah pangerannya itu tersenyum bahagia.
"I miss you" terdengar suara Sandy yang merindukannya menyapa.
"I miss you too" balas Nayla yang juga merindukan pemilik hatinya.
Sudah tiga hari mereka tidak bertemu, hanya bertukar kabar lewat chat, telepon dan panggilan video seperti saat ini.
"Lala kamu tidur di pangkuan siapa?" Sandy bertanya saat menyadari Nayla sedang tidur di atas pangkuan seseorang.
Nayla yang sedang tidur di pangkuan Adam mengarahkan kameranya ke wajah kakaknya. Adam yang mendengar pertanyaan Sandy melambaikan tangannya saat dia melihat Sandy juga melihatnya. Sandy menyapa calon kakak iparnya itu dan bertanya kabar, ada rasa malu karena tadi sempat cemburu dengan Adam.
"Sayang aku sebentar lagi otw" ucap Sandy dan mengalihkan kameranya kearah keluarganya yang sedang bersiap-siap.
"Tante Nay" terdengar suara Lola memanggilnya dan melambaikan tangan.
"Tante, Om Sandy kemarin..." Lola tidak melanjutkan bicaranya mulut Lola di tutup Sandy dengan tanggannya.
"Hans apa yang kamu lakukan" tanya Nayla saat Sandy kembali mengarahkan kamera ke wajahnya dan menggelenggkan kepalanya. Sandy kembali mengalihkan kameranya kearah keluarganya yang satu persatu naik ke kendaraan mereka.
"Hati-hati Hans" ucap Nayla sambil memperhatikan layar handphone saat melihat Sandy sudah masuk kedalam kendaraanya. Tampak Alex yang memegang kemudi.
"Kak Alex hati-hati jangan ngebut" ucapnya dan mendapat acungan jempol dari Alex.
"Kamu sedang apa La?" saat Sandy melihat Nayla berjalan ke ruang tamu.
"Tidak sedang apa-apa" jawab Nayla, lalu mengarahkan kameranya ke Ayah Dimas yang tampak sibuk dengan beberapa kerabat yang datang, mereka sedang berbincang untuk acara besok pagi.
Walau hanya keluarga, tetangga dan sahabat yang menghadiri acara lamaran sesuai keinginan Nayla, namun tidak mengurangi kesibukan yang terjadi di kediaman Ayah Dimas. Ini adalah acara lamaran pertama yang diadakan keluarga Harley. Selama ini mereka yang meminang putri keluarga lain, untuk kali ini putri merekalah yang akan di pinang.
Nayla mengarahkan kameranya menunjukkan beberapa pekerja sedang memasang dekorasi di ruang tamu dan ruang keluarga, lalu mengarahkan pada Eza yang ikut memberi arahan pada para pekerja.
"Bunda" Nayla memanggil bundanya saat bunda baru saja datang membawa piring yang berisi cake untuk diberikan pada Ayah Dimas dan yang lainnya.
"Lala kamu istirahat saja di kamar" pinta Sandy yang tidak ingin Nayla ikut lelah melihat kesibukan di kediaman calon mertuanya.
__ADS_1
Nayla menuruti saran Sandy, dia juga ingin membuka paket dari seseorang yang belum sempat dibukanya.
"Sampai jumpa besok Hans" Nayla mengakhiri pangilan video yang dilakukan Sandy setelah dia masuk ke kamar.
Nayla duduk di sofa kamarnya dan meraih kotak berukuran sedang yang diletakkan di sofa samping dia duduk. Kotak itu kiriman dari seseorang, tapi dia tidak menuliskan nama.
"Selamat berbahagia" hanya itu yang tertulis.
Tok.. tok..tok
Nayla berdiri dan berjalan ke pintu, dia tidak jadi membuka kotak yang sudah di pegangnya.
"Suprisssseeee" teriak ketiga sahabatnya, Mery, Bella dan Citra yang sudah berdiri di depan pintu menertawakan Nayla. Mereka sepakat hari ini mengatakan tidak akan datang menemui Nayla saat semalam dia meminta mereka berkumpul. Nayla menatap kesal pada ketiganya dan berbalik membelakangi mereka bertiga.
"Tante cantik" suara anak kecil menyapa Nayla saat dia akan kembali masuk kekamar karena kesal sudah di kerjain oleh ketiga sahabatnya.
"Dea..." sapa Nayla saat tahu yang memanggilnya adalah Dea putri Alex.
Nayla menggendong Dea dan menciuminya berkali-kali sambil berjalan masuk.
"Siapa yang menjemput Dea, Ci?" tanya Nayla pada Citra sambil menurunkan Dea dari gendongannya.
"Uncle Vito yang ngajak Dea bertemu bunda" Dea yang menjawab pertanyaan Nayla dan mendapat anggukan dari Citra.
Kini keempat sahabat itu duduk bersama saling berbagi cerita, sudah lama mereka tidak berkumpul berempat seperti ini. Mereka mengingat masa sekolah ada sedih dan bahagia. Seketika mereka berempat tertawa bersama saat ingat kekonyolan yang pernah mereka lakukan.
Dea yang hampir terpejam di pangkuan Citra kembali membuka matanya terkejut dengan suara tawa mereka.
"Pindahkan ke tempat tidur saja" Nayla mendekati Citra dan mengangakat Dea memindahkan gadis kecil itu di kasurnya.
"Kenapa?" tannya Bella saat melihat Nayla tampak sedih.
"Aku kasihan melihat Dea, sejak kecil tidak mengenal maminya dan juga harus hidup terpisah dengan papinya. Semua hanya diam mendengar perkataan Nayla, suasana seketika hening, sunyi dan sepi.
"Aku akan menikah dua bulan lagi" ucap Bella memecahkan kesunyian.
Dia dan Roy sudah siap untuk berumah tangga. Semua bergantian memeluk Bella dan ikut bahagia mendengar kabar yang disampaikannya.
__ADS_1
Nayla, Mery dan Bella menatap Citra, tahu apa arti tatapan ketiga sahabatnya itu dia hanya menaikkan bahunya tanda belum bisa menjawab pertanyaan ketiga sahabatnya.
"Dea sudah sangat dekat denganmu, tidak ada halangan apapun lagi" ucap Mery.
"Aku sudah siap, tapi sepertinya kak Alex belum mau jauh melangkah" jawab Citra.
"Ku rasa dia masih menunggu waktu yang tepat, kalian juga belum lama saling mengenal. Tidak pelu terburu-buru semua butuh proses" Nayla mencoba memberi pengertian pada Citra.
"Kak Alex perlu menjelaskan pada orang tuanya tentag Dea sebelum mengenalkan Citra pada mereka" sambung Nayla kata-katanya.
"Nayla benar Ci, sabar akan ada waktunya" Bella membenarkan apa yang di ucapakan Nayla.
"Indah pada waktunya" ucap Mery yang membuat mereka semua kembali tersenyum.
Ting... ting... ting
Sandy membuka pesan yang masuk di telepon genggamnya, dia tersenyum melihat Nayla mengirim fotonya sedang bersama sahabat-sahabatnya.
Sandy melihat foto terakhir yang dikirim Nayla, Citra memangku Dea yang sedang tertidur. Nayla berpesan untuk tidak memberi tahu Alex kalau putrinya kini ada bersama Citra.
Sandy melirik Alex yang sedang mengendarai kendaraan miliknya.
"Bagaimana kabar putri mu Lex?" tanya Sandy pada sahabatnya.
"Sudah dua minggu aku belum menemuinya" jawab Alex dengan mata yang tetap fokus pada jalanan.
"Menggapa tidak kamu bawa ke apartemen mu saja bersama kakek dan neneknya dari pada di kampung" Sandy kembali bertanya dan memberi saran.
"Kedua mertuaku itu tidak mau tinggal di kota. Aku juga tidak bisa mengasuh putriku kalau kami hanya berdua" jawab Alex yang pernah meminta kedua orang tua Nara ikut dengannya.
"Kalau begitu kamu segerah melamar Citra dan memberitahu orang tuamu tentang Dea" saran Sandy pada Alex agar sahabatnya itu bisa segera berkumpul dengan putrinya.
Alex hanya diam mendengar ucapan sahabat dan juga bosnya itu. Apa yang dikatakan Sandy benar sudah waktunya dia memberi tahu orang tuanya tentang Dea dan harus menerima apapun keputusan orang tuanya tentang Dea.
***************************
Terima kasih sudah mampir di karya author. Terima kasih juga untuk pembaca yang sudah memberikan vote, hadiah, koment dan like, apapun itu sudah jadi semangat buat saya tetap menulis. 😊😊
__ADS_1