
Ine dan sofi baru saja sampai di ruangan mereka tapi langsung mendapat pertanyaan dari Fian.
"Kalian dari rumah sakit?Bagaimana keadaannya?" tanya Fian pada keduanya.
"Hanya luka luar tapi tadi dia belum sadarkan diri" Ine yang menjawab pertanyaan Fian.
"Siapa yang sakit?" tanya David, karena dia setelah selesai meeting langsung pergi menemui Dewa dan kembali kekantor mendapati suasana tenang seperti biasa, tidak ada tanda-tanda kalau habis terjadi sesuatu.
"Nayla" jawab Sofi.
"Nayla? Apa yang terjadi dengannya?" kali ini Dewa yang bertanya.
Ine dan Sofi menceritakan apa yang terjadi dengan Nayla pada Dewa dan David. Mereka juga memberitahu kalau menurut Sandy sepertinya ini kesengajaan.
"Kenapa Pak Sandy sangat perhatian sama Nayla?" ucap David pelan tetapi bisa di dengar yang lain.
"Karena Nayla itu adik istri sahabatnya dan juga sebagai karyawannya, wajar kalau dia menolong Nayla apa lagi saat kejadian dia sedang berada disana bersama Pak Alex" jawab Ine.
"Kalau Dewa yang jadi menikah dengan Shinta kamu juga akan melakukan hal yang sama, melakukan apa yang dilakukan Pak Sandy" lanjut Ine agar David tidak mengetahui hubungan Sandy dan Nayla.
"Kang David cemburu yaa?" ucap Sofi menggoda David.
"Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada wanita secantik dan sebaik dia" lirih David, karena sejak pertama melihat Nayla dia merasa berbeda dengan perasaanya terlebih setelah satu bulan ini dia mengenal sifat Nayla.
"Jangan bermimpi untuk mendapatkan dia" ucap Dewa yang mendengar ungkapan David.
"Kenapa?" malah Sofi yang bertanya.
"Kalian akan tahu sendiri nanti siapa dia sebenarnya" Dewa membiarkan mereka semua penasaran dengan Nayla.
"Tapi siapa yang tega mencelakai orang sebaik Nayla" lirih Dewa.
Ine dan Sofi hanya diam, tidak mungkin menceritakan kalau ini bisa saja karena orang yang tidak suka hubungan Nayla dan Sandy.
Di rumah sakit tepatnya di kamar rawat inap Nayla, Sandy sedang menyuapi Nayla yang belum sempat makan siang. Zein membelikan makanan untuk mereka di kantin rumah sakit setelah tahu Sandy dan Nayla belum sempat makan siang.
"Aaa.. sayang, makan yang banyak biar cepat pulih" ucap Sandy sambil menyodorkan sendoknya kemulut Nayla.
"A Hans kau juga belum makan, kita makan berdua saja" pinta Nayla.
Sandy menuruti kemaun Nayla karena memang dia juga sudah merasa sangat lapar.
Tok..tok...
Alex mengetuk pintu kamar rawat inap Nayla dan langsung membukanya sendiri. Sandy melihat Alex yang datang langsung menanyakan perkembangan kasus Nayla.
__ADS_1
"Bagaimana? Informasi apa yang kamu dapatkan?" tanyanya pada Alex.
"Kita bicarakan nanti, kalau kalian sudah selesai makan" ucap Alex sambil duduk di sofa menemani Putri yang tertidur.
"Kasihan anak ini" gumamnya melihat Putri yang kelelahan.
"Ada apa A?" tanya Nayla pada Sandy setelah dia mendengar percakapan Sandy dan Alex.
"Tidak ada, aku hanya meminta Alex mencari tahu siapa pemilik mobil yang menabrakmu" jawabnya sambil terus menyuapi Nayla.
Sandy melihat box makan yang dipegangnya sudah kosong habis tak bersisa. Sandy tersenyum melihat itu, mereka berdua sama-sama kelaparan.
"Istirahatlah, kamu masih pucat dan lelah" kecup Sandy kepala Nayla setelah mereka selesai makan. Nayla hanya mengangguk dia memang masih merasa lelah dan seluruh badanya terasa sakit.
Sandy mendekat pada Alex. Baru saja dia duduk terdengar ada yang membuka pintu, ternyata Mery dan Zein diikuti Shinta dan Reyhan.
Shinta langsung mendekat pada Nayla dan menciumi adiknya itu.
"Masih terasa sakit?" tanya Shinta pada luka yang ada di kaki dan tangan Nayla yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Nayla.
Mery dan Shinta menemani Nayla dan juga Putri yang baru saja terbangun. Sedangkan para pria memilih keluar kamar dan membahas apa yang di temukan Alex.
Tidak lama setelah kepergian para pria di kamar rawat inap Nayla, Ine dan Sofi datang berkunjung.
"Ine" panggil Shinta pada temanya itu.
"Hai pengantin baru apa kabar? Makin cantik aja, udah dapet yang enak-enak yaa." goda Ine pada Shinta sambil tertawa diikuti yang lain.
"Terima kasih, Teteh Ine dan Teteh Sofi sudah mau datang menjengguk" ucap Nayla.
"Kami tadi siang juga sudah disini, tapi kamu belum sadarkan diri" jawab Sofi.
Tidak lama Fian, David dan Dewa datang menyusul Ine dan Sofi masuk ke kamar rawat inap Nayla. Suasana kamar tiba-tiba hening terlihat kecanggungan antara Dewa dan Shinta.
Dewa terdiam menatap Shinta tidak menyangka akan bertemu disini. Sedangkan Shinta yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Dewa memutuskan untuk menyusul Reyhan suaminya yang ada di luar.
"Teteh nyusul abang Rey ya Nay" pamit Shinta pada Nayla.
Nayla mengiyakan ucapan Shinta. Dia sangat paham apa yang dirasakan saudarinya itu.
"Shinta" Dewa memanggil Shinta saat akan keluar.
"Maaf kan aku" sambungnya lagi.
Shinta tidak menjawab perkataan Dewa dia langsung keluar diikuti Mery yang akan menemui Zain untuk mengantarkan Putri pulang ke rumah.
__ADS_1
Alex memutarkan CCTV saat kejadian, tampak jelas Nayla yang masih berada di pinggir akan menyeberang ke arah parkiran tiba-tiba ditabrak dari sisi mobil yang menyebabkan dia terpental dan tergeletak di depan tangga loby.
"Mobil itu atas nama Pak Gunawan yang akan mengadakan kerjasama dengan perusahaan kita" ucap Alex menjelaskan.
"Dan kebetulan sekali kita akan melakukan pertemuan siang ini setelah istirahat siang dengan perwakilan perusahaan Pak Gunawan yang akan diwakilkan oleh putrinya" lanjut Alex menjelaskan.
"Lalu apa motifnya?" tanya Sandy yang tidak mengerti mengapa urusan kerjasama perusahaannya melibatkan Nayla yang jadi korban.
"Itu yang belum bisa aku ketahui" jawab Alex, sebab dia masih mengumpulkan informasi terkait perusahaan Pak Gunawan dan siapa putrinya.
Alex menerima telepon dari bawahannya kalau perwakilan perusahaan Pak Gunawan menunggu mereka di perusahaan tapi bukan putrinya yang datang. Sementara Reyhan yang membantu Alex mencari informasi tentang putri pak Gunawan menemukan profil pribadinya dan akun sosial medianya.
"Ini orangnya" ucap Reyhan sambil menunjukkan hasil pencariannya. Semuapun melihat pada laptop Alex yang di pakai Reyhan.
"Aku seperti pernah melihatnya" gumam Zein sambil mencoba mengingatnya.
Shinta datang bersama Mery mendekati mereka yang masih sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ada apa?" tanya Shinta pada semuanya.
Reyhan membalikan layar laptop lalu mengarahkan pada Shinta dan Mery.
"Apa kalian mengenal dia" tanya Reyhan pada keduanya.
"Devi" jawab keduanya hampir bersamaan.
"Kalian kenal?" tanya Sandy.
"Iya dia satu angkatan dengan Nay tapi beda jurusan. Dia sangat membenci Nayla tanpa sebab. Dia orang yang selalu menghina Nay miskin dan dekat dengan Bob karena harta dan dia juga yang aku temui sedang tidur dengan Dewa" jawab Shinta lirih karena mengingatkannya lagi dengan Dewa yang menghianatinya.
Reyhan berdiri mendekati istrinya lalu memeluk istrinya dari samping, dia sudah tahu cerita tentang Dewa dari Shinta sendiri.
"Dan dia yang kami permalukan di Cafe Zain karena akan bertunangan dengan kekasih Citra" ucap Mery.
"Kak Sandy ingatkan waktu kami bermain drama tanpa skenario" tanya Mery.
Sandy menggangguk sekarang dia mengerti mengapa seperti pernah bertemu dengan wanita itu. Zain pun baru ingat kalau dia melihat wajah ini di kamera CCTV cafe nya setelah mendengar cerita Mery tentang kekasih Citra.
"Apa dia dendam pada Nayla? Dan saat melihat Nayla dia langsung menabraknya" ucap Mery.
"Sepertinya bukan karena dendam" jawab Shinta.
***************************
Terima kasih sudah mampir di karya author tinggalkan jejak kalian dengan like dan komen. 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1