
Terdegar suara tawa di kamar rawat inap yang di tempati Nayla. Kehadiran rekan kerja satu timnya membuat Nayla tidak merasakan nyeri pada lukanya. Sejak datang, Fian terus menceritakan cerita lucu yang membuat mereka tertawa.
Nayla sangat bersyukur, walau dia anggota baru di tim Ine tapi dia merasa mereka teman-teman yang sangat baik dan sayang padanya.
Sesekali David memberikan perhatiannya pada Nayla. Entah sejak kapan David merasa kehadiran Nayla di dekatnya selalu menjadi hal yang sangat di inginkannya. Bukan karena kencantikannya tapi kebaikan hati Nayla yang membuatnya mengagumi kekasih Sandy itu.
"Tante Nay" suara cempreng Lola seketika menghentikan tawa semua yang berada di kamar rawat inap Nayla. Suasana langsung terasa sunyi senyap.
"Hai, keponakan tante yang cantik" sambut Nayla pada Lola yang langsung memeluknya.
"Lola kangen tante, sejak tante kerja Lola tidak bisa bertemu setiap hari" Lola mengeluarkan isi hatinya selama satu bulan ini.
"Itu tanteku Lola, kenapa kamu yang menguasainya" Putri menyela pembicaraan Lola dan Nayla karena sedari tadi dia yang disana tidak berani mendekat pada Nayla.
"Putri, sini sayang" Nayla meminta Putri untuk mendekat, dia tahu kalau Putri si anak manja ini sedang cemburu.
"Kalian berdua keponakan tante, dan dua-duanya tante sayangi" ucap Nayla sambil memegang kedua tangan anak remaja itu setelah Putri mendekat padanya. Kedua remaja itupun langsung memeluk Nayla.
Ine dan yang lain hanya memperhatikan keakraban Nayla dengan kedua remaja putri itu.
"Lola kamu diantar siapa ke sini?" tanya Nayla karena hanya melihat Lola sendirian.
"Sama Mama" Terdengar suara m.ama Rita yang berada di pintu kamar sedang berjalan mendekati Nayla.
David melihat mama Rita yang datang cukup terkejut.
"Mengapa ibu direkturnya bisa datang kerumah sakit dan mengenal Nayla" batinnya.
"Lola terlambat mengabari Mama, jadi Mama baru datang sekarang" ucap mama Rita sambil mengusap-usap rambut Nayla.
"Tidak apa-apa Ma, terima kasih Mama sudah mau datang" jawab Nayla dengan senyum manisnya.
Sementara Sofi dan Ine bersikap biasa saja dengan kehadiran mama Rita. Tentu bukan hal aneh kalau istri dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja mengunjungi Nayla setelah mereka tahu hubungan Sandy dan Nayla.
Ine mengajak rekan tim nya untuk pamit karena sudah terlalu lama mereka di sana dan sudah ada mama Rita yang menemani Nayla.
"Nayla, kami pamit. Semoga cepat sembuh" ucap Ine yang di ikuti David, Sofi dan Fian untuk berpamitan pada Nayla.
Sandy dan Zein masuk saat Ine dan yang lain akan keluar, tampak pengantin baru juga ada di belakang mereka.
"Kami pamit Pak" ucap Ine sambil menunduk hormat pada Sandy dan hanya di jawab dengan anggukan kecil yang hampir tidak terlihat diikuti oleh rekan timnya yang lain.
Shinta dan Reyhan mendekati mama Rita mereka menyapa dan menyalimi mama Rita.
"Hemm pengantin baru bagaimana kabar kalian?" tanya mama Rita.
"Baik tante" jawab keduanya bersamaan.
__ADS_1
"Nay, teteh pulang dulu yaa, cepat sembuh dan jangan lupa makan, itu sudah teteh bawakan kesukaanmu" pamit Shinta pada Nayla.
Kedua penganti baru berpamitan pada mama Rita dan semua yang ada disana. Sementara itu di sofa Zein sedang membujuk Putri untuk pulang dan Istirahat di rumah.
"Ayo Put kita pulang" ajak Zein.
"Putri masih mau sama Tante Nay, Om, dirumah Putri sendiri, Putri juga ingin menginap disini" pintanya pada Zein.
"Kalau begitu Putri menginap di rumah Oma saja berdua Lola, bagaimana?" ajak mama Rita.
Setelah dibujuk akhirnya Putri si anak manja itu mau menginap di kediaman mama Rita berdua Lola.
"Mama pulang sayang" pamit mama Rita pada Nayla setelah Putri setuju untuk menginap di rumahnya.
"Hans jaga Lala baik-baik, Mama pulang dulu" pesan mama Rita pada Sandy saat berpamitan.
"Jangan lupa bersihkan dirimu, mama sudah bawakan pakaian ganti" sambung mama Rita sambil menunjuk paper bag yang tadi di bawanya.
Kini tinggal Nayla berdua Sandy di kamar inap VIP tersebut. Sandy mendekat pada Nayla di kecupnya kening Nayla dan duduk disisi tempat tidur.
"Ada apa A?" tanya Nayla melihat Sandy seperti tampak memikirkan sesuatu.
"Maaf kan aku" ucap Sandy sambil mengenggam tangan Nayla. Dia teringat ucapan Shinta kalau Devi menabrak Nayla karena dirinya.
"Apa kau sudah mengetahui siapa yang menabrakku?" tanya Nayla dan mendapat anggukan dari Sandy.
"Devi" jawab Sandy
"Devi?" beo Nayla.
"Tidak mungkin" gumam Nayla.
Sandy menceritakan apa yang tadi mereka bicarakan diluar kalau Shinta sangat yakin Devi melakukan ini karena ingin mendekati Sandy.
"Sepertinya bukan karena dendam" jawab Shinta.
"Lalu karena apa?" tanya Alex penasaran.
"Karena laki-laki yang akan jadi taget Devi selanjutnya" ucap Shinta sambil melihat kearah Sandy.
"Karena aku?" tunjuk Sandy pada dirinya sendiri dan diangguki oleh Shinta.
Shinta sangat yakin kalau Devi ingin mendekati Sandy seperti yang biasa dia lakukannya. Shinta mengatakan pada Sandy dan yang lain kalau Devi rela tidur dengan laki-laki demi mewujudkan keinginanya, mendapatkan harta dan perusahaan dari laki-laki yang di kencaninya.
"Aku tidak yakin kalau Devi yang melakukannya A" ucap Nayla setelah mendengar cerita Sandy.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Bukankah sudah jelas itu mobil milik Devi" jawab Sandy yang tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Nayla.
"Karena Devi sudah berjanji padaku, dia tidak akan mengganggu ku lagi A" ucap Nayla.
"Maksudnya?" tanya Sandy yang tidak mengerti.
flash back
Nayla sedang membantu desain interior di Cafe Zain yang baru. Di tengah kesibukannya seseorang memanggilnya.
"Nayla" Nayla melihat kearah sumber suara yang memanggilnya.
"Devi" ucap Nayla tidak percaya.
"Apa aku bisa bicara denganmu sebentar saja?" Devi meminta waktu pada Nayla.
Nayla mengajak Devi duduk di sudut cafe menjauh dari para pekerja yang membantunya di cafe.
"Aku tidak bermaksud jahat kepadamu hanya saja aku iri dengan kehidupanmu" ucap Devi membuka pembicaraanya dengan Nayla
"Aku tidak pernah membencimu bahkan aku sangat mengagumimu"
"Aku sangat ingin berteman dengan mu, tapi aku merasa tidak pantas. Aku sering merendahkanmu hanya agar kau memperhatikanku" Devi mengatakan apa yang dia rasakan sebenarnya.
"Kenapa harus malu jika ingin berteman denganku?" tanya Nayla.
"Aku merasa kotor bila berada di dekatmu. Aku sering bersama banyak pria bahkan tidur dengan mereka, tapi itu bukan karena keinginaku" mata Devi mulai berkaca-kaca.
"Papa ku yang telah membuat aku seperti ini. Dia menjualku untuk medapatkan perusahaan yang diinginkannya" Devi mengatakannya sambil menahan sesak didadanya.
"Kau bisa menolaknya kalau kau tidak ingin melakukannya" Nayla mencoba memberi saran.
"Aku tidak bisa, papa selalu mengancam akan menyakiti mamaku" terdengar suara tangisan Devi.
Nayla mendekati Devi dan memeluknya. Devi terus menangis dalam pelukan Nayla sampai sesak di dadanya menghilang. Menceritakan apa yang dia rasakan pada Nayla membantunya meringankan beban yang dia rasakan selama ini.
"Aku minta maaf dan aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi sampai kapanpun" ucap Devi yang langsung pamit dan meninggalkan Nayla.
"Kalau bukan Devi, lalu siapa yang ada di mobilnya?" tanya Sandy yang semakin tidak mengerti.
"B" Nayla melihat Bob di depan pintu kamar inapnya.
"Siapa B?" tanya Sandy yang tidak melihat Bob datang.
Bob berjalan mendekat kesisi tempat tidur Nayla dan memberikan buket bunga yang di bawanya.
****************************
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir di karya author tinggalkan jejak kalian dengan like dan komen. 🙏🙏🙏🙏🙏