AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
75. SAMA SEPERTI DULU


__ADS_3

Hari ini sejak subuh para penghuni kediaman Nayla sudah terlihat sibuk, Ayah Dimas mengajak mereka ke Lembang pagi ini. Tidak ketinggalan Zein dan Mery juga sudah bersiap-siap, sejak semalam mereka ikut menginap setelah di beri kabar oleh Ayah Dimas. Yang membuat suasana lebih ramai adalah Putri dan Lola yang selalu ribut dengan Sandy, apa lagi kalau bukan memperebutkan perhatian Nayla.


"Kalian ikut Om Zein saja" pinta Sandy pada Putri dan Lola saat keduanya sibuk bermanja dengan Nayla.


"Tidak...." jawab Putri dan Lola bersamaan. Bagi mereka itu sama saja keluar dari kandang harimau masuk ke kandang singa, karena Zein lebih bisa membuat mereka menangis.


"Iya papi... kami janji gak akan nakal" jawab Lola merayu Sandy.


"Kami juga gak akan ganggu mami, janji" sambung Putri membantu Lola merayu Sandy.


"Akhh kalian kalau ada maunya aja papi mami" jawab Sandy yang sebenarnya tidak bisa marah pada keduanya.


Lola dan Putri sama-sama memeluk lengan Sandy di kedua sisinya, dan mengajak laki-laki yang jadi ayah kedua bagi mereka berjalan ke kendaraan yang akan mereka tumpangi.


Mereka sekarang dalam perjalanan dan sudah memasuki wilayah Lembang, di tengah jalan Sandy membelokkan arah kendaraannya.


"Om, kok belok?" tanya Putri yang sudah cukup hapal jalan ke rumah orang tua Bunda Aisyah.


"Kita ke suatu tempat yang kalian pasti suka" jawab Sandy pada kedua anak asuhnya.


Di kendaraan yang berbeda, Mery melihat kendaraan yang dikendarai Sandy berbelok.


"Mereka mau kemana Zein?" tunjuk Mery pada kendaraan Sandy yang berbelok.


"Mereka ke danau" Bunda Aisyah yang menjawab saat melihat kearah mana Sandy berbelok dan itu satu-satunya jalan ke danau.


"Danau? danau tempat biasa mereka bermain ya bun?" tanya Mery sambil melihat bunda yang ada disampingnya.


Bunda Aisyah mengangguk membenarkan ucapan Mery sambil tersenyum, ingatan Bunda Aisyah kembali saat Nayla kecil yang tidak mau diajak ke danau setelah Sandy pindah ke Inggris bersama keluarganya.


"Mbak Nay, ayo kita ajak adik Eza jalan-jalan dipinggir danau" ajak Bunda Aisyah sambil menggendong Baby Eza.


"Nay tidak mau bunda" ucapnya dengan wajah cemberut dan berlari pergi kekamar.

__ADS_1


Bunda Aisyah yang mengikuti Nayla ke kamar menghentikan langkahnya saat mendengar suara tanggisan Nayla. Bunda hanya menggelengkan kepalanya, putrinya itu sangat ingin kedanau tapi tidak ingin kecewa karena menyadari kalau Sandy tidak ada disana. Untungnya itu tidak berlangsung lama, saat kunjungan yang ketiga kalinya ke Lembang Nayla sudah kembali mau di ajak mengunjungi danau walau dia kembali kecewa karena danau di renovasi dan banyak tempat kenangan mereka yang tergusur.


"Kalian kalau mau menyusul ke danau antarkan Ayah dan bunda dulu" pinta Ayah Dimas pada Zein yang ingin segera istirahat.


Sandy memarkirkan kendaraanya di bawah pohon yang cukup rindang, dia mengajak turun Nayla dan kedua keponakannya.


"Waw keren tempatnya?" ucap Lola saat melihat pemandangan sekitar danau.


Nayla turun dari kendaraan, matanya tidak berkedip saat melihat semua kembali seperti dulu saat pertama kali dia bertemu Sandy.


"Hans" ucap Nayla yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Dua tahun setelah Sandy pergi, aparat desa setempat merenovasi sekitaran danau. Ada perasaan marah dan kesal saat itu tapi Nayla masih sangat kecil, dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan perubahan yang dilakukan pemerintah daerah dan aparat desa setempat.


"Kamu suka La?" tanya Sandy berbisik di belakang Nayla sambil memeluk istrinya itu dan menyandarkan dagunya di pundak Nayla.


"Kamu yang membuatnya kembali seperti ini sayang? Bagaimana bisa?" tanya Nayla tidak percaya.


Sandy sengaja menemui aparat desa dan membicarakan untuk merenovasi sekitar danau dan menanggung semua biaya. Dia melakukannya setelah mendengar cerita dari Bunda Aisyah tentang Nayla yang kecewa pada perubahan yang dilakukan pemerintah setempat.


Bak gayung bersambut, keinginan Sandy disambut baik karena sudah lama mereka mengajukan biaya perbaikan di sekitar danau namun belum ada anggaran yang disisihkan untuk itu. Mendapat kesempatan baik, Sandy membuat sekitar danau kembali seperti dulu dan ditambah beberapa sarana yang mendukung untuk bisa dinikmati anak-anak sekarang yang suka mengabadikan moment mereka.


"Kita kesana" tunjuk Sandy pada bangku pinggir danau, diletakkan di tempat yang sama seperti dulu tempat mereka biasa duduk berbagi cerita setelah lama tidak bertemu.


Duduk di tempat yang sama saat seperti dulu membuat keduanya sama-sama tersenyum, begitu banyak waktu yang dilalui kini mereka kembali duduk ditempat yang sama dengan status yang berbeda.


Sementara itu Alex yang sedang menikmati waktunya bersama Citra harus menahan diri saat Dea memanggil Citra dan tidak akan berhenti sebelum bertemu bundanya.


"Bunda.... bunda.... lihat ini" teriak Dea di depan kamar papinya.


"Kak" panggil Citra agar Alex melepaskan pelukannya. Alex menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar karena kesal.


"Temui dulu anakmu" ucap Alex dan langsung mendapat bantahan dari Citra.

__ADS_1


"Dia anakmu" jawab Citra menginggatkan Alex yang selalu saja mengatakan Dea adalah anak Citra.


"Iya... anak kita" balas Alex sambil mencium cepat bibir istrinya.


Dea langsung memperlihatkan foto-foto Putri dan Lola di danau yang ada di media sosial milik keduanya begitu berhadapan dengan Citra dan Alex.


"Dea mau kesani bunda, sama Teteh Putri dan Teteh Lola" pinta Dea.


"Iya kita susul mereka" jawab Alex membuat Dea berteriak kesenangan.


Bukan tanpa alasan Alex menuruti keinginan Dea, tapi ada udang dibalik batu alias ada maksud tertentu yang dia rencanakan. Dia tersenyum puas saat membayangkan apa yang direncanakannya bisa berhasil. Citra menatap curiga pada laki-laki yang baru satu hari jadi suaminya.


"Kenapa?" tanya Alex melihat pandangan Citra tidak biasa.


"Papi merencanakan sesuatu?" tanya Citra menyelidiki maksud Alex.


"Tidak ada" jawab Alex bohong,


"Bersiap-siaplah" lanjutnya sambil berlalu keluar kamar.


Sedangkan Mery yang baru sampai di danau langsung memandang takjub pada keindahan alam yang ada disana, dia dapat melihat Nayla dan Sandy yang duduk di tepi danau.


"Pantas saja tempat ini tidak bisa kalian lupakan" gumam Mery sambil tersenyum melihat kemesraan dua insan yang sedang mengenang masa lalu.


"Zein, aku suka tempat ini" ucap Mery saat Zein mendekat.


"Udaranya sangat segar, bagus untuk baby kita" lanjutnya sambil mengusap perutnya.


"Kita bisa sering-sering kesini kalau kamu suka tempat ini" jawab Zein dan mendapat anggukan senang dari Mery.


Semua berkumpul duduk dibawa pohon setelah Sandy dan Zein membentangkan alas duduk yang sudah disiapkan Sandy, menikmati makanan ringan yang mereka bawa dari Bandung sambil bercengkrama.


...***********************...

__ADS_1


__ADS_2